Evolusi tak pernah bisa menjelaskan alasan keberadaaan dirinya sendiri secara komprehensif, semua nalar yang diungkapkan banyak mengandung pemaksaan akan sesuatu dan lebih cenderung dogmatik. Keberadaan keadaan acak untuk kelahiran sebuah spesies baru tak dapat dinalar. Kenapa ? Karena banyak sekali makhluk2 hasil evolusi tersebut adalah makhluk2 yang butuh mengalami perkawinan untuk melanjutkan spesiesnya. Bisa dihitung bahwa kemungkinan adanya 2 makhluk kompatibel yang secara acak dilahirkan dari sebuah spesies yang luar biasa berbeda dari anaknya tersebut pada satu rentang masa hidup yang sama dan pada satu tempat yang sama adalah nol. (well, 1 pangkat -1e5 sih).
> -----Original Message----- > From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Wednesday, May 04, 2005 3:13 PM > To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED] > Subject: Re: [iagi-net-l] Perkampungan "Pygmi" di Flores > > > Baru respon lagi ni setelah jalan ke luar dua minggu ini. > > Menarik menanggapi pendapat Dr. Etty Indriati dalam artikel > yang di-posting Rovicky di bawah. > > copied : > > <<Klaim mengenai penemuan spesies baru manusia seperti di atas ditolak > oleh sejumlah ahli. Etty Indriati PhD dari UGM menyebutnya sebagai > dongengan tanpa dasar. Bagaimana bisa ada pernyataan spesies baru > hanya dari temuan sebuah tengkorak yang bahkan keliru diidentifikasi. > Mereka sebut perempuan sedang dari susunan geraham dan giginya jelas > itu lelaki dan juga manusia masa kini. > > "Yang lebih tidak masuk akal, tidak mungkin otak manusia yang sudah > berkembang menjadi Homo sapiens, kemudian berubah mengecil dan lantas > muncul menjadi spesies baru, tertinggal sebagai kelompok manusia > purba," jelasnya.>> > > Komentar : > > Menurut saya, pendapat itu dilatarbelakangi oleh miskonsepsi > dalam memahami evolusi. Pemahaman evolusi banyak ditandai > dengan miskonsepsi. Misalnya, miskonsepsi dalam nature > selection : bigger is better, newer is better, natural > selection always works, there is inevitable direction in > evolution. Dengan miskonsepsi ini, maka disalahpahami bahwa > volume otak hominid harus bertambah besar dengan berjalannya > evolusi karena memang trend/arahnya demikian. Miskonsepsi ini > banyak disebabkan oleh idea populer abad ke-19, yaitu > "orthogenesis" : bahwa evolution would continue in a given > direction because of a vaguely defined nonphysical inner > force. Jadi menurut idea ini maka perubahan evolusi akan > berlanjut dalam arah yang sama sampai tercapai struktur yang > sempurna atau sampai spesies punah. > > Karena idea orthogenesis pula maka ada common belief bahwa > hominid atau manusia akan berevolusi dengan otak yang semakin > besar sebab meneruskan trend sebelumnya. Idea ini sebenarnya > telah dibuktikan tidak selalu berlaku. Ada banyak fossil > record yang menunjukkan nonlinear change, dan banyak contoh > bahkan menunjukkan pembalikan dalam ukuran2 struktur. > > Dalam kasus manusia/hominid, volume otak sebenarnya berhenti > membesar sekitar 50.000 tahun yang lalu (dari > Australopithecus afarensis sampai Homo soloensis memang > membesar terus). Ukuran rata-rata otak manusia bahkan sejak > itu cenderung sedikit berkurang sebagai konsekuensi penurunan > umum dalam ukuran rangka (Henneberg, 1988 : decrease of human > skull size in the Holocene, dalam Human Biology 60, p. > 395-405). Nah, harap diperhatikan bahwa umur fosil Homo > floresiansis itu ada di sekitar 50.000 tahun yang lalu juga. > > Orthogenesis (linear trend of evolution) tak selalu berlaku, > itu akan dipengaruhi oleh tiga faktor : environment, present > genetic variation, dan basic biological limits. Perubahan > evolusi juga akan dipengaruhi oleh relative costs dan > benefits perubahan itu sendiri. Volume otak manusia bisa saja > terus membesar, tetapi itu juga harus diimbangi oleh > pembesaran tulang2 sekitar panggul (pelvic). Nah, pembesaran > pelvic yang proporsional dengan pembesaran volume otak, akan > menyulitkan manusia berjalan. > > Kalau ingat gambar2 manusia masa depan di film/komik > science-fiction maka sering ditampilkan berkepala ekstra > besar (karena anggapan bahwa volume otak semakin bertambah > dengan semakin cedas) tetapi dengan tubuh ukuran biasa > seperti sekarang. Nah, inilah salah kaprah karena orthogenesis. > > Menurut saya, idea orthogenesis pula lah yang menyebabkan > silang pendapat fosil Homo floresiansis itu. Dengan kata > lain, saya berpendapat bahwa Homo floresiansis bisa saja > lebih cerdas dari Homo erectus (dulu disebut Pithecanthropus > erectus) sekalipun ukuran volume otak Homo floresiansis lebih > kecil dibandingkan volume otak Homo erectus walaupun hominid2 > Flores ini jauh lebih moderen di evolusi hominid. Buat saya, > penemuan Homo floresiansis sekali lagi menunjukkan bahwa > evolusi tak selalu terjadi dengan linier ala orthogenesis. > Maka, bukan suatu hal yang tak masuk akan kalau volume > manusia moderen mengecil dibanding manusia purba. > > Tentang perkampungan pygmi yang ditemukan tak jauh dari Liang > Bua itu, dan dicurigai bahwa fosil Homo floresiansis itu > bagian dari masyarakat perkampungan itu gampang saja > mengetesnya, lakukan saja tes radiometric age dating pada > fosil tsb dan perbandingan anatomi tengkoraknya dengan > masyrakat pygmi itu. Perbedaan umur 40.000 tahun mestinya > sudah menunjukkan bahwa fosil ini memang spesies baru dan > bukan bagian dari masyarakat pygmi. Homo sapien berkembang > 10.000 tahun yl sejak Holosen. Kalau Homo floresiansis > kemudian menurunkan masyarakat pygmi itu, nah skenario > evolusinya pas.. > > Salam, > awang > > Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Cukup menarik berita ini. Kalau bener bahwa floresiensis ini > sebenernya > "masih hidup", maka pertempuran T Jacob masih berlanjut > terus. Flores banyak > menyimpan "pygmi" (kerdil). Mungkin kondisi alamnya yg unik sehingga > meninggalkan "fosil hidup". > > RDP > =================== > http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/28/humaniora/1714417.htm > > KEBERADAAN perkampungan masyarakat pygmi (katai) di Kabupaten > Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), amat menarik > sekaligus menyisakan misteri. Dalam konteks temuan arkeologis berupa > kerangka manusia prasejarah dari Liang Bua di Flores-sempat > dipublikasikan secara luas sebagai spesies bernama Homo floresiensis- > keberadaan masyarakat pygmi di Dusun Rampasasa, Kelurahan Waemulu, > Kecamatan Waeriri, itu boleh jadi bisa mematahkan semua argumentasi > terdahulu. > > "Keberadaan masyarakat pygmi di sana sangat menarik sekaligus > mengejutkan. Selama bertahun-tahun, para ahli dari berbagai penjuru > dunia hanya sempat melihat jejak-jejak mereka, ternyata sekarang kita > bisa menemukan mereka hidup bermasyarakat. Artinya, selama ratusan > atau bahkan mungkin ribuan tahun, masyarakat katai tersebut tetap > menetap di tempat itu tanpa pernah berpindah-pindah," kata Prof Dr > Teuku Jacob, guru besar emiritus Universitas Gadjah Mada (UGM). > > Jacob yang juga memimpin Laboratorium Bio dan Paleoantropologi UGM > lebih lanjut menjelaskan, "Orang katai memang sempat dilaporkan > pernah ada di Andaman dan Papua, tetapi tinggal beberapa orang dan > sudah sulit ditemukan sebab sudah hidup berpencar. Nah, sekarang kita > bisa menemukan mereka hidup bersama di satu desa." > > Sudah sejak tahun 1920-an, wilayah NTT menjadi obyek minat para > antropolog, terutama dari Belanda, sesudah melihat kenyataan bahwa > penduduk setempat mempunyai ukuran tinggi badan agak pendek. Hasil > penelitian Biljmer tahun 1929 menunjukkan, lebih dari 50 persen > penduduk di wilayah tersebut memiliki ukuran tinggi badan sekitar 155 > sampai 163 cm. Selain itu, di Flores memang sudah sejak lama beredar > cerita rakyat mengenai orang-orang bertubuh pendek dengan warna kulit > kehitam-hitaman (negrito) yang tinggal di perbukitan, bersembunyi > dalam gua-gua. > > Dr Theodore Verhoeven, pastor dari Seminari Ledalero Maumere, pada > tahun 1958 bahkan memperkirakan orang-orang bertubuh pendek tersebut > adalah masyarakat Proto-Negrito. Istilah ini merujuk penelitian > Schebesta di Andaman, pelosok Borneo (Kalimantan), dan juga di > Filipina Selatan. > > Menurut Teuku Jacob, kalau tinggi orang Negrito berkisar antara 155 > sampai 163 cm, maka sebutannya pygmoid. Tetapi masyarakat di > Rampasasa adalah pygmi, katai, karena tinggi badan mereka di bawah > 145 cm untuk laki-laki dewasa dan wanita dewasanya malah hanya > sekitar 135 cm. Berat badan pria maksimum 40 kg dan wanitanya rata- > rata 30 kg. > > Katai memang beda dengan kerdil. Sebab, istilah kerdil menunjukkan > ukuran tubuh mengecil dengan proporsi rusak atau tidak beraturan. > Sementara katai ukurannya kecil secara proporsional. > > > AKHIR tahun lalu, tim bersama pimpinan Prof Dr RP Soejono dan Dr MJ > Morwood yang melakukan penggalian di Liang Bua, Flores, menemukan > tengkorak manusia dengan taksiran tinggi badan 130 cm dan besar otak > sepertiga manusia masa kini. Penemuan tersebut kemudian mereka > nyatakan sebagai spesies baru manusia yang disebut Homo floresiensis > (Manusia Flores). > > Worwood, ahli lukisan gua dari Australia, bahkan menegaskan bahwa > hasil temuannya tersebut secara populer dia sebut hobbit; kelompok > manusia katai seperti muncul dalam film Lord of The Rings. Gambaran > mengenai Manusia Flores mini tersebut kemudian juga muncul sebagai > laporan utama dalam majalah National Geographic edisi bulan April > 2005. > > Klaim mengenai penemuan spesies baru manusia seperti di atas ditolak > oleh sejumlah ahli. Etty Indriati PhD dari UGM menyebutnya sebagai > dongengan tanpa dasar. Bagaimana bisa ada pernyataan spesies baru > hanya dari temuan sebuah tengkorak yang bahkan keliru diidentifikasi. > Mereka sebut perempuan sedang dari susunan geraham dan giginya jelas > itu lelaki dan juga manusia masa kini. > > "Yang lebih tidak masuk akal, tidak mungkin otak manusia yang sudah > berkembang menjadi Homo sapiens, kemudian berubah mengecil dan lantas > muncul menjadi spesies baru, tertinggal sebagai kelompok manusia > purba," jelasnya. > > Memang, untuk mamalia yang terjebak di pulau terpencil selama ratusan > tahun-dan bahan makanannya kurang-tubuhnya akan mengecil menyesuaikan > diri dengan lingkungan. "Tetapi, untuk manusia, menu mereka tidak > hanya satu jenis makanan. Meski terpencil, mereka akan berusaha > mencari atau menemukan jenis makanan lain, bukan mengecilkan tubuh," > tambahnya. > > Teuku Jacob bahkan menegaskan, "Orang katai di Flores bukan manusia > purba. Tim kami malah berhasil menemukan masyarakat katai hidup di > alam modern." Semakin ironis, perkampungan orang pygmi yang > disebutkan Jacob hanya sekitar satu kilometer jauhnya dari Liang Bua, > tempat hunian dari spesies manusia yang diberi nama Homo floresiensis > oleh Worwood. > > Koeshardjono, ahli biologi yang pertama kali mengungkapkan adanya > perkampungan masyarakat katai di Flores, menyatakan, "Ekspedisi ini > diberi nama Ekspedisi Somatologi Pygmi Rampasasa. Karena, masyarakat > katai tersebut-jumlahnya sekitar 77 keluarga-tinggal semuanya di > Dusun Rampasasa, Kelurahan Waemulu, Kecamatan Waerii, Kabupaten > Manggarai, Flores Selatan." > > Hasil penelitian tim antropologi ragawi pimpinan Teuku Jacob > mencatat, 80 persen warga Rampasasa tergolong katai. Catatan > sementara menunjukkan, terdapat 10 orang dengan tinggi badan 155 cm > dan dua orang dengan tinggi 160 cm. Ternyata, ukuran tubuhnya relatif > bisa lebih tinggi oleh karena kawin dengan warga luar dusun. Tim > peneliti dari UGM berada di Rampasasa sejak 18 April dan kembali ke > Yogya Minggu (25/4) malam. (jup) > > > -- > Education can't stop natural disasters from occurring, > but it can help people prepare for the possibilities --- > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

