On 5/11/05, R.P. Koesoemadinata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Saya kira exodus itu adalah akibat dari Globalisasi, dan tidak dapat
> dihindarkan, kecuali kalau Indonesia ingin menutup diri. Sumberdaya manusia
> Indonesia, dan negara berkembang akan ramai2 pergi ke barat dn Amerika
> serikat dimana gajih lebih besar, dan orang Amerika dan Europa dll juga akan
> ke negara berkembang juga untuk cari gajih/penghasilan yang lebih besar dari
> di negaranya sendiri.

Menghilangkan sama sekali memang jelas tidak mungkin. Yang perlu
dilihat ulang adalah berhitung saja seberapa besar loss-gain yang ada.
- "real loss-gain" (current economy) akibat spent uang yg sudah
dibelanjakan, misal untuk mendidik sejak SD hingga lulus S2/S2/S3,
karena ada "invest" dari Indonesia.
- "potential loss-gain" (future/oportunity), apabila 'brain drainer'
ini dapat dikerjakan di dalam negeri.
Dari sini kita bisa melihat seberapa besar kerugian/keuntungan negara.

Tentusaja seperti artikel yg saya posting lainnya, menunjukkan adanya
"reversed braindrain" yg akhirnya mengembalikan keuntungan (gain) yg
terjadi di Thailand dan India. Tentu saja Indonesia tidak hanya
menyerahkan kejadian "brain-drain" sebagai sebuah natural fenomena
(globalisasi). Thailand dan India memiliki atau mempunyai sebuah
langkah khusus untuk mendapatkannya kembali. Dan berhasil.

Malesa sendiri awal tahun lalu sudah ada berusaha memanggil SDMnya,
namun sepertinya usaha ini belum berhasil baik. Masih banyak yg enggan
dan konon banyak yg kembali lagi ke LN.

> Saya kira adanya exodus ini sangat menguntungkan, lebih baik dari export
> TKW. Yang lebih dikhawatirkan sebetulnya dengan globalisasi ini akan banyak
> sumberdaya asing yang masuk Indonesia dan mendesak lapangan kerja, tetapi
> kelihatannya apa yang terjadi adalah timbal balik.
> RPK

Globalisasi merupakan fenomena natural, bukan bikinan. Timbal balik
ini tentusaja akan terjadi. Tetapi belum tentu terjadi dengan
sendirinya, atau dengan kata lain, kita bisa saja "berusaha"
mempercepat proses itu segera terjadi.

Kalau disisi individu warga negara dan para profesional ini tentusaja
globalisasi bisa menjadi sebuah oportunity, oportunity untu
mendapatkan kesempatan sebagai expat, mendapatkan gaji besar,
pengalaman dll atau mudahnya mereka sekedar mengungkapkan bahwa
"braindrain is a big gain" ...:)

Bahkan seperti kata Oom Teguh, dimata individu2 ini, braindrain hanya
masalah survival saja :( ....
unfortunately its may be true
"emang kamu berani bayar brapa ?" ... upst ciloko !!

salam
RDP

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke