Yang aneh justru Direktorat Metrologi tidak berdaya terhadap industri minyak, yang masih menggunakan feet, inch dan barrel. Shell yang kemudian dilanjutkan Pertamina menyatakan cadangan dan produksi dalam ton = meterkubik, atau kiloliter, tetapi sekarang ikut2an menggunakan barrel, walaupun untuk kedalaman sumur, log dsb menggunakan meter. Sebetulnya BP Migas harus mengingatkan perusahaan minyak di Indonesia bahwa secara hukum harus menggunakan sistim metrik. Saya lihat Australia dan Inggris yang belum lama berubah ke sistim metrik ukuran kedalaman sumur sdh menggunakan meter, juga di toko2 sudah menggunakan kilogram, dan tidak pound dan ounce lagi, dan pom bensin menggunakan liter, jalan2 dinyatakan dalam km. Hanya Amerika Serikat yang masih bertahan dengan sistim Inggris ini.
Dalam pertambangan digunakan istilah ounce untuk emas, short ton, long ton, tetapi sering juga metric ton.
Kita negara metrik, tetapi tidak kuasa untuk menerapkannya pada perusahaan asing, malah kita yang ikut-ikutan.
RPK
----- Original Message ----- From: "Awang Satyana" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; <[email protected]>
Sent: Thursday, May 12, 2005 3:30 PM
Subject: [iagi-net-l] Re: [Geo_unpad] 1 ons bukan 100 gram
Harusnya, teman si penulis yang di-PHK itu menunjukkan buku2 di Indonesia sebab sampai sekarang pun masih diajarkan bahwa di Indonesia 1 ons = 100 gram, 1 pound = 500 gram, sehingga 1 kg = 10 ons dan 1 kg = 2 pound. Kalau dicari di referensi asing memang tidak seperti yang berlaku di Indonesia. Nah, mengapa kok di Indonesia seperti begitu ? Akan sangat menarik untuk menelusurinya, bisa jadi ini warisan zaman dahulu alias sejak zaman Belanda.
Bukan Depdikbud/Depdiknas yang bersalah, tetapi lembaga yang mengawasi sistem ukuran (metrologi) yang mestinya memberitahukan ke masyarakat luas dan lembaga2 terkait bahwa selama ini kita menggunakan konversi yang "salah" dibandingkan dengan yang berlaku secara internasional. Kalau sudah ada pemberitahuan resmi begitu, maka saya yakin akan ada perubahan di buku2 dan kehidupan sehari2 di Indonesia. Di warung2 memang tidak peduli 250 gram itu 2 1/2 ons atau berapa, yang penting itu 250 gram, dan kita biasanya kalau mau membeli sesuatu hanya bilang "1/4 kg" dan digunakan anak timbangan 250 gram (2 1/2 ons kata kita), tapi memang tidak jarang yang kalau membeli "1 ons" maka dipakai anak timbangan 100 gram. Belum semua anak timbangan ons dimusnahkan.
Sebenarnya, 1 ons itu tidak selalu 28.35 gram seperti ditulis di bawah. Itu bergantung kepada sistem ukuran apa dulu yang dipakai. Istilah ons muncul buat sistem ukuran yang mencantumkan pound. Ada tiga : sistem avoirdupois, sistem troy weight, dan sistem apothecaries weight. Di sistem avoirdupois memang 1 ons = 1/16 pound = 28.35 gram, tetapi di sistem troy weight dan sistem apoteker, 1 ons = 1/12 pound = 31.10 gram. Nah, asal kata "ounce" sendiri itu dari bahasa Latin yang artinya seperduabelas.
Nah, Indonesia kan menganut sistem metrik, memang bukan saatnya lagi menggunakan pound atau ounce, pakai kg dan gram saja. Tapi, kalau seseorang mau mencoba resep kue dari buku berbahasa Inggris dan di situ tercantum misalnya menggunakan 2 ounce bahan anu, maka akan ditimbang 2 x 28,35 gram = 56,70 gram dan sama sekali bukan 200 gram. Tapi kalau sedang mencoba resep tulisan orang Indonesia dan diterbitkan di Indonesia maka akan sebaliknya : menimbang 200 gram dan bukan 56.70 gram. Kecuali kalau sudah ada pengumuman resmi oleh pemerintah Indonesia bahwa konversi 1 ons = 28,35 gram.
Hanya, sebuah salah kaprah akan sulit memperbaikinya. Tetapi, kesalahan memang harus diperbaiki walaupun itu sudah berjalan puluhan-ratusan tahun.
salam, awang
Lambok Parulian <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: "arie fiantisca" <[EMAIL PROTECTED]>
*1 ONS BUKAN 100 GRAM.*
PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG.
Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound
dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons(bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.
SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.
Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir. Metrologi pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan *Ons bukanlah bagian dari sistem metrik* ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound".
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 onfiltered= 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata *tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal* atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, *tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus **Indonesia**.* Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan ?
BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan.
Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan
bahwa 1 onfiltered= 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun
menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. "Racun" ini sudah tertanam
didalam otak anak kita sejak usia dini.
Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan petunjuk resmi.
TANGGUNG JAWAB SIAPA ?
Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ;
*"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan secara internasional , yang menyatakan bahwa : *
*1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?*
Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ?
Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1 onfiltered= 100 gram dan 1 pound = 500 gram ?
Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?
Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan *ons yang keliru* ini,
sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons *(Depdiknas)* = 100 gram dan 1 pound *(Depdiknas)* = 500 gram.
? Bagaimana "Ons dan Pound *(Depdiknas)*" ini dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.
HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.
Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang
merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.
Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.
Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia. Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan.
Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang-Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.
Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat. Janganlah malah diperberat dengan *pelajaran sampah* yang justru bakal
menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.
Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat.
ACUAN MANA YANG BENAR ?
Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan
juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. *(maaf, ini bukan promosi)* menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi.
Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.
*Salah satu* konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).
1 ounce/ons/onfiltered= 28,35 gram *(bukan 100 g.)*
1 pound = 453 gram *(bukan 500 g.)*
1 pound = 16 ounce *(bukan 5 ons)*
Atau teman-teman coba lakukan konversi berat tersebut pada situs internet yang ada misalnya di website www.worldwidemetric.com atau yang lainnya.
Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep
obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram.
Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ?
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!! Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan. (*ini hanya
gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)*
KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?.
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan
pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons dan
pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan
disertai kejelasan asal-usul serta *rumus konversi yang benar*. Hal ini
untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.
*# # # # # *
*Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun
elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa.
Dipersilahkan mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing.*
*Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat umum, untuk diketahui secara luas.*
* Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan
kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan diperbanyak / difoto copy dan disebar-luaskan sendiri.*
* *
*Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan menanyakannya langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat dikota anda berada.
-- ___________________________________________________________ Sign-up for Ads Free at Mail.com http://promo.mail.com/adsfreejump.htm
Moderators: Budhi Setiawan '91 <[EMAIL PROTECTED]> Edi Suwandi Utoro '92 <[EMAIL PROTECTED]> Sandiaji '94 <[EMAIL PROTECTED]> Wanasherpa '97 <[EMAIL PROTECTED]> Satya '2000 <[EMAIL PROTECTED]>
--------------------------------- Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Geo_Unpad/
To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
Discover Yahoo!
Stay in touch with email, IM, photo sharing & more. Check it out!
--------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

