wah malam sabtu lagi santai, ikutan juga nimbrung ah.......
Dulu waktu kita mulai waspada dengan globalisasi, kita ketakutan karena tenaga kerja asing yang lebih trampil dan relative murah akan membanjiri Indonesia dan kita2 tidak bisa atau susah bersaing.
memang ada unsur pandang enteng dalam hal ini. tetapi itulah yang ramai dibahas pada saat itu.
setelah terjadi sebaliknya maka yang "lari" keluar yang disalahkan.
seperti yang saya katakan sebelumnya dalam email yang lain. memang tergantung dari sisi mana kita berada, kita bisa membuat justifikasi apa saja.
Sekarang kita lihat saja efek nya pada industri migas di Indonesia, apakah ada efek nya dengan kegiatan eksplorasi dan produksi ? tolong beritahu kami . . . . .
tolong dipisahkan antara ke-engganan investor untuk melakukan investasi di Indonesia dengan kurangnya tenaga kerja. Kalau benar kekurangan tenaga kerja professional lah yang penyebab menurunnya kegiatan E&P. terus kira2 solusi nya apa? mari kita diskusi kan bersama, mungkin bisa jadi masukan untuk industri perminyakan di Indonesia.
saya pribadi dengan hasil pengamatan yang boleh dikatakan jauh dari sempurna berpikir bahwa tidak ada pengaruh berpindahnya tenaga kerja ke LN yang menjadikan menurunnya kegiatan E&P di Indonesia.
Banyak dari tenaga kerja yang sekarang bekerja di LN yang dulu di Indonesia masuk dalam "redundancy list" atau apapun namanya. jadi secara kasarnya tidak terpakai di Indonesia, kalau tidak dibutuhkan di industri migas di Indonesia masak harus pindah profesi supaya tetap kerja di Indonesia.... lah tau nya cuma itu karena sudah bekerja 10 tahun ke-atas atau malah 20 tahun keatas.
sebagai ilustrasi: saya pernah keluar dari satu psc setelah 4.5 tahun bekerja sebagai geophysicist dan karena satu dan lain hal harus bekerja di industri financial dengan gaji 20 % dengan gaji saya di perusahaan minyak. padahal posisi saya di perusahaan tsb cukup penting dalam struktur organisasi dibandingkan hanya geophysicist di oil co. Sebagai info tambahan pada saat itu bank lagi gencar2nya didirikan.
Jadi memang ada unsur survival disini. sekarang kalau semua yang bekerja di Malaysia (sekitar 80 an orang) balik ke Indonesia apa ada lapangan kerja yang tersedia?
setelah bahas dari sisi tenaga kerja yang bekerja di LN. mari kita lihat dari sisi Petronas nya sendiri.
saya tidak tahu pasti mengapa Petronas sangat aktif meng-hire orang professional MIGAS Indonesia dan pada saat yang sama pemerintah Malaysia mengetatkan pemasukan tenaga pembantu rumah tangga dari Indonesia masuk Malaysia dan menekankan pendidikan "disiplin nasional" yang mirip wamil untuk pemuda/i Malaysia. mungkin tidak ada hubungan nya sama sekali.
Hasil diskusi dengan beberapa teman disini menyatakan bahwa Malaysia masih sangat percaya bahwa negara yang akan menguasai dunia adalah negara yang memegang kunci sumber energy. dan mereka masih percaya bahwa migas adalah energy kunci.
Justru itu mereka sangat aktif di luar negeri selain di dalam negeri. kendaraan mereka adalah Petronas, yang walaupun perusahaan swasta tetapi pemilik saham adalah pemerintah.
Terus kita gimana?? beranikah pemerintah memakai uang subsidi migas untuk membiayai E&P di dalam dan diluar negeri dari Pertamina?
jangan selalu blame "korupsi" yang tidak bisa diberantas. Sore tadi saya baru saja ikut kuliah motivasi pada "HSE day" nya Petronas. salah satu point dari penceramahnya adalah kalau kita selalu berpikiran negative maka hal yang negative tsb akan terus menghantui kita dan terus akan terjadi. Pertamina kan suatu perusahaan swasta, pemerintah mesti berani kasih tanggung jawab dan tantangan yang lebih besar untuk membantu negara.
Banyak teman2 disini yang pasti bersedia membantu menggambarkan sistim kontrol Petronas yang berbeda dengan yang ada di Pertamina & PSC di Indonesia. Disini sekarang ada Pak Bambang M dan Pak Samsu Alam yang lagi di seconded di PSC Pertamina, Petronas dan PTT. saya juga bersedia (nanti di email yang lain saja). Bukan hanya sistem q.c. yang bisa diperbandingkan masih banyak hal yang bisa diperbandingankan.
Banyak juga yang kerja di perusahaan lain misalnya Murphy, Shell, Exon-Mobil, Talisman, dll. itu yang di Malaysia saja, belum yang kerja di perusahaan minyak negara dari negara yang lain kayak Repsol dst.
Nah kan bisa dapat input dari tenaga kerja yang di LN.
Kalau tidak salah ada satu team dari DirJen Migas yang melakukan pengkajian sistem psc (atau lebih dari itu) ke beberapa perusahaan, saya sempat ketemu beberapa orang waktu mereka ke Petronas.
Suggestion perubahan mereka kan bisa dipertimbangkan (ada yang bisa kasih summary laporan mereka nggak? )
(nb: sebenar nya ada hal yang saya belum bisa mengerti dengan situasi industri hilir migas, kenapa kita dari dulu kekurangan refinery, tolong pencerahannya karena saya yakin masih banyak yang saya tidak mengerti ttg situasi industri hilir migas Indonesia)
sekian dulu nanti disambung,
fbs
nb: anggota milis ini kan ada juga orang Malaysia nya, silahkan kasih masukan juga....
_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/
--------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

