fbs: > saya pribadi dengan hasil pengamatan yang boleh dikatakan jauh dari sempurna > berpikir bahwa tidak ada pengaruh berpindahnya tenaga kerja ke LN yang > menjadikan menurunnya kegiatan E&P di Indonesia.
Justru kalau dilihat dengan metode 'sebab akibat' (couse effect) bisa jadi yg terjadi adalah terbalik, Franc, karena tidak ada kerjaan (investasi) di Indonesia maka menyebabkan banyak tenaga yg lari ke luar. Dan sepertinya aakan menjadi vortex-effect (efek tornado), semua akhirnya bersiklus dan berinteraksi "feedback", sehingga sangat mungkin semakin menjadikan produksi (produktifitas) menurun. Nah seperti biasa, kita coba saja tengok apa yg dilakukan malesa terhadap tenaga kerja atau human resources ... Beberapa temen disini melihat petronas memang menjadi "sokoguru" (tiang utama) dari perekonomian Malesa, apa iya ? Coba kalau dilihat dari buku "the petroleum geology of malaysia" hal 11, total export tahun 99 sebesar 284.5 Billion RM itu terdiri atas 54% adalah electric-electronic product. Sedangkan crude-oil hanya 2.6%, LNG 2.9%, inipun masih dibawah Palm oil yang 5.8%. Jadi export minyak gorangnya saja sudah melebihi minyak bumi. Anda bisa membandingkan dengan Indoensia kalau mau, lihat saja di bps (biro pusat statistik). Ah, itu kan tahun tahun 1999 kali sekarang beda ...OK, coba tengok lagi, http://www.statistics.gov.my/English/frameset_keystats.php?fid=g ternyata posisi migas (crude) tidak jauh berubah secara prosentase, tetapi nilai totalnya memang meningkat terus. Bahkan yg menarik sekarang ada petroleum product. Mungkin salah satunya minyak pelumas dll yg mungkin juga sudah merambah ke Indonesia (?). Artinya menurut saya Petronas bukanlah sokoguru (tiang utama) ekonomi dari malesa. Namun sangat mungkin saja karena industri ini adalah industri hulu maka bisa saja telah menjadi "barometer" perekonomian nasional malaesa, atau bahkan menjadi titik sentral pengamatan bagi fluktuasi perekonomian yg lain. Atau sebagai "mercusuar" bagi negara malesa, lah wong ternyata berhasil dengan baik je ... Twin Tower yg dibangun oleh Maxis (telekomnya malesa) saja dibeli oleh petronas sehingga menjadi Petronas Twin Tower dan sekarang menjadi kantornya Franc dkk ini. PTT ini akhirnya menjadi murcusuar bagi malesa, Petronaspun merambah ajang Formula 1. apa yang terjadi akhirnya ... bahkan ternyata Malaysia lebih dikenal memiliki Petronas dan lebih dikenal ketimbang memiliki produk2 elektoniknya yang menymbang 10 kali lipat dibanding export crude oil dan LNG. Nah yang menariknya dengan soal tenaga kerja adalah. Ketika TKI banyak yang "diusir" dari Malesa karena ilegal, sudah bisa ditebak, siapa yg terkena dampak ini paling awal ... "electronic product". Dan ini memang bener kejadian, ketika kemaren itu industri elektronik paling banyak mengalami penurunan selain kontsruksi. Orang2 TKI ini menyumbang terbanyak dari export dan pembangunan di Malesa. Kenapa yg migas (petronas) harus ikut diributkan dalam soal TKI ini ? Seperti yg saya duga diatas adalah karena Petronas merupakan titik sentral pengamatan atau barometer bagi investasi lain. Itulah sebabnya, kenapa beberapa bulan lalu orang-orang kontrakan TKI (Tenaga Kerja Intelek) GGE yg di Petronas yang di Kula Lumpur sempat dikumpulkan. Franc tentunya ingat ketika temen2 G&G Petronas (yang jumlahnya sudah sangat signifikan ini) dikumpulkan utk dimintai pendapatnya, ditanyain keluh kesah-nya, ditampung saran dan kritiknya. Ya, menurut saya karena anda2 TKI G&G ini bisa menjadi tolok ukur bagi daya tarik investasi, dalam artian kalau saja ada exodus TKIntelek ini balik ke Indonesia tentunya di Petronas akan terjadi 'gegeran'. Dimana bisa saja mempengaruhi cuaca investasi di malesa. Langkah petronas memanggil dan mengumpulkan G&G Indonesia ini merupakan sebuah langkah 'smart and brave', pintar sekaligus berani. Bayangkan Pteronas bersedia menerima segala kritik dan keluh kesah dari tenaga kerja asingnya. Lah apa kita (Indonesia) bisa melakukan hal yg sama ? ... perlu dua kata itu Franc ... "SMART and BRAVE" Salam RDP --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

