On 5/13/05, R.P. Koesoemadinata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Lho sekarang ke mana nasionalismenya Pak Rovicky ini?

Waduh, nasionalismeku sudah ketuker dengan Ringgit kali ya. 
he 3x

dibawah sana ada sebuah tulisan ttg nasionalisme, apa iya masih diperlukan ?
Bahkan sekarang banyak yg lebih suka dengan istilah
"Internasionalisme", yg dengan bangga memiliki kemampuan bahasa
inggrisnya menganggap bs menjadi warga dunia ketimbang warga
Indonesia.
Lah pak Harto itu lak ngga mau pakai bhasa inggris, malah pakai
penerjemah. bahkan bliau lebih suka pakai bahasa jawa. Hayoo, sapa yg
ngga bilang bahwa jaman pak harto lebih enak dari sekarang ? Tapi sapa
brani juga bilang Pak Harto lebih baik ? Emang pak Harto itu
nasionalis ngga, anda ragu2 ?
Apa iya Pak Harto lebih nasionalis ketimbang pemimpin yg setelahnya
(karena tidak tahu bahasa Inggris), dan ternyata membawa Indonesia ke
jaman "enak".

Tapi masiih ada juga yg merasa lebih "enak" menjadi jajahan blanda,
banyak yg maju pada jaman blanda dan mundur ketika merdeka ... lebih
mundur lagi ketika jaman repotnasi .... jadi apa iya kita mesti minta
balik wong londo ?

RDP
==================================
 Sabtu, 09 April 2005

Kebanggaan Bernama Indonesia

Oleh Jakob Sumardjo

DALAM sebuah seminar tentang nasionalisme Indonesia di sebuah
perguruan tinggi teknik di Bandung, bermunculan pertanyaan-pertanyaan
seperti apakah nasionalisme itu masih diperlukan, apakah tujuan
nasionalisme, untuk apa nasionalisme, bukankah nasionalisme Indonesia
itu telah gagal?

Serentetan pertanyaan anak-anak muda terdidik yang serius, yang
mencerminkan betapa muaknya mereka terhadap segala hal yang dikaitkan
dengan nama "Indonesia". Indonesia itu suatu kegagalan. Indonesia itu
sesuatu yang tidak patut untuk dipertahankan keberadaannya. Indonesia
itu sesuatu yang tak bermakna. Mereka sama sekali tidak punya
kebanggaan sedikit pun terhadap Indonesia.

Ini tidak berarti bahwa mereka tidak peduli pada Indonesia. Meskipun
mereka tidak mampu membayar sepeser pun kepada kami para pembicara,
tetapi mereka mendatangkan kami, orang-orang tua, untuk diminta
penjelasan. Mereka bingung menjadi bagian yang bernama Indonesia.
Mereka tidak mengerti alasan mengapa tradisi lokal di Indonesia harus
dipelihara seperti yang selalu digembar- gemborkan oleh pemerintah.
Mereka merasa tidak perlu dimasukkan kotak dengan nama Indonesia
karena sekarang ini manusia sudah lintas batas, tak ada bedanya lagi
antara kita dengan Eropa, Amerika, dan Afrika.

Apa pun alasannya, yang jelas anak- anak muda ini kecewa, tidak
percaya, muak, antipati dengan lembaga yang disebut kebangsaan.
Padahal selama 30 tahun pemerintah Orde Baru mengindoktrinasi mereka
dengan pelajaran Pancasila, kewarganegaraan, P4, dan upacara bendera
setiap minggu. Anak-anak muda ini lahir, dibesarkan, dan hidup dalam
masa Orde Baru. Dan hasilnya bukan semakin memahami apa artinya
menjadi orang Indonesia, justru menolak keindonesiaan mereka.

Bukan hanya mahasiswa-mahasiswa teknik ini yang kecewa kepada
Indonesia, juga anak-anak muda pedesaan tidak percaya kepada
Indonesia. Ratusan ribu anak-anak muda desa ini nekat keluar Indonesia
dan menjadi tenaga kasar di negara-negara asing dan tetangga. Meskipun
mereka dianiaya di sana, tidak menyurutkan minat mereka untuk secara
ilegal menjadi tenaga kerja kasar di negeri orang.

MODERATOR seminar itu meluncurkan kata-kata legendaris Presiden John F
Kennedy, jangan bertanya apa yang dapat diberikan negara kepadamu,
tetapi bertanyalah apa yang dapat kamu berikan kepada negara ini,
langsung disambar oleh peserta, justru kami yang bertanya, apa yang
telah diberikan negara kepada kami? Indonesia itu telah memberi apa
kepada kami, anak-anak muda ini, sehingga kami harus menjadi penjual
tenaga di negeri asing? Negeri-negeri ini mampu menghidupi kami.

Lebih baik menjadi tenaga kasar di negeri orang daripada menjadi
seorang guru besar di Indonesia. Seorang guru besar di Indonesia
digaji Rp 2,5 juta per bulan, sedangkan kami, para pembantu rumah
tangga, digaji Rp 4 juta-Rp 5 juta per bulan di negara lain. Lebih
baik hujan emas di negeri orang daripada hujan batu di negeri sendiri.
Jadi, apa gunanya menjadi orang Indonesia?

Kita tidak dapat menyalahkan logika anak-anak muda ini karena mereka
membaca realitas Indonesia. Betapa seringnya nama rakyat dan predikat
kemiskinan mereka permainkan. Rakyat diminta kesabarannya untuk
mengencangkan ikat pinggang, namun mereka yang meneriakkan kata-kata
ini sudah terlalu gendut perutnya sehingga mereka tak punya pinggang
lagi untuk dikencangkan. Mereka mengatasnamakan wakil-wakil rakyat,
tetapi sebagai wakil rakyat kedudukan mereka lebih tinggi daripada
yang diwakilinya. Rakyat sekali lagi diminta kesabarannya untuk
berkorban, tetapi apa yang telah mereka korbankan untuk rakyat?

Dulu di zaman revolusi, rakyat mau berkorban dengan sukarela kepada
orang-orang pemerintah karena hidup pembesar-pembesar ini tak jauh
berbeda dengan rakyat. Baju mereka, rumah mereka, kendaraan mereka,
kadang lebih rendah kualitasnya daripada yang dimiliki rakyat. Tetapi,
tanggung jawab mereka lebih besar daripada rakyat. Keterancaman jiwa
mereka lebih gawat daripada rakyat. Realitas ini membuat nasionalisme
sebuah magnet.

Bahkan ada orang-orang yang atas nama Indonesia mau menanggung risiko
hidup semacam itu. Mereka ini orang- orang keramat. Orang-orang yang
bersedia mengesampingkan kepentingan sendiri untuk sesuatu yang
bernama Indonesia.

Kini, 50-60 tahun kemudian, rakyat dan anak-anak muda ini melihat
bahwa gaji mereka (orang pemerintah/parlemen/ lembaga peradilan), baju
mereka, rumah mereka, kendaraan mereka, seperti orang yang hidup di
sebuah negara yang telah adil dan makmur. Sementara rakyat tetap hidup
seperti di zaman revolusi. Mencari makan susah, uang sulit didapat,
anak sakit tidak ada obat, rumah berimpitan, naik kendaraan seperti
ikan pindang dalam keranjang. Orang-orang ini seperti hidup di sebuah
negeri yang benar-benar terbelakang. Indonesia rakyat berbeda jauh
dengan Indonesia mereka. Ada dua Indonesia di negeri Khatulistiwa ini
dan dua-duanya tidak saling mengenal.

Jangan menyalahkan anak-anak muda dan rakyat kebanyakan atas sikap
keindonesiaan mereka. Indonesia telah terlalu lama mengecewakan.
Indonesia telah terlalu lama tidak berubah. Tetap saja ada
Indonesia-atas dan Indonesia-bawah. Indonesia-atas adalah mereka yang
berhasil menduduki kursi-kursi kekuasaan atas nama rakyat.
Indonesia-bawah adalah mereka yang diperintah, yakni yang katanya
pemilik kekuasaan yang sejati (rakyat).

Tidak ada lagi kebanggaan bernama Indonesia. Kalau memang masih ada,
untuk apa mereka mau bekerja sebagai "hamba-pembantu" di negeri orang,
sedangkan di rumah sendiri mereka seba- gai orang merdeka? Indonesia
bagi mereka ini bermakna tidak ada harapan dan tidak ada masa depan.
Indonesia sela- ma ini tidak mempunyai perspektif. Penyakit Indonesia
ini tak dapat disembuhkan.

PENYAKIT Indonesia itu namanya memang "nasionalisme" seperti
dituduhkan anak-anak muda mahasiswa teknik itu. Kalau negarawan John F
Kennedy mengatakan kepada rakyatnya: jangan bertanya apa yang dapat
dilakukan nega- ra terhadapmu, tetapi bertanyalah apa yang dapat kamu
lakukan bagi negaramu, maka "negarawan" negeri ini (sengaja diberi
tanda kutip karena saat ini rasanya di Indonesia tidak ada lagi
negara- wan sejati, yang banyak cuma politisi) akan bertanya: apa yang
dapat negara berikan kepada kamu, dan jangan bertanya apa yang dapat
kamu berikan kepada negara.

Erosi nasionalisme justru dimulai dari yang tua-tua. Mereka
mengajarkan kepada yang muda-muda sikap konsumtif, bukan sikap
produktif. Hidup itu memperoleh, mengambil, menerima, menuntut;
bukannya menghasilkan, produktif, memberi, memenuhi kewajiban. Kalau
bisa, nak, bekerjalah sedikit, yang ringan- ringan saja, santailah,
tetapi hasilnya seabrek-abrek. Bekerja keras dan tidak mementingkan
diri itu filsafat bodoh. Filsafat hidup yang sebenarnya itu hanya
dimiliki para maling (kalau lelaki) dan pelacur (kalau perempuan).
Tetapi di Indonesia ini sukar membedakan mana yang lelaki dan mana
yang perempuan.

Dalam sejarah Indonesia, orang-orang yang menjalankan filosofi ini
hanya para raja dan bangsawan. Jadi, anak-anakku, hidupmu akan mulia
kalau dapat menjadi seperti mereka. Saya tidak mengatakan, nak, bahwa
para raja dan bangsawan itu maling dan pelacur sebab mereka menjadi
seperti itu karena kuasa-kuasa Dunia Atas, sedangkan di zaman modern
ini "raja" dan "bangsawan" itu memperoleh mandat dari Dunia Bawah.

Bekerja keras untuk orang lain itu salah besar, anakku. Itulah
sosialis. Bekerja keras untuk diri sendiri itulah moralitas sejati.
Itulah kapitalis. Masing-masing orang itu harus bekerja keras untuk
dirinya sendiri, kalau perlu mendepak orang lain. Prinsip hidup itu
memang kejam, homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi
sesamanya. Makanya saya sarankan, mumpung kamu menjadi "raja" dan
"bangsawan", bekerjalah keras untuk dirimu sendiri. Sumpah jabatan?
Ah, kata-kata itu sudah lama kehilangan makna. Ingatlah filsafat
pelacuran itu. Pakailah gincu setebal-tebalnya.

Itulah makna nasionalisme selama ini, yang disaksikan dan dialami
anak-anak muda ini. Itulah sebabnya mereka bertanya dengan keras
kepada para pembicara, orang-orang tua ini, apakah nasionalisme masih
perlu dipertahankan? Apakah nasionalisme Indonesia itu memang sudah
gagal? Untuk apa Indonesia?

Saya marah besar di mimbar itu. Tetapi sesampainya di rumah, saya
renungkan ulah mereka. Bukankah mereka ini anak- anak seperti dalam
cerita Hans Christian Andersen, "Pakaian Baru Sang Kaisar"? Dua orang
penipu menjual pakaian "tak terlihat" kepada Kaisar. Begitu halusnya
pakaian tersebut sehingga harganya amat mahal. Ketika rakyat
menyaksikan Kaisar mengenakan pakaian yang tembus pandang itu, mereka
tetap memuji-muji dia sebagai pakaian super mahal. Namun, anak-anak
kecil tak tahan menyatakan, bahwa Sang Kaisar sebenarnya telanjang
bulat di depan rakyatnya.

Jakob Sumardjo Budayawan

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke