Emas sekunder ( placer atau colluvial ) di beberapa tempat di Kal juga belum
terungkap asalnya ( primer ). Walaupun anomali diketemukan, tetapi kalau
dikejar ke kemungkinan sumbernya sampai ke puncak yang tertinggipun tidak
ada konklusi yang memuaskan. Konklusi sementara ( diluar daerah yang well
known depositnya ) batuan basa/ultraba ( secara emperic memang lebih tinggi
kandungan emasnya dibanding jenis batuan lain ), mineralisasi dengan host
batuan basa/ultrabasa ( sudah dibor oleh salah satu perusahaan tapi belum
dipublikasi .....  ), dan/ atau reworking & reworking&reworking ( deal dg
geol tua ).

Yang ke 2 u/ saya lebih menarik dan membuka dimensi baru dalam" eksplorasi
emas ". Gold dan Coal bisa bersanding walaupun masing2 punya cerita geologi
yang berlainan.

Terimakasih dan Wass
sdw
----- Original Message -----
From: "ade kadarusman" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, May 31, 2005 3:47 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Dari Mana Asal Intan Kalimantan ?


>
> Sebenarnya the origin of Borneo diamond pernah saya singgung di Bandung
thn
> 2003 yg lalu, pada presetasi reboan tentang konsep baru pembentukan intan
di
> alam.
> Memang saat ini asal mula intan di Kalimantan masih menimbulkan tanda
tanya
> besar, karena semuanya ditemukan sebagai endapan alluvial. Ternyata intan
> ditemukan di Kalbar (Landak), Kalteng (hulu S. Barito), Kaltim (Muara
Tewe?),
> dan tentu saja Kalsel (Martapura). Dan menurut  laporan geologist SDM,
intan
> ternyata ditemukan juga di Riau (Bangkinang).
> Memang saat ini belum ditemukan secara jelas pipa kimberlit di Kalimantan,
> walaupun pernah disebutkan ditemukan di muara Tewe (seperti yg disebutkan
oleh
> Pak Koeseoma),
> Tetapi saya baca paper dari Bergman (1987,1988) dan Spencer (1988), tidak
> secara pasti menyebutkan adanya pipa kimberlit berdasarkan laporan
geologist
> anaconda, tetapi memang kemungkinan berasal dari lamproite. (kimberlite
berasal
> dari archean craton, sedangkan lamproite dari protozoic belt-nya)
>
> Saya dan Chris Parkinson memang sempat mempelajari Intan dari Martapura
sekitar
> tahun 2000-2001, kalau Chris mempelajari Intan Martapura dari inklusi
mineral
> yg ada di dlm intan dan juga Nitrogen isotopnya, saya sendiri mempelajari
intan
> berdasarkan himpunan mineral berasosiasi dgn intan (heavy mineral
concentrate).
> Mencoba melihat kompisisi garnet, zircon, monazite, textites dll dari
hasil
> sisa dulangan penambang intan.
> Penelitian awal memang saya tidak menemukan garnet yg bekomposisi G10, G9
atau
> G12, yg biasanya ditemukan di kimberlit. Penelitian ini terhenti dan blm
sempat
> dipublikasikan karena saya harus menyelesaikan thesis S3. Penelitian intan
> martapura ini karena hobi, bukan bagian riset S3.
>
> Mudah-mudahan penelitian intan di Kalimantan ini akan dilanjutkan, saya
sedang
> mencari sponsornya. Sayang sekali kita punya intan yang terkenal didunia
> (ditemukan sejak abad 8), tapi bangsa kita sendiri tidak tahu asal-mula
dari
> intan martapura tsb.
> Dan hanya sedikit orang yng concern dgn penelitian dasar just for
curiousity.
>
> Saya cukup familiar dgn batuan kimberlit dan sebangsanya, karena riset
batuan
> kimberlit merupakan salah satu bagian dari thesis S3 dulu, yaitu dgn
> mempelajari batuan kimberlit (+ mantle senolit) yg ditemukan di lingkungan
> oceanic (Solomon alnoite).
>
> Berikut ini kira-kira the origin of borneo diamond:
> -Ultrahigh pressure (UHP) metamorphic origin; source from Meratus Complex
> -Peridotitic origin (Pearson et al., 1995); source from Bobaris peridotite
> (largely based on Koolhoven and van Bemmelen description).
> -Meteoritic origin; presence of textites and impact-crater like structure
in
> north Martapura
> -Kimberlite/lamproite origin (Bergman et al, 1987;1988; Spencer et al,
1988);
> source from the cratonic core of central Borneo (now eroded)
> -Lamproite origin (Parkinson et al, 2000); source from rifted Australian
> fragment containing diamondiferous craton.
>
> Salam
> Ade Kadarusman
> Utrecht, the Netherlands
>
>
>
>
> Quoting Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>:
>
> > Mengherankan, sejak Koolhoven (1935) menulis laporannya tentang asal
intan
> > Kalimantan ("Het Primaire Voorkomen van den Zuid-Borneo Diamant" -
Primary
> > Occurrences of the South Kalimantan Diamond), riset tentang ini tak
mengalami
> > kemajuan yang signifikan sampai saat ini pun.
> >
> > Prof. Adjat Sudradjat, di dalam bukunya, "Teknologi dan Manajemen
Sumberdaya
> > MIneral" (ITB, 1999) masih menulis bahwa asal intan Kalimantan ini tak
> > diketahui dari mana. Lima puluh tahun sebelumnya (1949), van Bemmelen
pun
> > mengindikasikan hal yang sama. Memang, Koolhoven (1935) menyebutkan
bahwa a
> > pipe of ultrabasic rock yang disebutnya "Pamali intrusive breccia"
adalah
> > sumber intan di Kalimantan Selatan. Tetapi, semua buku menuliskan bahwa
kadar
> > intan di breksi Pamali (bukan Pemali seperti di Jawa Tengah ya..) sangat
> > kecil, jauh di bawah kadar intan yang ditemukan di endapan placer-nya.
Kata
> > Pak Soetarjo Sigit dkk di bukunya "Mineral Deposits of Indonesia"
(1962),
> > tidak ekonomis menambang intan di breksi Pamali itu.
> >
> > Ini kadar2 intan di Kalimantan Selatan (van Bemmelen, 1949 vol IB) :
pipa
> > ultrabasa breksi intrusif Pemali : 0,0035 karat/ton (1 karat intan =
0,20 g),
> > enriched top soil Pamali  : 0,035 karat/ton, diamond bearing gravels
placer
> > deposits : 0,47 karat/ton. Nah, intan terbesar yang pernah ditemukan di
> > endapan plaser itu adalah yang ditemukan di desa Cempaka, Kal Sel
seberat 166
> > karat (33 gram). Cukup besar, hampir sebanding dengan intan Kohinoor
> > kepunyaan raja Lahore, India sebelum dibelah (186 karat), tetapi jauh
lebih
> > kecil dibandingkan intan terbesar yang pernah ditemukan di Afrika
Selatan,
> > intan Cullinan (3024 karat - 602 gram) yang kata buku Munaf (1956) -
> > Ensiklopedia Indonesia (termasuk ensiklopedia Indonesia pertama)
dihadiahkan
> > pemerintah AfSel ke raja Inggris Edward VII.
> >
> > Nah, benarkah Koolhoven bahwa breksi intrusif Pamali itu sumber primer
intan
> > di Martapura ? Tidak tahu, sebab praktis tak ada riset ke arah situ yang
> > serius. Kalau melihat kadar2 intan antara placer deposits di Martapura
dan
> > primary deposits di breksi Pamali itu, maka diragukanlah kebenaran
Koolhoven
> > itu.
> >
> > Koolhoven (1935) dan van Bemmelen (1949) menyebutkan bahwa breksi
intrusif
> > Pamali itu adalah model kimberlitic pipe intrusive di Afrika Selatan.
> > Betulkah ? Kadar intan yang dilaporkan mereka tak mendukung analogi ini.
> >
> > Anthony Evans dalam bukunya, "An Introduction to Economic Geology and
Its
> > Environmental Impact" (Blackwell Science, 1997) menulis kadar2 intan di
pipa
> > kimberlite/lamproite di seluruh dunia. Yang paling miskin (kimberlit
Lesotho
> > : 0,309 karat/ton) - yang paling kaya (Argyle AK1 Lamproite di Australia
> > Barat punya kadar intan 4 karat/ton). Bandingkan dengan kadar intan
Pamali
> > intrusive breccia yang hanya 0,0035 karat/ton. Bagaimana intan Martapura
bisa
> > punya kadar 0,47 karat/ton ? Rasanya, proses enrichment pun tak akan
> > mendongkrak kadar sampai 134 kali bukan ? Lalu, dari mana dong asal
intan
> > Martapura ?
> >
> > Melihat peta penyebaran intan di seluruh dunia (Evans, 1997), jelas
tergambar
> > di situ bahwa deposit intan yang besar selalu berasosiasi dengan daerah
> > continental craton (> 1500 Ma old). Teori terbaru sekarang tentang
origin of
> > diamonds adalah bahwa intan bukanlah hasil kristalisasi magma di intrusi
> > ultrabasa (akan in-situ), tetapi bahwa intan adalah ex-situ, mereka
adalah
> > mineral2 di upper mantle yang terbawa hot plume mantle yang sedang
> > up-welling. Maka, intan bukanlah fenokris, tetapi xenokris. Kita pernah
> > diskusikan ini sedikit di milis IAGI saat kita membahas plume tectonics
4-5
> > tahun yl.
> >
> > Nah, di Kalimantan kita punya craton kecil (Schwaner) yang disebut dan
> > disatukan dengan Laut Jawa sampai ke Malaya oleh Ian Metcalfe (1996)
menjadi
> > SW Kalimantan craton. Dan di Kalimantan, intan tak hanya ada di
Martapura,
> > tetapi juga di Purukcahu (KalTeng) dan Sanggau (KalBar). Mengapa kita
tak
> > mencoba mengkaji origin of diamonds in Kalimantan secara lebih serius ?
Atau,
> > telah puas dengan karya klasik W.C.B. Koolhoven (1935) yang ditulis 70
tahun
> > yang lalu ?
> >
> > salam,
> > awang
> >
> >
> >
> > __________________________________________________
> > Do You Yahoo!?
> > Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> > http://mail.yahoo.com
>
>
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
> ---------------------------------------------------------------------
>
>


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke