Mungkin salah satu referensi yang bisa di’observasi’ untuk memahami
hubungan klastik (batupasir) dengan karbonat adalah cekungan di daerah
lepas pantai utara Jawa Barat, daerahnya BP sekarang. Saya rasa banyak
makalah yang sudah dipublikasikan tentang karbonat dari cekungan
tersebut. Di cekungan tersebut endapannya berupa selang-seling antara
klastik dan karbonat. Dari yang paling tua, Talang Akar (klastik),
Baturaja (karbonat), Massive (klastik), Mid Main Carbonate, Main
(klastik), Pre-Parigi dan Parigi (keduanya karbonat). Semuanya berpotensi
terisi hidrokarbon. Yang mana yang terisi, seperti Pak Awang sudah
diskusikan, adalah tergantung dari batuan sumber, ‘carrier beds’,
perangkap dan batuan penutup.
Salah satunya yang menarik adalah Mid Main Carbonate, yang merupakan
anggota dari Formasi Cibulakan. Mid Main Carbonate ini selalu tidak
terisi oleh hidrokarbon, bila batu pasir (dalam hal ini saya percaya
sebagai ‘carrier bed’) yang terendapkan dibawah suatu marker yang disebut
sebagai ‘Regional 32’ tidak menumpang kearah terumbu Mid Main Carbonate
tersebut. Dengan lain kata, bila terumbunya terletak dibawah ‘carrier
bed’ tersebut maka terumbu Mid Main Carbonate tersebut selalu kering atau
tidak terisi oleh hidrokarbon.
Mid Main Carbonate-nya sendiri cukup menarik, karena terumbu yang tumbuh
tersebut terdiri dari selang-seling antara klastik (lempung) dan
karbonat. Lempungnya sendiri ternyata berupa suatu penghalang (‘baffle’)
terhadap fluida maupun tekanan formasi sewaktu diproduksi. Ini terlihat
dengan jelas dari data tekanan formasi sebelum dan sesudah diproduksi.
Karbonatnya sendiri tidaklah murni berupa karbonat, karena ternyata
fragmen dan matriknya bercampur dengan kwarsa. Dan ini baru terlihat bila
batuan intinya (‘core’) saya lihat dibawah mikroskop dan dari sayatan
tipis. Jadi saya berteori waktu itu, bahwa karbonatnya tumbuh sewaktu air
laut pasang; kemudian kwarsanya terendapkan dan bercampur dangan
karbonatnya sewaktu air laut mulai surut (proses regresi); karbonatnya
tersingkap ke permukaan (karst) sewaktu air laut surut; kemudian
lempungnya terendapkan sewaktu air laut pasang kembali. Proses tersebut
berulang-ulang sehingga tumbuh menjadi suatu terumbu. Kemudian terumbu
tersebut mati karena tenggelam dan juga karena lingkungannya menjadi
kotor disebabkan batu pasir dibawah regional-32 marker (yang merupakan
batuan penutup) diendapkan.
Dari sini terlihat bahwa reservoir karbonat tidaklah harus selalu fracture,
dengan hanya intergranularpun, dia sudah boleh menjadi suatu reservoir.
Salam,
Ferdinandus.KARTIKO-SAMODR
[EMAIL PROTECTED] To:
<[email protected]>
cc:
06/01/2005 07:48 AM Subject: Re:
[iagi-net-l] apa selalu limestone di bawah sand
Please respond to iagi-net
Pak Awang
kalau hcnya cukup (dan ada trap yang bagus tentunya ) maka ada
kemungkinan setelah mengisi hc di sandnya maka hc akan mulai mengisi di
limestone di bawahnya ...
oleh karena itu akumulasinya jadi besar sekali ( seperti cepu...?)
dengan adanya bukti bahwa ada "trace" hc di limestone menunjukan bahwa
limestone tersebut cocok untuk jadi reservoir karena mampu mentransfer hc
ke clastic di atasnya
saya belum mengerti dengan statement
Sebenarnya secara kemudahan migrasi, karbonat lah yang akan terisi dulu
baru pasir. Tetapi untuk terisi itu, karbonat harus porous dan punya
topseal.
Bisa diterangkan kenapa terjadi seperti itu....? apakah dengan asumsi
adanya secondary porosity seperti fracture ? sementara kan kalau kita cuma
mengandalkan primary porosity umumnya porosity (dan atau permeability ) di
limestone kan lebih buruk daripada di sandstone (cmiiw)
apakah ada contoh limestone tanpa fracture yang cukup besar
mengakumulasikan hc...?
kalau limestone di jawa timur gimana ya....? apa cukup dengan sistem
intergranular atau tetap dengan ada secondary porosity seperti
fracture...?
Regards
Kartiko-Samodro
Telp : 3852
Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
31/05/2005 04:17 PM
Please respond to iagi-net
To: [email protected]
cc:
Subject: Re: [iagi-net-l] apa selalu limestone di bawah sand
Ada, beberapa sumur, misalnya KE-11 di Madura Strait, tetapi sands di situ
telah bertindak sebagai thief beds terhadap akumulasi yang semula ada di
karbonat bawahnya. Di karbonat sisa oil indication saja sementara
sandstone di atasnya mengandung HK. Maka, peranan topseal di atas karbonat
dalam hal ini menjadi penting. Atau, karbonatnya terlalu tight dibanding
batupasir di atasnya, sehingga oil lebih suka mengisi pasir. Biasanya,
dalam kasus ini, mature source rocks di downdip berada lebih dekat dengan
karbonat dan jauh dari batupasir. Carried beds-nya adalah onlap beds pada
karbonat atau beberapa streak pasir di bagian atas karbonat. Sebenarnya
secara kemudahan migrasi, karbonat lah yang akan terisi dulu baru pasir.
Tetapi untuk terisi itu, karbonat harus porous dan punya topseal.
salam,
awang
[EMAIL PROTECTED] wrote:
Pak Awang
apa ada contoh misalnya ada limestone yang diatasnya ada formasi clastic
full dengan hc sementara limestonenya sendiri dry...?
Regards
Kartiko-Samodro
Telp : 3852
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------