Mantle plumes adalah sirkulasi alamiah material di mantel. Sepanjang rheology mantel bersifat plastic, cair-liat, selama ada panas, maka bergeraklah ia dalam alur konveksi, ada yang naik ada yang turun. Nah, sebuah craton dalam sejarah Bumi tak akan pernah abadi seperti itu. Gondwana dan Laurasia bukanlah superkontinen satu2nya, dulu sebelum mereka ada superkontinen lain, a.l Rodingia dan Prosimia di umur Proterozoikum (sekitar 2500-3000 Ma), yang lalu dikoyak-koyak oleh mantle superplumes yang naik meretakkan mereka dan membuat gabungan craton2 ini berubah bentuknya. Sebuah craton yang terapung di atas asthenosfer akan menghalangi mantle plume yang naik(upwelling). Mantle plumes tak akan menyerah begitu saja melawan perisai benua yang menutupinya ini. Lama-lama, craton ini akan retak, rifted, terkoyak dan terpisah2 lagi. Nah, upwelling mantle inilah yang membawa intan di upper mantle masuk ke zona rifted faults di retakan craton. Maka tak heran kalau ladang2 intan di seluruh dunia ditemukan overlies semua wilayah craton. Sundaland pun punya sejarah akresi dan pemisahan akibat mantle plume ini. Ia dibangun oleh berbagai micro-plates, beramalgamasi membentuk Sundaland pada Triassic. Dan, lalu beberapa bagiannya kemudian tercerai-berai lari ke timur (a.l. Sumba) saat earliest Tertiary sampai sekitar Oligosen Bawah. Tektonik regional yang lateral karena plate-readjustment setelah India collided Eurasia mempercepat pemisahan, slivering, ini. Ini saya publikasikan di joint convention IAGI-HAGI 2003. Maka, bisa dibilang, mantle plumes di bawah bagian timur Sundaland butuh waktu 160 juta tahun buat mengkoyakkan Sundaland. Apakah ada intan dari upper mantle yang terbawa saat pemisahan ini. Nah ini yang harus dikaji lebih jauh. Cari saja di mana weakness zone di bagian timur Sundaland. Meratus suture adalah satu tempat yang patut dicurigai. salam, awang
faridferdian <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ingin mencoba nimbrung, Mengenai asal intan di Kalimantan kalau Saya tidak salah Simandjuntak menghubung-hubungkan dengan apa yang beliau sebut dengan orogenesa Dayak.Yang ada kaitannya dengan (plumes theory?). Dikarenakan pengetahuan saya yang masih sedikit, saya kurang mengerti kenapa bisa ada plumes di kraton Kalimantan.... Mungkin ada yang dapat memberikan penjelasan. regards, Farid Ferdian '02 --- In [EMAIL PROTECTED], "Riyadi, Slamet S" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Sekedar info, > Kalau Martapura memang sudah 'kasohor' dengan intannya, tapi Purukcahu sampai sekarang intan-nya belum berarti dan cuma spot-spot saja--itupun dianggap tidak ekonomis untuk suatu company swasta/asing. Padahal kalau melihat dari intrusi-intrusi yang muncul sekitar utara Puruk Cahu begitu banyak. Intan belum tampak, tapi emasnya sudah di-mining baik oleh masyarakat maupun oleh Indomuro dan sekarang oleh Strait perusahaan dari Asutralia. Dulu saya mendengar dari pak Awang bahwa pernah ada instansi research yang men- schedule untuk mendating intrusi-intrusi di Puruk Cahu, tapi oleh sebab sesuatu belum juga terlaksana? (masih ingat waktu ngobrol di IAGI Bidakara?) > > Di Kalimantan Selatan/Tengah memang sudah ada semacam 'diamond award' dari pemerintah bagi masyarakat yang telah menemukan sampai beberapa karat (puluhan Karrat?, jaman Soekarno)-- sumber dari media dan dari cerita masyarakat sekitarnya. > Awal tahun 1998, saya pernah visit ke Kahayan yang menuju Tumbang Mirih, dimana granotoid sangat dominan di sepanjang Kahayan upstream, tepatnya setelah Kualakurun ke upstream. Bahkan saya pernah visit ke mine traditional berupa alluvium/placer mining tepatnya di sungai Pron (00deg 45'44"S dan 114deg 04'49"E), record diamond yang ditemukan oleh masyarakat adalah hampir 6 karat. Perusahaan yang pernah bekerja disekitar in adalah PT Pacific Selatan Resource Indoneisa tahun 1996-1997, non discovery hasilnya. > > Kemudian tahun 2000, saya pernah melintas dari sungai Barito (Tumbang Lahung) menuju sungai Kapuas (Gunung Meranti). Sebelum menuju Kapuas terdapat 'perkampungan' intan, yaitu kampung Gula (114.1776-E dan 0.7255-S). Kampung ini terbentuk karena banyaknya competitor penambang di Martapura, sehingga mereka mencari ke daerah ini dan akhirnya menjadi populasi yang cukup untuk mendirikan kampung ini (1970's) hingga sekarang. > > Saya tidak tahu persis intan ini berasal dari mana? > Tapi intan-intan di Martapura, Pron dan Gula terdapat dalam aluvium/placer berupa white sandstones. > Jadi saya percaya kalau intan ini (Pron/Gula) berasal dari bagian upstream Kahayan maupun Kapuas yang terdiri dari sample 'stream' yang pernah saya ambil menunjukan sbb: > > Hasil analisa dari stream yang bersumber dari gunung-gunung predominantly granite sekitar 200 km northward (sungai kahayan, kapuas); ini menunjukan data thin section XRD dan XRF analysis bahwa hasil geochemical plots vs weathering trends menunjukan sumber dari sandstone itu adalah foliated granites, monzogranites dan granodiorites pada umur awal mesozoic/late palaeozoic busang complex. XRD menunjukan dominant quartz sebagai crystalline material. > > Jadi kalau aluvium/white sandstone dari upstream, apakah tidak mungkin intan-intan ini juga dari upstream (dibaca batuan granotoid)? Cuma masalahnya seberapa jauhkah intan yang berasal dari batuan beku bisa tertransfortasi begitu jauh??? > > Tapi untuk business coal exploration daerah yang dimaksud ini 'diuntungkan' high rank-nya. > > > Salam, > > Slamet > > -----Original Message----- > From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Tuesday, May 31, 2005 12:58 PM > To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] > Subject: [Geo_unpad] Dari Mana Asal Intan Kalimantan ? > > > Mengherankan, sejak Koolhoven (1935) menulis laporannya tentang asal intan Kalimantan ("Het Primaire Voorkomen van den Zuid-Borneo Diamant" - Primary Occurrences of the South Kalimantan Diamond), riset tentang ini tak mengalami kemajuan yang signifikan sampai saat ini pun. > > Prof. Adjat Sudradjat, di dalam bukunya, "Teknologi dan Manajemen Sumberdaya MIneral" (ITB, 1999) masih menulis bahwa asal intan Kalimantan ini tak diketahui dari mana. Lima puluh tahun sebelumnya (1949), van Bemmelen pun mengindikasikan hal yang sama. Memang, Koolhoven (1935) menyebutkan bahwa a pipe of ultrabasic rock yang disebutnya "Pamali intrusive breccia" adalah sumber intan di Kalimantan Selatan. Tetapi, semua buku menuliskan bahwa kadar intan di breksi Pamali (bukan Pemali seperti di Jawa Tengah ya..) sangat kecil, jauh di bawah kadar intan yang ditemukan di endapan placer- nya. Kata Pak Soetarjo Sigit dkk di bukunya "Mineral Deposits of Indonesia" (1962), tidak ekonomis menambang intan di breksi Pamali itu. > > Ini kadar2 intan di Kalimantan Selatan (van Bemmelen, 1949 vol IB) : pipa ultrabasa breksi intrusif Pemali : 0,0035 karat/ton (1 karat intan = 0,20 g), enriched top soil Pamali : 0,035 karat/ton, diamond bearing gravels placer deposits : 0,47 karat/ton. Nah, intan terbesar yang pernah ditemukan di endapan plaser itu adalah yang ditemukan di desa Cempaka, Kal Sel seberat 166 karat (33 gram). Cukup besar, hampir sebanding dengan intan Kohinoor kepunyaan raja Lahore, India sebelum dibelah (186 karat), tetapi jauh lebih kecil dibandingkan intan terbesar yang pernah ditemukan di Afrika Selatan, intan Cullinan (3024 karat - 602 gram) yang kata buku Munaf (1956) - Ensiklopedia Indonesia (termasuk ensiklopedia Indonesia pertama) dihadiahkan pemerintah AfSel ke raja Inggris Edward VII. > > Nah, benarkah Koolhoven bahwa breksi intrusif Pamali itu sumber primer intan di Martapura ? Tidak tahu, sebab praktis tak ada riset ke arah situ yang serius. Kalau melihat kadar2 intan antara placer deposits di Martapura dan primary deposits di breksi Pamali itu, maka diragukanlah kebenaran Koolhoven itu. > > Koolhoven (1935) dan van Bemmelen (1949) menyebutkan bahwa breksi intrusif Pamali itu adalah model kimberlitic pipe intrusive di Afrika Selatan. Betulkah ? Kadar intan yang dilaporkan mereka tak mendukung analogi ini. > > Anthony Evans dalam bukunya, "An Introduction to Economic Geology and Its Environmental Impact" (Blackwell Science, 1997) menulis kadar2 intan di pipa kimberlite/lamproite di seluruh dunia. Yang paling miskin (kimberlit Lesotho : 0,309 karat/ton) - yang paling kaya (Argyle AK1 Lamproite di Australia Barat punya kadar intan 4 karat/ton). Bandingkan dengan kadar intan Pamali intrusive breccia yang hanya 0,0035 karat/ton. Bagaimana intan Martapura bisa punya kadar 0,47 karat/ton ? Rasanya, proses enrichment pun tak akan mendongkrak kadar sampai 134 kali bukan ? Lalu, dari mana dong asal intan Martapura ? > > Melihat peta penyebaran intan di seluruh dunia (Evans, 1997), jelas tergambar di situ bahwa deposit intan yang besar selalu berasosiasi dengan daerah continental craton (> 1500 Ma old). Teori terbaru sekarang tentang origin of diamonds adalah bahwa intan bukanlah hasil kristalisasi magma di intrusi ultrabasa (akan in- situ), tetapi bahwa intan adalah ex-situ, mereka adalah mineral2 di upper mantle yang terbawa hot plume mantle yang sedang up-welling. Maka, intan bukanlah fenokris, tetapi xenokris. Kita pernah diskusikan ini sedikit di milis IAGI saat kita membahas plume tectonics 4-5 tahun yl. > > Nah, di Kalimantan kita punya craton kecil (Schwaner) yang disebut dan disatukan dengan Laut Jawa sampai ke Malaya oleh Ian Metcalfe (1996) menjadi SW Kalimantan craton. Dan di Kalimantan, intan tak hanya ada di Martapura, tetapi juga di Purukcahu (KalTeng) dan Sanggau (KalBar). Mengapa kita tak mencoba mengkaji origin of diamonds in Kalimantan secara lebih serius ? Atau, telah puas dengan karya klasik W.C.B. Koolhoven (1935) yang ditulis 70 tahun yang lalu ? > > salam, > awang > > delete------- Moderators: Budhi Setiawan '91 <[EMAIL PROTECTED]> Edi Suwandi Utoro '92 <[EMAIL PROTECTED]> Sandiaji '94 <[EMAIL PROTECTED]> Wanasherpa '97 <[EMAIL PROTECTED]> Satya '2000 <[EMAIL PROTECTED]> --------------------------------- Yahoo! Groups Links To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Geo_Unpad/ To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. --------------------------------- Do You Yahoo!? Yahoo! Small Business - Try our new Resources site!

