Ada yg perlu diluruskan dalam masalah Cepu Blok 1.Bahwa Pemerintah Indonesia dengan perangkat hukumnya sedang dipermainkan oleh EMI, jadi bukan Indonesia yg melanggar kesepakatan..Issue yg beredar di luar sana sudah membalik, Indonesia yg salah karena tak meneruskan kontrak ke EMI..padahal hukum Indonesia yg lagi di perkosa sama EMI, kalau akhirnya mereka menang jadilah pemerintah ini lemah di mata Investor, "lemah" artinya bisa ditekan, dimanfaatkan, diperas, dikadalin.
2.Kurtubi begitu terpesonanya dengan hayalan Multi effect kalau EMI yg mengoperasikan Blok Cepu ini, padahal siapa saja yg mengoperasikan tetap saja kemungkinan itu muncul, logikanya malah pemain dalam negeri membuat alirang hasil SDA ini tidak banyak yg mengalir ke LN. 3.Masalah ini sebenarnyakan pure soal bisnis, sebagai pemilik resmi lapangan tersebut..semestinya Pertamina ngotot untuk meminta kembali Cepu blok, walaupun harus berhadapan dengan pemerintah RI sekarang secara hukum , Pertamina harus berani melakukannya. 4. SBY-kan belum tentu menang untuk 5 tahun kedepan, tapi kalau perjanjian yg cacat hukum ini akan terlaksana, ini akan meninggalkan PR buat bangsa Indonesia kedepannya. -----Original Message----- From: Indra Sumbodo [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, June 22, 2005 10:43 AM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Cepu lagi .. siapa yang tanda tangan WK Cepu? All, Apa yang diulas oleh Ari sangat menarik, dan poin-poin yang sangat penting dari perpanjangan kontrak ini : 1. Legal Aspect 2. Kelangsungan dari Investment di Indonesia Dua aspek diatas akan menjadi preseden bukan hanya untuk Dunianya Indonesia, tapi juga "world wide", tidak terbatas hanya pada bidang Oil : 1. Legal aspect dari TAC menjadi PSC, a. Seperti yang dikatakan Ari ini akan menjadi Preseden buruk dari pemerintah yang tidak taat hukum. Apapun hukumnya kalau ada kepentingan "Pemerintah ????", hukum jadi nisbi. b. Setiap pengelola TAC akan minta disamakan dengan EXXON c. Split Scenario, terutama 10 % participating interest untuk Pemda/BUMD. Ini lebih amburadul lagi, dimana kepentingan para pemodal/pengusaha yang jadi pejabat di kabinetnya SBY sudah membayangkan hasil yang melimpah dari interest ini dengan jadi subkon disetiap bidang ataupun pemodal. Dan yang paling amburadul, setiap Pemda penghasil minyak dan mungkin penghasil tambang lainnya akan meminta hal yang sama denga pemda Bojo. Hasilnya.........bisa ditebak, para PR akan menjadi super sibuk, super lieur, dan no more oil co but PR co. 2. Kelangsungan dari Investment di Indonesia a. Akibat dari kuatnya pemerkosaan Hukum, setiap Investor Asing akan mikir sejuta kali untuk invest di Indonesia dalam berbagai bidang, karena KAsus ini sudah diblow-up disejumlah media masa luar. b. Dengan kemungkinan kekacauan yang timbul dari permintaan setiap Pemda penghasil tambang, security dan juga aside cost yang timbul, akan menjadi beban buat para investor Hasilnya...mendingan Invest dinegara lain Tapi, balik lagi ke persoalan pokok, ada kepentingan lain yang lebih besar daripada perpanjangan kontrak TAC ini. Ada orang-orang yang super pinter dan greedy (selain para oportunis yang sok pinter dan paling sering memberikan wawancara) yang tidak memberikan INPUT yang benar ttg Konsekwensi Perpanjangan TAC yang nabrak segala aturan ini pada Oom SBY yang lagi jalan-jalan Ke Philipina. Ended-up...he will be suffer and probably fell down..... Kita lihat apa yang akan terjadi di awal kisah sinetron dan side effectnya...... ids ----- Original Message ----- From: "Ariadi Subandrio" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Wednesday, June 22, 2005 9:39 AM Subject: Re: [iagi-net-l] Cepu lagi .. siapa yang tanda tangan WK Cepu? Kontrak KKS WK Cepu - . Seperti yang disampaikan oleh Rizal Malarangeng (juru bicara tim negosiasi versi pemerintah untuk penanganan blok Migas Cepu) semalam dalam acara Economic Challenge di Metro TV, bahwa kemungkinan besar skim yang akan diterapkan untuk pengelolaan Cepu adalah PSC dengan komposisi split 85:15. Kontraktor yang berada pada split 15% tersebut adalah terdiri dari share ExxonMobil 45%, Pertamina 45% dan Pemda Bojonegoro 10% tanpa satu kata pun dijelaskan siapa yang akan menjadi Operator atas blok Cepu tersebut. Maka menjadi pertanyaan antara lain tentang : Kontrak/Legall & Kepemilikan: Akankah kontrak existing (TAC) akan diputus saat ini, kemudian berubah menjadi kontrak PSC? Ataukah kontrak TAC tetap berjalan hingga 2010, kemudian WK kembali ke Negara melalui pemerintah, kemudian dilanjutkan dengan kontrak PSC? Dalam kontrak PSC tersebut, siapakah yang akan bertanda tangan kontrak atas WK tersebut? BP Migas dengan ExxonMobil atau Pertamina ? Jika yang bertanda tangan adalah Exxon Mobil, artinya kontrak WK Cepu beralih dari Pertamina (TAC) menjadi WK ExxonMobil (PSC), gimana dengan preseden hukumnya? Seandainya Tim Negosiasi Pemerintah membela "anak"nya sendiri, mengapa komposisi kepemilikan pada saham tak menggambarkan keberpihakan pd sang anak, misalnya EM 45%, Pertamina 46% dan Pemda Bojonegoro 9%, sehingga posisi sebagai operator adalah valid pada Pertamina. Bagaimanakah sistem akuntansi antara dua sistem kontrak tersebut (Pertamina/TAC hingga 2010 dan ExxonMobil/PSC paska 2010) - kebayang ruwetnya, keruwetanlah yang menjadi potensi ke-mbelingan nantinya. Tidakkah poin nomer 4 diatas menjadi preseden bagi kontrak-kontrak TAC yang lain. Medco juga berhak dong merubah kontrak TAC sanga-sanga menjadi kontrak PSC, kenapa hanya ExxonMobil yang memperoleh privilege?, juga dengan yang lain-lainnya. UU 22/2001 yang dilanjutkan dengan PP.35 (Hulu Migas) sebagai produk hukum Indonesia dengan memberikan jaminan kelangsungan kontrak TAC yang akan kembali ke Pertamina, kenapa musti dapat berubah wujud menjadi kontrak PSC dengan penghentian atas WK tersebut. maka tegakkah hukum Indonesia? bingung aku. Kemampuan : Apa yang disampaikan oleh Kurtubi, pengamat ekonomi perminyakan kondang Indonesia dengan konsep nasional-pragmatis, menyatakan "jika kita tendang ExxonMobil sekarang, toh Pertamina nantinya juga akan menggandeng pihak lain untuk pembiayaan pengembangan Cepu. Kan Pertamina kesulitan cash flow". ## kalimat beliau seolah menihilkan pola-pola pendanaan suatu project. Seolah dalam pengelolaan lapangan minyak kudu selalu bergantung pada dana perusahaan minyak asing. Padahal pasar uang diluaran sudah begitu banyaknya, NEXI, NEDO, HSBC, BCA, Konsorsium2 lembaga keuangan bahkan Lembaga Keuangan Syariah pun kini dengan mudah akan mengeluarkan dana untuk pola project financing bagi lapangan produksi (bukan eksplorasi) Lain-lain : Pengelolaan teknis? - gak usah diragukan dengan SDM kita. Pengelolaan manajemen ? Korupsi? - Tugas bersamalah untuk memeranginya. Topik yang hampir selalu ditampilkan oleh tim negosiasi versi pemerintah ini adalah busung lapar, keperluan dana besar, posisi net importer kita, dll sebagai bagian penjelasan kepada publik. Seolah menjadi tanggung jawab extension contract Cepu untuk masalah keseluruhan negeri. Sementara parameter-parameter penting seperti besaran kompensasi, besaran klaim sunk cost yang disetujui, adusted split, perolehan kelola atas 29 struktur pada WK PSC versus satu struktur (Banyu Urip) pada sistem TAC, dll tak muncul kepermukaan. Yang penting biasanya disebut konfidensial, sementara sisi lain ada eksploitasi opini. Gelap banget sih negeri ini. Mungkin pertanyaan-pertanyaan diatas terlalu naïf, ..aahhhh akhirnya, hanya sabar dan tawakal-lah yang menjadi pilihan. lam-salam, ar-. Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:On 6/21/05, ismail wrote: > Dari Economic chall. MetroTV Selasa malam ini, Kayaknya hampir dipastikan > Exxon akan tetap di Cepu, apalagi juga ada dukungan dari Pengamat > Perminyakannya. > Dari diskusi yang sudah panjang lebar selama ini diberbagai forum tentang > kasus ini, kayaknya dari apa yang disampaikan di MetroTV tsb, Alasan > Pragmatislah yg diperhitungkan untuk memutuskannya.karena memang problemnya > ada di pihak Indoz ( supaya cepat berproduksi shg dapat menambah penghasilan > negara secepatnya guna menambah APBN).Rasanya alasan alasan masalah G & G , > Kemampuan mengelola sendiri , dll kalah dg alasan pragmatis tsb. > > Ism Kalau alasan pragmatis .... supaya lebih cepat lagi adalah memanfaatkan fasilitas yg saat ini sudah ada di sana ... which is operated by Pertamina JOB Petrochina ... Ini akan lebih cepet lagi ... dibandinkan menunggu pembangunan fasilitas dari EM. Atau bisa saja joint operation ... Tinggal "pasang pipa pralon" produksi dah jalan deh ...hehehehe Jadi apa iya alasan pragmatis ? I doubt it Kalo politis sih saya yakin. Karena "longterm impact" tidak berpengaruh terhadap popularisasi politisi2 yg duduk manis selama 5 tahun (satu siklus kepemimpinan / Pemilu) Selain itu Cepu ini sebagai amunisi untuk memperkuat bargaining posisi Indonesia dg Amrik terasa juga ketika Indonesia diembargo peralatan senjatanya. Sampe2 Ambalat di goyang2 tetangga :( Nah yg saya konsen saat ini adalah daerah untuk extensionnya sebaiknya hanya lapangan2 yg "proven" saja. Sedangkan yg tidak produktif (Prob and Poss) dikembalikan lagi ke Indonesia cq Migas. Secara umum bisa saja ada 3 kategori cadangan (ini utk mempermudah saja) yaitu - Proven (yg sudah berproduksi) - Probable (yg sudah dibor tetapi belum produksi) - Possible (yg belum dibor) Sisanya mungkin kategori spekulatip dimana daerah ini saja yg sering dikembalikan. Seingatku belum semua reef prospects (kategori cadangan potential) di daerah itu sudah dibor, baru 2 atau 3 yg sudah dibor, itupun menurut saya jebakan itupun belum sepenuhnya di delineasi. Sehingga angka2 tersebut saya yakin masih bisa berubah. Bisa naik (lebih besar) bisa pula turun (lebih kecil) dari yg diduga sebelumnya. RDP --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) --------------------------------------------------------------------- --------------------------------- Yahoo! Sports Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) --------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) ---------------------------------------------------------------------

