On 6/23/05, Nataniel Mangiwa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> ---------- Forwarded message ----------
> "Tidak ada keterlambatan. Kemarin sudah dicairkan Rp 4,02 triliun. Itu
> kan belum habis," ujar Jusuf di sela rapat kerja dengan Panitia
> Anggaran DPR di Gedung MPR/DPR Jakarta, Selasa (21/6) malam.
> 
====
> Menurut Widya, kondisi ini dipicu oleh keterlambatan pemerintah
> mencairkan dana subsidi pembelian BBM sebesar Rp 4,020 triliun. "Dana
> tersebut baru turun pada tanggal 13 Juni jam tiga sore," jelas Widya
> saat rapat dengar pendapat yang mengundang Menteri ESDM Purnomo
> Yusgiantoro dengan Komisi VII DPR di Jakarta, Senin (20/6).

Wah Menkeu ini membodohi rakyat bener deh,
Emangnya beli bensin jutaan kiloliter di LN itu tinggal bawa duik
segepok trus minta diliterin gitu ya ? Perlu waktu ! Lah kalo LCnya
saja sempet ngga dianggep gimana mau belinya ?

Soal stock itu jelas berhubungan dengan konsumsi, suplly dan
distribusi, dan tentunya masih banyak komponen lainnya. Jadi soal
menyatakan "krisis" atau tidak itu sangat tergantung dari mana
melihatnya, bahkan sangat tergantung untuk apa menyatakannya krisis.

Saya juga jadi suudzon nih.
Penggiringan opini bahwa Pertamina ngga mampu sudah dari segala sudut.
Termasuk dengan pengelolaan BBM. Btwm katanya ini hanya sampai Nov
2005. Setelah itu BBM menjadi tanggung jawab badan lain. Juga adanya
issue (salah satu yg diusung oleh Pak Kurtubi) kebutuhan mendadak
karena maraknya busung lapar, wabah polio dsb (pdhl skrg yg marak itu
tbc karena endemi mendunia juga ... ga ada yg ngeh kan ? ... coba
tanya dokter spesialis tht).

Nah kalau emang busung lapar itu mengancam, berapa jumlah penduduk sih
yang terancam ? Silahkan berbagi angka.

Bandingkan dengan ancaman akibat bencana gunung api, longsoran,
kecelakan lalulintas perhari, ....

Saya sih jelas prihatin dengan anak2 kecil ini, tetapi kalau saya
dihadapkan secara riil (angka) dengan jumlah yg terancam, maka saya
lebih mementingkan yg lain yang lebih banyak (termasuk bencana dan
kecelakaan). Saya sedih melihat anak kecil mirip kerangka, tapi saya
juga sedih melihat nenek-nenek ngga sempet lari diterjang tsunami dan
tanah longsor. keduanya memiliki hak hidup yang sama. Nah ketika saya
dipaksa untuk memutuskan, pastilah saya hanya memutuskan mana yg dapat
menyelamatkan lebih banyak. Itu saja !

Soal kelangkaan BBM mesti dilihat secara proporsional, masalah
Cepu-pun mesti dilihat proporsional, berapa angkanya, apakah giant
atau gajah. Juga bencana, juga busung lapar, juga hal lainnya.
Lihatlah dengan angka.
Jangan sampai hanya terkesima dan reaktif berita yang mencoba
menyentuh hati kita.
Think ... think .. think !

Salam

RDP

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke