On 7/21/05, R.P. Koesoemadinata <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Saya heran kalau Indonesia itu oleh SBY dianggap negara yang paling boros > energy (mungkin yang dimaksud paling murah, jadi paling boros) > Ini dibawah ini data yang saya dapatkan mengenai per capita energy > consumption per year: > Ada tulisan bagus ttg ini rdp ============================= Krisis dan Penghematan Energi – Perspektif Global
Gita Stevani [Kolomnis Ekonomi Pena Indonesia] Penghematan bahan bakar adalah isu yang relevan dan mendesak, tidak hanya di Indonesia tapi secara global. Tingkat konsumsi minyak sekarang sedang secara cepat menuju tingkat yang tak tertanggungkan. Apa saja yang kita konsumsi atau pakai—rumah, seisinya, mobil dan jalan, baju yang kita pakai, dan makanan yang kita santap—memerlukan energi untuk memproduksi dan mengemasnya, untuk mendistribusikannya ke toko atau depan rumah kita, dan kemudian membuangnya ke tempat sampah. Energi yang dibutuhkan untuk mendukung ekonomi dan gaya hidup memberi kenyamanan dan keuntungan luar biasa. Tapi, juga menuntut biaya luar biasa dalam kesehatan, ekosistem dan bahkan keamanan. Konsumsi energi mempengaruhi segala hal, dari utang luar negeri hingga stabilitas Timur Tengah, dari udara yang kita hirup hingga air yang kita minum. Secara global kita menyaksikan bahwa efisiensi penggunaan energi meningkat dalam beberapa dasawarsa terakhir, artinya makin sedikit energi dibutuhkan untuk menghasilkan uang. Tapi, perkembangan bagus itu dikalahkan oleh peningkatan terus-menerus dalam laju konsumsi energi dunia. Konsumsi energi didorong oleh peningkatan jumlah penduduk. Namun , sementara penduduk dunia meningkat tiga kali lipat dari 1850 hingga 1970, peningkatan konsumsi energi naik lebih tajam dari itu: 12 kali lipat. Mengingat laju pertumbuhan penduduk lebih besar di negeri-negeri miskin, jelaslah bahwa peningkatan eksponensial dalam konsumsi energi terjadi di negeri-negeri kaya. Contoh ekstrem adalah Amerika Serikat, negeri yang paling rakus energi. Penggunaan minyak di Amerika selama satu dekade terakhir naik menjadi 2,7 juta barel per hari—lebih banyak dari yang dikonsumsi India dan Pakistan sekaligus, yang keduanya berisi total empat kali lipat penduduk Amerika. Secara total, rata-rata orang Amerika mengkonsumsi lima kali lebih banyak energi dari rata-rata warga dunia, 10 kali lebih dari rata-rata orang Cina, dan 20 kali lebih banyak dari rata-rata orang India. Cina adalah negeri yang sekarang pertumbuhan ekonominya paling cepat. Dengan trend itu, jika rata-rata orang Cina mengkonsumsi energi sama seperti orang Amerika, Cina membutuhkan 90 juta barel minyak per hari—sementara produksi minyak dunia pada 2001 hanya 11 juta barel saja setiap hari. Tekor. Kebutuhan minyak seperti itu tidak akan bisa ditanggung. Di samping mendorong pertumbuhan ekonomi, kita perlu ingat penggunaan minyak juga memiliki ongkosnya sendiri: merosotnya kualitas kesehatan manusia, kian buruknya ekosistem, dan bahkan instabilitas politik dunia. Isu penghematan energi memang isu yang relevan. Masalahnya, siapa yang harus berhemat. Di tingkat global, bukan negeri seperti Indonesia yang harus menghemat atau membatasi penggunaan bahan bakar. Konsumsi minyak per kapita di Indonesia jauh lebih kecil dari negeri-negeri lain. Namun, bukan berarti kita di Indonesia harus melupakan cara untuk menghemat energi. Seperti di tingkat global, ada kesenjangan besar dalam konsumsi energi di tingkat nasional, antara orang kaya dan orang miskin. Dan jika Indonesia harus menghemat, dengan mudah kita pun bisa mendefinisikan siapa yang harus menahan diri untuk konsumsi energi, yang jelas bukan orang-orang miskin. Melalui pajak dan subsidi, regulasi dan standar, dan investasi di infrastruktur, pemerintah mempengaruhi bagaimana, di mana, berapa banyak dan bentuk energi yang dipakai rakyat. Tapi, kita para konsumen bukanlah penonton pasif. Kita bisa berperan dalam penghematan energi. Pada akhirnya konsumen yang menentukan apa yang kita beli dan pakai, maka konsumen bisa mendorong perubahan. Kini, transportasi merupakan pemakan energi terbesar di dunia, sekitar 30% dari penggunaan energi dunia dan 95% konsumsi minyak dunia. Pendorong signifikan dari konsumsi energi untuk transportasi adalah ketergantungan besar pada mobilk pribadi. Sekitar 40,6 juta mobil penumpang dikeluarkan dari pabrik seluruh dunia pada 2002, lima kali lipat dari 1950-an. Mobil penumpang kini berjumlah 531 juta, tumbuh sekitar 11 juta setiap tahunnya. Sekitar seperempat mobil ada di Amerika, tempat mobil dan truk memakan 40% konsumsi minyak nasional dan menyumbang perubahan iklim dunia setara dampak seluruh aktivitas ekonomi Jepang. Jarak total yang dilalui orang Amerika melebihi semua negeri industri maju sekaligus. Sebagai kontras, banyak negara mulai peduli pada transportasi publik untuk membatasi pemakaian mobil pribadi. Di Jepang dan Eropa, banyak investasi dalam infrastruktur transportasi setelah Perang Dunia II terfokus pada kereta api dan sistem transit. Kini sekitar 92% dari penumpang di kota Tokyo berpergian lewat rel, dan orang Jepang hanya menggunakan 55% perjalanan mereka dengan mobil. Eropa Barat menggunakan angkutan publik 10% dari total perjalanan dalam kota, Kanada 7%, dibandingkan Amerika yang hanya 2%. "Ongkos kemacetan" terhadap mobil yang masuk pusat kota, dibarengi dengan investasi lebih baik pada transportasi umum, juga mengurangi penggunaan mobil dan polusi. Di London, sebagai hasil dari penerapan toll ke pusat kota pada 2003, tingkat lalu lintas turun rata-rata 16 persen dalam beberapa bulan pertama, dan banyak pengguna mobil mulai memakai angkutan umum. Transportasi hanya salah satu saja. Di seluruh dunia orang mengunakan sepertiga energi untuk bangunan—pemanas, pendingin, memasak, penerangan, dan menjalankan perlengakapn elektronik. Penggunaan energi dalam gedung meningkat tajam, dan juga di rumah-rumah kita. Tapi ada kesenjangan besar konsumsi enegeri beberapa negeri: orang di seluruh Amerika dan Kanada menggunakan 2,4 lebih banyak energi dari rumah-rumah di Eropa Barat. Meski seperempat penduduk dunia tak punya rumah yang layak atau bahkan tak punya rumah sama sekali, banyak rumah di dunia tumbuh kian luas dan besar. Amerika sekali lagi contoh ekstrem: dari 1975 hingga 2000, rumah-rumah baru di sana tumbuh 38% lebih luas, menjadi rata-rata 210 meter persegi—dua kali lipat dari rumah rata-rata di Eropa atau Jepang dan 26 kali lipat dari ruang hidup rata-rata orang di Afrika. Ketika rumah membesar, tiap rumah membutuhkan ruang lebih luas untuk dipanaskan atau didinginkan, diterangi, dan lebih banyak perlengkapan. Peralatan rumah tangga adalah pemakan konsumsi energi paling cepat peningkatannya setelah mobil, yakni sekitar 30% konsumsi listrik nasional dan menyumbang 12% emisi gas yang menyebabkan global warming. Sementara itu, di negeri-negeri sedang berkembang, penjualan kulkas di India saja diramalkan meningkat 14% setiap tahunnya. Melalui subsidi, pajak, penegakan standar industri yang hemat bahan bakar serta perlakuan lain, kebijakan pemerintah memiliki dampak langsung pada permintaan dan pasokan energi, efisiensi rumah, peralatan, mobil dan pabrik-pabrik. Di Denmark, pajak untuk pendaftaran mobil dibuat sedemikian rupa sehingga sangat tinggi, melebihi harga jual eceran mobil, sementara infrastruktur kereta api dan sepeda diperbaiki. Dampaknya: lebih 30% keluarga tidak memiliki mobil. Jika pemerintah atau perusahaan mensubsidi transportasi publik, orang akan lebih suka naik bus dan subway ketimbang dengan sedan. Di tingkat global, negeri-negeri seperti Amerika lah yang harus menahan diri untuk mengurangi kerakusannya akan bahan bakar. Sayangnya, Presiden George Bush tak nampak tergerak. Negeri itu sampai sekarang menolak Protokol Kyoto yang mengatur emisi buangan energi agar tidak merusak lingkungan bumi makin jauh. Di tingkat nasional Indonesia, orang-orang kaya juga harus menahan diri. Jika mereka tidak bisa menahan diri, pemerintahlah yang berkewajiban memaksa, melalui instrumen pajak serta kebijakan publik lainnya.* --- End forwarded message ---

