Rekan-rekan IAGI yang budiman,
Sehubungan dengan  tulisan tentang Kisah Sepotong Batu Mirah Delima, Pak
Slamet Riyadi dan Pak Awang menanyakan beberapa hal yang mang Okim coba
untuk menjawabnya secara sederhana ( yang ilmiahnya mohon dapat dilengkapi
oleh  Pak Awang dan rekan-rekan gemstone lovers yang lain ) :

PAK SLAMET RIYADI
1. Testing batumulia dengan meneteskan air di permukaannya bukan  metode
yang baku. Tetesan air tersebut tidak akan pecah, baik di Mirah Siam
 sintetis / jenangan ) ataupun di Mirah Sri Langka ( asli ). Faktor yang
mempengaruhi di antaranya kekerasan batuan  ( kaitan dengan porositas dan
permeabilitas ), bentuk permukaan ( cabochon cembung atau rata ) dan
kualitas pemolesan ( beragam jenis quartz family minerals dan glassy basalt
dapat menahan tetesan air seperti halnya mirah delima ).
2. Testing berlian bisa dilakukan dengan Diamond Tester tetapi tidak 100
persen benar. Saya pernah menerima limpahan kerjaan dari salah satu Divisi
di BUMN terkemuka di Jakarta yang mengetes contoh "intan segede kentang".
Konon contoh tersebut memberikan nada positip ketika ditekan dengan diamond
tester. Hasil testing ternyata sekedar kristal kuarsa yang terperangkap
dalam kalsedon/akik.Testing dengan menggesek di alas berwarna belum pernah
saya lakukan. Warna-warna yang muncul mungkin warna spektrum yang merupakan
ciri khas dari gelas atau American diamonds / cubic zirconia (sintetis).
Testing diamond biasanya dengan metode kekerasan ( hati-hati, jangan
merusak ), indeks refraksi ( refractometer ), fluoresen, berat jenis, kilap,
inklusi mineral, dan lain-lain.
3. Apakah masih ada sisa-sisa koleksi batumulia di Jl.Pasundan ? Kalau ke
Bandung singgah ya, nanti kita sama-sama ke Jl.Pasundan. Saya ingin
berkenalan dengan para perintis batumulia.

PAK AWANG
1. Harga batumulia  kecuali berlian/intan sampai saat ini belum ada
standardnya. Kantor Pegadaian sudah mulai menerapkannya sejak beberapa tahun
yang lalu, khusus untuk berlian dan menyusul kemudian untuk beberapa jenis
batu permata mulia ( mirah delima dan sejenisnya ).Oleh karena itu, harga
bisa seenaknya saja, tergantung kelangkaan dan siapa calon pembelinya. Harga
yang normal untuk Ruby in Zoisite misalnya, menurut katalog hanya sekitar
US$ 150 perkilo. Lho kok ditawarkan sampai 100 juta bahkan 1 milyar rupiah
untuk 3 kiloan ? Ya inilah yang namanya seni bisnis. Saya yakin bahwa baik
penjual pertama, Pak Gunawan ataupun  Pak Kasigawa sama-sama tidak tahu
harga sebenarnya dari Ruby in Zoisite tersebut. Sayapun tahunya setelah
proses selesai dan sesuai dengan kode etik bisnis, tak pantas kiranya untuk
ikut campur di dalamnya ( ada beberapa cerita menarik lainnya untuk harga
batumulia ini, nanti insyaallah menyusul ).
2. Testing  dengan metode kekerasan  ( skala Mohs ) masih terus dipakai
sampai saat ini. Kami telah memasarkan yang skala 7 dan sedang mencoba
memroduksi yang skala 5-6-8-9. Metode ini sangat ampuh dalam membedakan
batumulia asli dan sintetis / imitasi seperti giok, opal/kalimaya, pirus,
dll.
3. Anda benar, warna ruby atau mirah delima dipengaruhi oleh unsur besi dan
chromium ( Cr2 O3 ). Temuan-temuan ruby primer di luar negeri berasosiasi
dengan beragam jenis batuan seperti marmer dan dolomit, batuan metamorf
 chlorite-mica schists ),  gneiss, zoisite-amphibolite, granite, basalts,
nepheline syenite, dan tentu saja endapan alluvial ( kualitas
terbaik ).Waktu saya dan rombongan Suiseki Lovers meninjau  Hanoi beberapa
tahun yang lalu, di Luk Yen, sekitar 100 km ke arah barat laut kota ini,
baru saja ditemukan deposit ruby dalam marmer putih. Temuan ini langsung
menjadikan Vietnam terkenal di seantero dunia. Ruby Luk Yen saat itu sudah
dipasarkan di toko-toko permata di Hanoi dan anggota rombongan banyak yang
membelinya ( saya dapat hadiah rough stone dari pemilik toko karena
meng-appraise beberapa transaksi ). Di Indonesia, saya pernah menerima
contoh ruby placer dari Kalteng, bercampur dengan sapphire. Butirannya
sub-anggular sehingga sumber primernya mungkin tidak jauh. Sayang sekali hal
ini tidak ditindak lanjuti oleh DSDM. Di komplek glaucophane schist Sulteng,
yang ketemu baru garnet, demikian juga di Kepulauan Banggai- Peleng.

Rekan-rekan IAGI dan Gemstone Lovers,
Semoga jawaban di atas sesuai dengan harapan Pak Slamet Riyadi dan Pak Awang
( saya kagum sekali atas posting Anda yang mencakup segala macam topics, ya
struktur, evolusi binatang, geokimia, sampai sosekbud).. Rekan-rekan lain
kiranya bisa menambahkan, agar rubrik baru ini bisa lebih hidup. Salam
hangat , Mang Okim
----- Original Message -----
From: "Awang Satyana" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, July 22, 2005 12:57 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Kisah Sepotong Batu Mirah Delima


> Pak Miko,
>
> Terima kasih telah berbagi pengetahuan. Masyarakat sangat tertarik dengan
batumulia (lihat saja kalau ada tukang cincin di trotoar, pasti selalu laku
dikerumuni orang) dan kalau mereka ingin tahu lebih banyak soal batumulia
mereka akan menanyakan kepada ahli geologi, padahal tak semua ahli geologi
itu tahu banyak tentang batumulia seperti Pak Miko. Maka, kalau Pak Miko
berbagi pengetahuan, lumayan ada bekal buat menjawab pertanyaan orang-orang
soal batumulia.
>
> Bagaimana kita menghargai sepotong batumulia itu, maka mirah delima
Tanzania 3 kg bisa berharga Rp 100 juta dan bahkan berani ditawarkan Rp
1milyar ? Lalu, karena mirah delima itu variasi mineral korundum yang punya
kekerasan Mohs 9,0 apakah ia waktu diuji hanya bisa digores dengan intan
yang punya skala kekerasan Mohs 10,0 ? Dulu saya diajari kalau skala Mohs
1-2 bisa digores kuku, 1-3 bisa digores uang tembaga, 1-5 bisa digores
pisau,  1-6 bisa digores kawat baja; apakah ini masih berlaku ?
>
> Tentang genesa mirah delima, ia berwarna merah katanya karena ada
chromium-nya. Karena chromium itu penyusun chromite dan chromite itu
berasosiasi dengan ofiolit, apakah langsung bisa kita katakan kalau mau
mencari mirah delima cari saja dulu wilayah2 mineralisasi kromium di deposit
ofiolit, misalnya Sulawesi Tengah-Tenggara ? Yang mirah delima Tanzania,
karena zoisite itu mineral metamorfik kan kebetulan juga Sulawesi
Tengah-Tenggara itu salah satu wilayah metamorfik terbesar di Indonesia
(Toboli Complex). Siapa tahu kita bisa dapat mengkonsentrasi deposit mirah
delima di situ. Hanya, apa yang biasa menjadi country rock mineralisasi
mirah delima itu ?
>
> Punten, jadi banyak pertanyaan Mang Okim.
>
> salam,
> awang
>
> sujatmiko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Rekan-rekan IAGi yang budiman,
> Marilah kita tinggalkan sejenak topik hemat energi yang dalam minggu ini
telah sedemikian banyak mengundang pendapat. Saya ajak rekan-rekan untuk
menyimak suatu dunia yang jauh dari gunjang-ganjing kritik dan politik.
Topiknya mengenai gemstone atau batumulia, batu permata atau batu aji
(dibakukan oleh Dept. Energi dan Pertambangan dengan istilah batumulia).
Isinya bukan yang rumit-rumit atau kuliah, melainkan pengalaman praktis yang
semoga dapat menambah wawasan rekan-rekan IAGI. Bagi rekan-rekan yang
interested, mari bergabung dalam Gemstone Lovers (penggemarnya di Indonesia
lebih dari 50% dari penduduk dewasa). Dongeng pertama ini insyaallah akan
disambung dengan dongeng-dongeng yang lain, baik dari saya ataupun dari
teman-teman gemstone lovers yang lain ( disarankan dari pengalaman ). OK ?!
>
>
>
> KISAH SEPOTONG BATU MIRAH DELIMA
>
> Rekan-rekan IAGI,
>
> Pak Gunawan adalah seorang anggota Masyarakat Batumulia Indonesia yang
juga pemilik sebuah toko emas dan permata di kawasan Pasar Baru Bandung.
Pada suatu hari dia datang membawa sepotong batu berwarna merah daging yang
terbungkus lapisan batuan tipis berwarna hijau tua. Beratnya sekitar 3 kg.
Dari pengamatan secara quick look dan uji gemologi sederhana, dapat
dipastikan bahwa batu Pak Gunawan adalah sejenis RUBY atau MIRAH DELIMA,
sedangkan lapisan batuan tipis berwarna hijau yang menyelimuti bagian luar
adalah mineral ZOISITE. Menurut Cursio Cipriani, 1986 , di dunia, kombinasi
mirah delima dengan mineral zoisite hanya ditemukan di Tanzania (there is
nothing like it in the mineral world).
>
> Rekan - rekan IAGI,
>
> Sekitar sebulan kemudian, Pak Gunawan datang lagi membawa mirah delimanya,
tetapi kali ini sudah tidak utuh. Bagian bawahnya telah terpotong. Saya
tanyakan kenapa sampai terpotong, Pak Gunawan menjelaskan bahwa mirah
delimanya diperiksakan ke sebuah kantor di Bandung dimana selain dipotong,
sertifikatnya menyatakan bukan mirah delima melainkan batuan ultra-basa
(tidak spesifik menyebutkan zoisite). Bagian batuan yang berwarna merah
ternyata tidak dijelaskan. Batuan ultra basa yang dimaksud adalah lapisan
batuan tipis berwarna hijau yang prosentasenya kurang dari 1%. Melihat
kenyataan ini, peminat mirah delima yaitu Pak Kasigawa, seorang pengusaha
Jepang yang kenal saya, langsung meminta Pak Gunawan untuk memeriksakan
ulang ke Pak Miko. Alhamdulillah, kali ini konsultasi yang saya berikan
mendapatkan imbalan duit karena harus mengeluarkan sertifikat. Hasilnya
tetap seperti pada kesimpulan pertama yaitu MIRAH DELIMA TANZANIA, hanya
disebutkan bahwa telah dipotong.
>
> Menurut cerita Pak Gunawan, sepulangnya dari pemeriksaan quick look
pertama, sebelum masuk ke tokonya, dia bertemu Pak Kasigawa yang sengaja
mengunjunginya. Ketika ditanya tentang batu yang dibawa, Pak Gunawan
menjelaskan bahwa batunya adalah mirah delima (ruby) dengan harga satu
milyar rupiah. Perlu diketahui bahwa pada saat itu, mirah delima Tanzania
memang masih sangat langka. Mendengar penjelasan Pak Gunawan, Pak Kasigawa
yang pengusaha, langsung tertarik dan minta sertifikat. Tanpa pikir panjang,
Pak Gunawan pergisebuah kantor di Bandung, menemui beberapa ahli geologi
yang pekerjaan sehari-harinya memeriksa batuan granit dan sejenisnya.
Karenanya tidak heran kalau mirah delima Pak Gunawan diperlakukan seperti
batu granit, langsung dipotong dan dibuat sayatan tipis agar bisa diperiksa
dengan mikroskop polarisasi. Akibat pemotongan tersebut, berat mirah delima
berkurang sekitar 300 gram.
>
> Rekan-rekan IAGI,
>
> Sungguh kasihan nasib Pak Gunawan. Mirah delima punya orang lain yang
harga penawarannya seratus juta rupiah, langsung ditawarkan ke Pak Kasigawa
satu milyar rupiah. Keuntungan besar yang sudah dibayangkan ternyata berubah
drastis menjadi musibah. Akibat dipotongnya mirah delima tersebut, Pak
Kasigawa tak tertarik lagi bernegosiasi dan selain dari itu Pak Gunawan
dipenalti oleh pemilik mirah delima sebanyak tiga puluh juta rupiah, suatu
jumlah yang saat itu sama nilainya dengan harga sebuah mobil kijang baru.
>
> Dari kisah nyata di atas kiranya perlu diketahui oleh rekan-rekan IAGI
bahwa testing batumulia secara prinsip tidak merusak. Testing kekerasan
misalnya, goresan pensil kekerasan atau hardness pencil maksimum hanya
meninggalkan goresan kecil di tempat yang tidak menyolok. Oleh karenanya,
berhati-hatilah dalam memeriksakan batumulia agar anda tidak bernasib malang
seperti Pak Gunawan.
>
> Sampai bertemu lagi di kisah lain. Untuk para peminat Gemstone Lovers,
seandainya ada pertanyaan di bidang batumulia, jangan ragu-ragu
menyampaikannya., insyaallah akan dicarikan jawabannya. Salam hangat , Mang
Okim.
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke