setubuh....eh setuju....
semua pembunuhan / kekerasan / penindasan dengan alasan agama semuanya
jelas salah ...bukan agamanya yang salah , tapi orang yang mempersepsikan
agama itu untuk tujuan politik dan '
keuntungan pribadi itu yang salah....
di sejarah negara kita sama saja...inget waktu penjajah datang dengan
"gold, glory dan gospel" nya....mungkin pernah baca juga cerita tentang
zaman peralihan dari Majapahit ke Demak yang juga
berdarah - darah....inget cerita tentang pemusnahan orang - orang pki oleh
tokoh - tokoh agama , inget tentang pemboman borobudur, pemboman gereja -
gereja, kerusuhan mei, poso, ambon, bom bali....dsb
Saya pernah baca tulisan seseorang ( saya lupa namannya..), bangsa ini
sedang dalam proses membunuh dirinya sendiri....
pagi - pagi, hari senen kok ngomongin negative mulu ya...??
Regards
Kartiko-Samodro
Telp : 3852
|---------+---------------------------->
| | Minarwan |
| | <[EMAIL PROTECTED]|
| | m> |
| | |
| | 25/07/2005 08:56 |
| | AM |
| | Please respond to|
| | iagi-net |
| | |
|---------+---------------------------->
>-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
|
|
| To: [email protected]
|
| cc:
|
| Subject: Re: [iagi-net-l] Re: RENUNGAN BOM BUNUH DIRI DI LAUT MERAH,
MESIR |
>-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
Kalimat "berbuat sesuatu untuk agama" ini membuat saya ingat pada
sejarah tentang Inkuisisi Spanyol. Orang-orang yang pada waktu itu
berkuasa di gereja melegalkan usaha 'memurnikan' penganut Katolik.
Orang-orang non-Katolik diburu, dijebak dan kalau perlu di-pedang-in
supaya 'kembali ke jalan yang benar'. Semua katanya demi 'menyelamatkan'
orang agar masuk surga. Seandainya pada waktu itu bom telah ada, mungkin
ada pula yang pake bom kali yah.
Sejarah mencatat Gereja pernah melakukan kesalahan besar dan ini menjadi
noda hitam 'demi menyelamatkan orang'. Tampaknya ada sebagian orang yang
tidak mau belajar dari sejarah. Akankah kesalahan seperti ini terulang? :((
Salam
Min
kristiawan candra wrote:
> Dear Pak Eko dan professionals IAGI
>
> Saya hanya seorang junior yang coba ingin sedikit
> komentar mengenai email2 sebelumnya sebab saya menemui
> beberapa ganjalan di hati waktu membacanya.
>
> Kalo seorang barbar "berbicara" dalam bom dan senapan
> dan membunuh orang2 yang dianggap bersalah bagi
> dirinya... Kalo seorang lainnya yang memanggil asma
> Allah dan mengaku bertakwa juga "berbicara" dalam bom
> juga membunuh, bahkan membunuh korban2nya yang belum
> tentu bersalah. Apa bedanya? Apa bedanya orang barbar
> sama orang beriman? Kenapa orang beriman tidak
> "berbicara" melalui pembangunan sesuatu? Bukankah
> menghancurkan dengan bom relatif lebih mudah ketimbang
> membangun society dengan ideologi yang sehat.
>
> Kalo seorang napi yang sadis di penjara seumur
> hidup... Ia sangat bangga akan banyaknya korban2
> pembunuhan yang ia lakukan... Ia begitu bangga
> menceritakan bagaimana ia memperkosa dan membunuh...
> Juga ia sangat bahagia mendengar jeritan dan teriakan
> korban2 tersebut sebelum ia bunuh. Tapi kalo seorang
> agamawi juga bangga membunuh orang lain, mendengar
> teriakan2 ketakutan, bangga dengan banyaknya korban
> yang dihasilkan dari perbuatannya, bahkan lebih parah
> dia bangga membunuh diri sendiri... Apa bedanya
> seorang napi sadis dengan si agamawi? Bukankah seorang
> agamawi seharusnya sadar betapa berharganya kehidupan
> dan nyawa seseorang di mata Allah, Sang Pencipta.
>
> Bagaimana dengan para korban atau keluarga korban???
> Para teroris itu mungkin tidak pernah merasakan
> bagaimana rasanya mengetahui keluarga yang ia cintai,
> istri dan anak2 yang begitu berharga di hati mereka
> terbunuh oleh bom jahanam. Bagaimana dengan kita
> semua? Siapkah melihat istri yang kita cintai, anak2
> yang kita banggakan atau orang2 tua dan kerabat yang
> kita kasihi mati karena "ketulusan" seorang teroris?
>
> Saya harap kita jangan pernah mengalami ditinggal oleh
> orang2 yang kita kasihi karena "ketulusan" seorang
> teroris. Karena ketika saya melihat dengan mata kepala
> saya sendiri kenyataan ditinggal orang yang kita
> kasihi itu sangat pahit, begitu menyakitkan, dan
> menjadi beban yang sangat berat untuk dipikul
> seseorang.
>
> Menurut saya, Terorisme TIDAK bisa dibenarkan atas
> alasan dan segi apapun.Karena seorang teroris tidak
> pernah memikirkan orang lain, dan seorang teroris
> tidak pernah sadar betapa berharganya nyawa dan
> kehidupan seseorang di mata Allah, Sang Pencipta yang
> Rahmani dan Rahimi.Seorang teroris tidak memiliki satu
> bahasa universal yang Allah sudah ajarkan ke umat
> manusia: Kasih!
>
> Mohon maaf bila ada salah2 kata. Saya hanya ingin
> menuangkan komentar saya lewat email ini.
>
> My Best Regards,
>
>
> Kristiawan Candra
> "The truth (Veritas) will set you free"
>
> Processing Dept.
> Veritas DGC Asia Pacific Ltd.
> Union Industrial Building
> 37 Jalan Pemimpin Suite #06 - 01
> Singapore 577177
> email: [EMAIL PROTECTED]
>
>
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)
-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------
This e-mail (including any attached documents) is intended only for the
recipient(s) named above. It may contain confidential or legally
privileged information and should not be copied or disclosed to, or
otherwise used by, any other person. If you are not a named recipient,
please contact the sender and delete the e-mail from your system.
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------