Abah, Itu bukan hipotesis, tetapi teori yang didasarkan kepada interpretasi atas hasil pengukuran (isotop karbon dan oksigen pada batuan karbonat Proterozoikum). Bagaimana bisa sampai ke jumlah konsentrasi CO2 di paleo-atmosfer, itu tentu dijelaskan di iotope geology. Hanya, adalah fakta bahwa kondisi paleo-atmosfer/paleo-klimatologi dan paleo-oseanografi bisa dibaca dari catatan batuan yang kita temukan saat ini. Maka, prinsip deduksinya tetap "the present is the key to the past". Nilai CO2 yang cenderung naik lagi saat ini pun sudah mulai terekam sejak beberapa ratus tahun ini di isotop oksigen O18 air laut saat ini. Bumi rupanya punya buku hariannya sendiri yang disembunyikan di bagian-bagian alamnya (formasi batuan, air laut, dsb.). Contoh yang sering ditunjukkan adalah : bagaimana merekontruksi paleoklimat dari ice core yang digali di kutub. Semua tercatat, hanya kita tak selalu bisa membaca catatannya... salam, awang
[EMAIL PROTECTED] wrote: > Awang yang baik hati Yang Anda ceriterakan dibawah ini sangat menarik . Apakah ini hypothessis ataukah theory ? Kalau itu theory , apakah angka angka yang disebutkan mempunyai bukti berdasarkan suatu pengukuran ? Si Abah. Lanjutan dongeng evolusi CO2 di atmosfer, sebagian didasarkan pada kurva > isotop karbon dan oksigen yang terekam di karbonat paparan. > > Pada mulanya atmosfer Bumi mengandung banyak CO2 yang membuat Bumi panas > karena efek rumah kaca. Oksigen belum ada, belum ada juga ozonosfer di > stratosfer. Sinar UV tak punya halangan apa-apa meradiasi Bumi. Tak ada > kehidupan di Bumi yang panas begitu dan radiasi UV siap membunuh di > mana-mana. Inilah masa Hadean di skala waktu geologi, hadean = hell dalam > bahasa Yunani. > > Sejalan dengan degassing volkanisme global, uap air, nitrogen, dan CO2 > mulai mengisi atmosfer awal. Pada sekitar 500 juta tahun pertama umur > Bumi, atmosfer hanya mengandung sekitar 80 % CO2, 10 % nitrogen, dan 10 % > uap air. Tetapi dominasi CO2 tak berlangsung lama, ia segera turun ke > persentase 40 % pada sekitar 4 Ga (milyar tahun yang lalu) dan pada saat > yang bersamaan nitrogen naik pada persentase yang sama, 40 %. > > Sekitar 3,5 Ga, mulai ada evolusi makhluk hidup yang berklorofil sehingga > memungkinkan proses fotosintesis. Kadar CO2 menurun drastis dengan semakin > efisiennya fotosintesis karena CO2 adalah bahan dasar fotosintesis. > Sebaliknya, oksigen makin kaya seiring makin efisiennya fotosintesis > karena O2 adalah output fotosintesis. O2 mulai muncul pada sekitar 2.3 Ga > dan semakin banyak semakin ke sini, sementara itu, sebelum 1 Ga tercapai > pun, kadar CO2 di udara sudah di bawah 5 %. > > Melalui proses fotokimia yang berhubungan dengan energi panjang gelombang > pendek sinar Matahari, terbentuklah ozonosfer di stratosfer. Maka Bumi > punya perisai terhadap serbuan UV. Bumi pun semakin turun panasnya sebab > CO2 tak lagi memayungi Bumi sebagai greenhouse gas. Dan, merayaplah > kehidupan2 yang semula bersembunyi jauh di kedalaman laut, naik ke > daratan. Bumi sudah nyaman untuk dihuni di semua biosfernya. > > Sekarang CO2 tengah merayap naik lagi, terutama karena polusi kendaraan > dan industri. Sebelum zaman industrialisasi, kadarnya di atmosfer 280,000 > ppbv (part per billion by volume), itu di tahun 1750-1800, sekarang naik > ke 370,000 ppbv. CO2 tak beracun, maka boleh saja dibuang di angkasa, ia > malahan bisa dipakai fotosintesis menghasilkan oksigen. Hanya, ia adalah > greenhouse gas yang paling gampang menaikkan panas. Suatu molekul CO2 akan > berada di udara 4-6 tahun, sesudah itu akan terurai dengan sendirinya. > > salam, > awang > > Awang Satyana wrote: > Buat negara berkembang, Protokol Kyoto tak mengatur emisi gas buang CO2, > maka 100 % gas CO2 kalau mau bisa dibuang ke udara atau ke laut. Indonesia > yang telah menandatangani Protokol Kyoto pun tak kena larangan apa2 soal > CO2, kalau NOx dan SOx ada nilai tertentu ambang batas diizinkan. Maka, > KLH, institusi yang berwenang di Indonesia, tak mengatur masalah emisi > CO2. > > Kalau mau, maka 100 % CO2 di Natuna D-Alpha itu bisa saja kalau mau > dibuang ke udara. Itu memang tidak diatur-atur. Hanya, yang jadi masalah > adalah tingkat opacity - kecerahan, kalau buangan CO2 menimbulkan opacity > sampai tinggal 40 % di langit, itu tidak boleh (nanti pesawat2 saling > tabrakan he..), kalau selama tidak menimbulkan gangguan opacity, ya 100 % > CO2 yang diproduksi pun boleh2 saja dibuang. > > Itu kalau di kita, negara berkembang, kalau di negara maju tak boleh, ada > ambang batasnya, karena langit mereka sudah fully polluted. Maka kalau > akan diinjeksi ke formasi batuan, itu sebenarnya aturan di negara maju, > bukan di negara berkembang. Kalau di Indonesia yang aturannya boleh > dibuang, tetapi diinjeksi, maka Indonesia akan dapat point dari PBB. > Tetapi harus diingat bahwa menginjeksi itu butuh biaya besar dan nanti pun > di-cost recovery. Jadi, menginjeksi CO2 bukanlah beralasan lingkungan > sebenarnya, sebab aturannya tak ada, tetapi harus diwaspadai juga sebagai > project-oriented. > > Kalau dulu di atmosfer kandungan CO2nya hanya seperti sekarang (< 1 %), > maka tak akan ada lapisan2 batuan karbonat yang tebal2 seperti di Arab > itu. Atmosfer Bumi memang pernah begitu banyak terakumulasi CO2 yang > keluar dari interior Bumi pada Proterozoikum/Pra-Kambrium. Saat > terbentuknya, atmosfer Bumi hanya kaya H dan He, dua unsur paling > berlimpah di Alam Semesta. Kemudian, saat interior Bumi belum > terdiferensiasi dengan baik, tak ada medan magnetik, dan akibatnya tak ada > juga lapisan magnetosfer di langit. Karena tak ada magnetosfer, maka enak > saja zarah-zarah (partikel) bermuatan (ion) hasil solar winds menyapu > bersih cikal bakal-cikal bakal penyusun atmosfer Bumi. Nah, setelah ada > magnetosfer, maka solar winds sebagian besar bisa ditangkal sehingga > unsur2 penyusun atmosfer mulai terbentuk. > > Lalu sejak Proterozoikum pun mante plume upwelling telah terjadi ke > permukaan dan ini jadi volkanism skala global yang akan membuang CO2 dalam > skala masif, dalam proses global outgassing, CO2 pun menjadi perisai Bumi, > persis seperti langit Venus sekarang. Tetapi atmosfer Bumi tak tetap penuh > CO2, radiasi ultraviolet memecah atmosfer melalui proses disosiasi > fotokimia, menghasilkan uap air di atmosfer. Lalu terjadi hujan besar > jutaan tahun yang menghasilkan laut2 di Bumi, CO2-nya terbawa turun ke > laut dan menjadi paparan2 karbonat berumur Lower Cambrian di China, > Siberia, dan Amerika Utara. Lama-kelamaan atmosfer yang komposisinya mirip > sekarang makin terbentuk. Introduksi CO2 ke atmosfer dari volkanisme > tinggal kecil saja. Introduksi CO2 skala besar ke atmosfer dari interior > Bumi terjadi di Late Cretaceous, saat2 Cenomanian-Maastrichtian volcanism > terjadi seiring punahnya dinosaurus. Basalt Deccan Trap di India bisa jadi > salah satu bukti volcanism itu. > > Nah, begitu dongengnya... > > salam, > awang > > Rovicky Dwi Putrohari wrote: > Bagaimana dengan regulasi utk merelease CO2 ke udara bebas ? > Saya tahu gas ini tentunya bisa berbahaya bagi lingkungan. Namun kita > juga tahu wong daun saja melepas CO2 kalau malam hari kan, apalagi > kita yg menghembuskan nafas CO2 juga ? > Berapa prosen masih "diperbolehkan" ? Dan siapa yg berhak melarang > atau memperbolehkan ? pemerintah ? Apakah CO2 ini masuk dalam > perjanjian emisi gas buang ? > > Dua bulan kmaren saya ngobrol dengan salah seorang temen Indonesia di > KL sini, yg crita bahwa mereka merilis CO2 ke udara, ntah berapa > prosen yg dilepas ke udara bebas, hanya memberikan hint bahwa > kandungannya asalnya lebih dr 50%. Tetapi katanya pemerintah My > memperbolehkannya tentunya ada ambangnya, namun angka ini yg saya > kurang tahu berapa prosennya. > > Btw, dalam sejarah geologi kandungan C02 ini di udara pernah jauuuh > melampaui kondisi saat ini. Nah Pak Awang tentunya punya dongeng > sejarah CO2 ini, sejak jutaan tahun lalu. > > RDP > > ======= > > > --------------------------------- > Yahoo! Mail for Mobile > Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone. --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) --------------------------------------------------------------------- __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com

