>
>
> Oki ,

  Jangan heran mengapa isi editorial koran yang cukup "pintar"
  seperti ini .
  Editorial ini menunjukan seolah-olah penulis editorial ini tidak mengerti
  sistim PSC , padahal koran sekaliber media indonesia kan tdk mungkin.
  Disinilah kemudian "interest pribadi pemilik koran" yang menentukan ,
  jangan lupa bahwa Surya Palloh telah menandatangani MPU dengan Pemda ,
  dengan demikian SP akan dapat menalangi kewajiban PemDa,   SP akan menda-
  pat konsesi yang tentunya menguntungkan. Hal mana mungkin tidak akan
  terjadi bila bermitra dengan Pertamina.
  Atau lebih buruk lagi ! Apakah SP sudah menjadi agen perusahaan multi-
  nasional ? Masa yaaaa ????
  Dus , inilah salah satu  akibat liberalisasi dalam mas media , yang
  mau tidak mau akan terjadi,yaitu mempengaruhi opini publik dengan
  infformasi yang menyesatkan.

  Si Abah.


  Dari editorial kamis media Indonesia.
>
> Kelihatannya posisi PTM di fait acomply (sp?) dalam editorial ini.
>
>
>
> Oki
>
>
>
> Pertarungan Minyak Pertamina-Pemerintah
>
> SEBUAH perundingan panjang dan melelahkan telah terjadi antara pemerintah
> Republik Indonesia bersama Pertamina dan Exxon Mobil mengenai pengelolaan
> ladang minyak di Blok Cepu. Perundingan yang dimulai sejak 1990 itu baru
> mencapai kesepakatan pada Juni 2005 dengan penandatanganan nota
> kesepahaman. Siapa pun yang menandatangani MoU, itu adalah kesepakatan
> antara pemerintah Republik Indonesia dan Exxon Mobil, perusahaan minyak
> terbesar di dunia yang bermarkas di Houston, Amerika Serikat.
>
> Tidak mudah, memang, mengegolkan sebuah MoU dengan perusahaan sekaliber
> Exxon. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri terlibat dalam lobi,
> entah dengan Exxon, entah dengan pemerintah Amerika Serikat agar
> kesepakatan segera diteken.
>
> Maka, ketika MoU ditekan, tidak hanya pers di dalam negeri yang mewartakan
> deal tersebut. Pers terkemuka dunia pun memberitakan secara luas
> kesepakatan itu. Kesepakatan yang membuka jalan agar kandungan minyak
> sekitar 350 juta barel di Blok Cepu segera dipompa keluar untuk
> menghasilkan devisa bagi Indonesia yang sedang mengalami krisis keuangan
> amat parah.
>
> Menurut MoU yang diteken itu, porsi penerimaan pemerintah adalah 87%.
> Porsi ini naik dari 50% pada 1990, naik lagi menjadi 56% pada perundingan
> 2004, dan melonjak lagi menjadi 87% pada kesepakatan 2005. Dari sisi ini,
> pemerintah Indonesia sukses memaksa Exxon.
>
> Dengan asumsi harga minyak US$50/barel, 87% porsi pemerintah setara dengan
> sekitar US$8 juta per hari atau US$3,6 miliar setahun. Jumlah yang sangat
> memadai untuk mengatasi krisis keuangan negara.
>
> Akan tetapi, seluruh potensi penerimaan itu sekarang berada dalam bahaya.
> Bahaya karena Pertamina ingin mengubah MoU yang sudah ditekan dengan
> meminta lagi jatah 10% participate interest yang diberikan kepada
> pemerintah daerah.
>
> Sungguh sebuah ironi besar ketika sebuah kesepakatan pemerintah dengan
> Exxon bisa dibatalkan oleh Pertamina yang notabene adalah BUMN milik
> pemerintah. Bagi Exxon, dan juga bagi investor dunia, kasus ini--kalau
> tidak segera diatasi--akan meruntuhkan citra Indonesia. Kita akan dianggap
> sebagai negara yang tidak tahu dan tidak menghargai kesepakatan.
> Kesepakatan pemerintah bisa dianulir oleh direksi sebuah BUMN. Di manakah
> koordinasi? Di mana dan siapakah yang memegang kendali dan komando? Apakah
> arti sebuah MoU?
>
> Tidak cuma itu. Kalau MoU ini dibatalkan hanya karena Pertamina tidak
> berkenan, potensi penerimaan yang US$3,6 miliar setahun belum juga
> terealisasi karena sesama organ pemerintah berkelahi memperebutkan porsi.
> Kita ibarat itik yang mati kehausan di atas danau yang berlimpah air.
>
> Exxon yang merasa dibohongi kemungkinan akan mengadukan kasusnya ke
> Mahkamah Internasional. Dan yang tidak kalah penting, pembatalan itu akan
> menyebabkan investor menjauhi negeri kita. Maka, diplomasi 'buka praktik'
> yang dilakukan SBY dengan para investor terkemuka di dunia dalam berbagai
> kunjungan ke luar negeri akan berantakan.
>
>
>
> ---------------------------------
>  Start your day with Yahoo! - make it your home page



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke