http://www.gatra.com/artikel.php?id=87585

Menolak Kesepakatan Tanpa Nama

AGUSTUS tahun lalu, beberapa jam setelah menjabat sebagai Direktur Utama PT
Pertamina, Widya Purnama langsung melontarkan pernyataan menantang. Pria
bertubuh tinggi besar ini bertekad melawan siapa saja yang merugikan
Pertamina. "Saya akan lawan mereka, bahkan saya siap mati melawan mafia
perminyakan," katanya di hadapan wartawan cetak dan elektronik.

Masih belum puas. ''Aparat dapat bertindak tegas terhadap penyelundup. Kalau
perlu, tembak saja!'' katanya bersemangat. Sebagai orang dengan bekal nol
pengalaman di bidang perminyakan, tekad Widya itu terdengar nekat. Pria 51
tahun ini juga menyatakan akan menolak pihak lain yang mengobok-obok
Pertamina.

Kenyataannya, selama satu tahun menjabat, kursi Widya justru sering
digoyang. Pekan lalu, goyangan untuk melengserkan Widya makin kencang.
Menteri Negara BUMN, Sugiharto, memberi isyarat bahwa jabatan Widya tak bisa
diperpanjang lagi. ''Insya Allah, akan diganti sebelum akhir bulan ini,''
katanya.

Seperti sadar akan nasibnya, Jumat pekan lalu Widya mengundang wartawan ke
kantornya. Tapi jumpa pers itu tidak didesain sebagai pertemuan perpisahan.
Semua anggota direksi Pertamina hadir lengkap. Seolah-olah ingin menyatakan
bahwa direksi kompak dan tidak ada masalah serius di Pertamina.

Dengan tetap bersemangat, Widya memaparkan kinerja Pertamina selama berada
di bawah kekuasaannya. Misalnya, ia menyebutkan pemasukan bersih Pertamina
di luar pajak, depresiasi, dan pengeluaran non-kas lain (EBITDA) dari sektor
hulu mencapai Rp 6,72 trilyun hingga pertengahan tahun ini. Widya yakin akan
melampaui target pemerintah Rp 10 trilyun di akhir tahun. EBITDA sektor
hilir juga melampaui target.

Sekadar mengingatkan, ketika tiga bulan pertama menjabat sebagai direktur
utama, Widya pernah mendapat surat teguran dari Sugiharto. Ia dinilai belum
mampu menghasilkan EBITDA sesuai target pemerintah. Dengan pemaparan itu,
Widya seperti hendak menunjukkan bahwa kinerjanya selama ini makin baik.

Tapi, selantang apa pun pernyataan Widya, kekuatan yang hendak mencopotnya
sulit tertandingi. Selain Sugiharto, Menteri Koordinator Perekonomian,
Aburizal Bakrie, pun menyatakan bahwa Widya tidak akan dipertahankan lagi.
Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah memberi lampu hijau. Kepada lingkaran
dalamnya, Aburizal dan Kalla beberapa kali mengungkapkan kejengahannya
terhadap gaya kepemimpinan Widya.

Widya pun dianggap membangkang pada pemerintah dalam kasus sumur minyak
Cepu. Blok yang mengandung 1,4 milyar barel minyak itu sempat ditelantarkan
ExxonMobil Oil Indonesia selama empat tahun. Perusahaan ini semula memiliki
konsensi menggarap sumur Cepu sampai 2010.

Namun perusahaan asal Amerika itu meminta perpanjangan kotrak hingga 20
tahun. Exxon mengaku telanjur menggelontorkan uang hingga US$ 450 juta untuk
pembelian saham Humpuss dan biaya eksplorasi. Jika masa konsesinya hanya
sampai 2010, Exxon mengaku tekor. Tapi Pertamina menganggap pengeluaran
Exxon tak lebih dari US$ 147 juta.

Adalah Widya yang berani menghentikan kerja sama dengan ExxonMobil, 26
Agustus tahun lalu. Alasannya, ExxonMobil tidak beriktikad baik. ''Semua
anggota direksi Pertamina setuju. Jadi, ini keputusan resmi,'' kata Widya.
Keputusan itu diambil melalui kajian finansial dan teknis.

Keputusan Widya mengundang kegeraman ExxonMobil. Sampai-sampai, kasus ini
menjadi agenda pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat George W. Bush
dan Susilo Bambang Yudhoyono, saat keduanya berjumpa di pertemuan APEC,
Cile, November tahun lalu.

Pulang dari Cile, pemerintah langsung berbenah. Menteri BUMN Sugiharto
membentuk
tim perunding dengan ExxonMobil, 29 Maret 2005. Tim itu diketuai Martiono
Hadianto, yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina. Anggota tim
10 orang, terdiri dari Martiono, Roes Aryawijaya, Lin Che Wei, Muhammad
Abduh, Umar Said, Mustiko Saleh, Iin Arifin Takhyan, Achmad Rochjadi, M.
Ikhsan, dan Rizal Mallarangeng.

Dalam daftar itu tidak tampak nama Widya. Direksi Pertamina hanya diwakili
oleh
Mustiko Saleh, Wakil Direktur Utama Pertamina. Sedangkan semua anggota
komisaris Pertamina ada di sana. Lin Che Wei adalah tenaga ahli Sugiharto
yang menjabat sebagai sekretaris dalam tim tersebut.

Saat ini, Lin sudah menjabat sebagai Direktur Utama Danareksa. Jauh sebelum
terlibat di Cepu, Lin Che Wei pernah menjadi anggota tim pemerintah untuk
berunding dengan Cemex dalam kasus Semen Gresik. Sedangkan Ikhsan dan Rizal
tercatat sebagai tenaga ahli Aburizal di Kementerian Perekonomian.

Penunjukan anggota tim itu juga diikuti penetapan tiga anggota yang memiliki
kapasitas istimewa, yakni Martiono, Lin Che Wei, dan Roes Aryawijaya. Tanpa
ketiga orang ini, negosiasi dianggap tidak valid. Bahkan rapat sudah
dianggap kuorum asal ketiganya hadir dalam perundingan. Tapi, kepada Gatra,
Martiono menyatakan bahwa sebagian besar anggota tim hadir setiap ada rapat.

Pembentukan tim oleh pemerintah itu menyudutkan Widya. Dia berpendapat,
seharusnya Pertamina-lah yang menjadi perunding dengan ExxonMobil. Sikapnya
itu didukung para anggota Dewan Perwakilan Rakyat, yang merasa bahwa
pemerintah sedang dikadali oleh Amerika. ''Kami tak mengakui tim perunding
itu,'' kata Alvin Lie dari Komisi VII DPR-RI yang membidangi energi.

Dalam perjalanan selanjutnya, Martiono makin tampak berseberangan dengan
Widya.
Tiba-tiba saja, Martiono mengumumkan dicapainya kesepakatan dengan
ExxonMobil. Pengelola Blok Cepu adalah konsorsium yang terdiri dari
Pertamina, ExxonMobil, dan pemerintah daerah. Pertamina mendapat saham 45%,
ExxonMobil 45%, dan pemda 10%. Konsep kesepakatan itu tertanggal 25 Juni
lalu.

Widya merasa dirugikan dengan kepemilikan Pertamina yang minoritas itu. Jika
ada kasus, posisi Pertamina jadi lemah. Ia khawatir, asing akan menyetir
perusahaan. Kesepakatan itu juga dianggap janggal, karena melibatkan tiga
pemda yang berhak ikut dalam Blok Cepu. Yakni Bojonegoro dan
Tuban --keduanya di Jawa Timur-- serta Blora, Jawa Tengah.

Kenyataannya, pemda tidak punya cukup uang untuk ikut mengelola minyak.
Pemda mengundang pihak ketiga. Kabupaten Bojonegoro, misalnya, mendirikan PT
Asri Dharma untuk mengelola Cepu. Perusahaan ini menggandeng PT Surya Energi
Raya milik Surya Paloh, pengusaha yang juga Ketua Dewan Penasihat Partai
Golkar.

Menurut versi Widya, pemda seharusnya tidak ikut mengelola. Sebaiknya pemda
mendapat jatah dari Pertamina. ''Semua kendali ada di Pertamina,'' katanya.
Bila saham pemda masuk ke Pertamina, maka Pertamina menjadi mayoritas
tunggal, dengan kepemilikan saham 55%.

Dalam kesepakatan itu, Widya tidak ikut tanda tangan. Yang nongol adalah
tanda tangan Martiono, tanpa nama. Hanya tertulis "ketua tim perunding Blok
Cepu" dalam bahasa Inggris. Pada posisi wakil pemerintah tertulis Menteri
Koordinator Perekonomian plus tanda tangan Aburizal Bakrie di atasnya.

Anehnya, tak ada tanda tangan pejabat penting lainnya yang selama ini
membidangi minyak dan gas. Misalnya Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu
Minyak dan Gas Bumi (BP Migas), Kardaya Warnika, atau Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro.

Sedangkan dari pihak ExxonMobil terdapat tanda tangan pejabat dari Mobil
Cepu Ltd dan seorang Managing Director Ampolex Pte Ltd. Semuanya tanpa nama
jelas. Ampolex adalah perusahaan asal Australia, mitra ExxonMobil di Cepu.

Penolakan Widya atas hasil kesepakatan dengan ExxonMobil adalah salah satu
sikap ketegasannya kepada pemerintah. Tapi, bagi para menteri, sikap Widya
malah bikin pusing. Apalagi bukan kali ini saja Widya membangkang perintah.

Dalam kasus Karaha Bodas, Widya menolak membayar US$ 300 juta atas kerugian
akibat pembatalan proyek ini. Meski di tingkat Arbitrase Internasional,
Indonesia dinyatakan kalah, Widya tetap ogah membayar sebanyak itu. Menurut
dia, Pertamina hanya pantas membayar sekitar US$ 50 juta, sesuai dengan
biaya yang telah dikeluarkan Karaha. Kasus Karaha Bodas ini sampai sekarang
belum kelar (lihat: Copot Pucuk, Cari Celah).

Widya juga sempat dituduh sebagai biang keterlambatan pasokan bahan bakar
minyak, Juni lalu. Waktu itu, di beberapa daerah terjadi antrean panjang
kendaraan di SPBU. Menteri Keuangan, Jusuf Anwar, menyangka ada problem
manajemen pembelian BBM di Pertamina.

Dalam kasus ini, Widya tak balik menyerang Jusuf. Tapi Widya menolak kalau
dikatakan ada masalah manajemen pembelian BBM. Ia hanya mengatakan, dana
untuk mengimpor BBM biasanya ditransfer ke Pertamina pada awal bulan.
Faktanya, uang untuk membeli BBM tidak cukup. Ketika terjadi kelangkaan itu,
pemerintah kembali menyetor uang pada 24 Juni, sehabis sidang kabinet, atas
perintah presiden.

Besarnya kucuran uang dari Departemen Keuangan dengan kebutuhan Pertamina
memang kadang berbeda. Sebab Jusuf Anwar menggunakan harga minyak yang
dipatok anggaran. Sedangkan Pertamina membeli minyak berdasar harga pasar.
Saat ini, kelangkaan BBM sudah tidak terjadi lagi.

Masih soal BBM, Widya juga pernah dituduh mendahului pemerintah, ketika
Pertamina menaikkan harga Pertamax dan elpiji, akhir tahun lalu. Ketika itu,
pemerintah baru merencanakan menaikkan bensin dan solar. Kenaikan harga
Pertamax itu langsung diantisipasi masyarakat untuk memprotes rencana
kenaikan harga bensin dan solar. Pemerintah akhirnya menunda kenaikan
premium dan solar. Widya pun mendapat peringatan dari Sugiharto.

Dalam hal ini, Widya sebetulnya tidak bersalah, sebab tanggung jawab
kenaikan harga Pertamax memang ada di Pertamina. Pasalnya, Pertamax tidak
mendapat subsidi dari pemerintah. Kalau harganya tidak dinaikkan, Pertamina
bisa rugi hingga Rp 500 juta per tahun. Kekeliruan Widya saat itu, ia tidak
berkonsultasi dengan menteri lain. Widya pun tidak melapor pada Sugiharto
ketika mengangkat direksi dan komisaris salah satu anak perusahaan
Pertamina.

Sederet dosa Widya itu menyeretnya ke ujung jurang. Pemerintah kini tengah
menggodok nama-nama pengganti Direktur Utama Pertamina. Kali ini, proses uji
kelayakan dan kepatutan tidak seperti biasa. Kata Sekretaris Menteri BUMN,
Said Didu, pihaknya tidak lagi menyodorkan daftar pendek calon kepada Tim
Penilai Akhir (TPA) seperti yang sudah-sudah. "Kelihatannya TPA sudah punya
daftar sendiri," ujar Said. Kementerian BUMN menangani administrasinya saja.

Calon terkuat adalah Martiono, kawan serumah Widya di Pertamina. TPA yang
diketuai presiden itu dikabarkan sudah setuju dengan Martiono. Aburizal dan
Jusuf
Kalla pun mendukung. Namun masih ada calon lain yang pantas dipertimbangkan.
Antara lain, Direktur Jenderal Migas Iin Arifin Takhyan dan Kepala BP Migas
Tubagus Haryono. Ketika dikonfirmasi, Martiono tidak berani menyatakan
kansnya untuk menjadi Direktur Utama Pertamina. ''Pejabat yang berwenang
saja belum menentukan, kok,'' katanya.

Pengamat perminyakan, Kurtubi, menyatakan bahwa Martiono tahu isi perut
Pertamina. Saat menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina di bawah Presiden
B.J. Habibie, Martiono dikenal sebagai tokoh yang dekat dengan karyawan dan
pejabat lain. ''Di saat senggang, dia kan pintar nyanyi. Direktur-direktur
lain nggak pernah menyanyi," ujarnya.

Tapi Alvin Lie mempertanyakan mengapa harus Martiono. ''Apakah kita
kekurangan kader sehingga harus daur ulang?'' katanya sengit.

Widya yang sedang menghadapi kemungkinan kehilangan jabatan mencoba tegar.
''Saya anak tentara, hidup di asrama. Saya akan loyal dan bilang: yes Sir!''

Rihad Wiranto, Astari Yanuarti, Hatim Ilwan, dan Arief Ardiansyah
[Laporan Utama, Gatra Nomor 41 Beredar Senin, 22 Agustus 2005]

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke