Bukannya jadi provokator....
kayaknya pemerintah jadi punya amunisi buat mengatakan pertamina tidak
kompeten , sehingga blok cepu tidak pantas diserahkan ke pertamina...??
kok pas - pasnya bersamaan dengan kasus cepu ya waktunya....?
Regards
Kartiko-Samodro
Telp : 3852
|---------+---------------------------->
| | "Riky Innaka" |
| | <[EMAIL PROTECTED]|
| | om> |
| | |
| | 15/09/2005 07:54 |
| | AM |
| | Please respond to|
| | iagi-net |
| | |
|---------+---------------------------->
>-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
|
|
| To: <[email protected]>
|
| cc:
|
| Subject: [iagi-net-l] Kasihan
|
>-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
Lawelawe dan Kendurnya Pengawasan Pertamina
15/9/200506:33? Jumlah minyak mentah yang
dirampok itu melebihi angka 12.600 ton.
Dirut Pertamina Widya Purnama tak menyangka
pihaknya bisa kecolongan. Widya menduga,
oknum-oknum sengaja mempermainkan loses
minyak mentah.
[IMAGE]
Liputan6.com, Jakarta:Sebuah penampungan minyak mentah
terapung atau single buoy mooring di Lawelawe, Kalimantan
Timur, sepekan terakhir menyedot perhatian khalayak. Betapa
tidak, melalui terminal terapung milik Pertamina itu,
sekitar 12.600 ton minyak mentah dengan mudahnya berpindah
tangan kepada para pencuri dan dibawa ke luar negeri.
Kendati sudah ditangani pihak kepolisian, jumlah tersangka
yang saat ini hampir mencapai bilangan 30 jelas mengejutkan
berbagai kalangan. Ternyata, sebagian di antara mereka
adalah pegawai dan karyawan kontrak Pertamina.
Perampokan. Itulah kata yang pantas dikenakan terhadap aksi
penyelundupan minyak mentah di Terminal Lawelawe, terutama
di tengah maraknya kelangkaan bahan bakar minyak di
sejumlah daerah. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun
gerah. Beberapa hari silam, bersamaan dengan rekonstruksi
kasus penyelundupan minyak mentah di Lawelawe, Presiden
Yudhoyono memanggil jajaran direksi Pertamina. Seusai
pertemuan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Direktur
Utama Pertamina Widya Purnama mengaku para pelaku hanyalah
pegawai rendahan yang terdiri dari pegawas jaga kapal, juru
minyak hingga juru masak [baca: Dirut Pertamina:
Penyelundup BBM Hanya Pegawai Rendahan].
Toh, bantahan Widya Purnama saat itu justru menimbulkan
pertanyaan dari sejumlah kalangan. Benarkah hanya pegawai
rendahan yang terlibat? Nah, sejak itulah Widya Purnama
bergerak cepat, terlebih pengusutan polisi telah jauh.
Selain memecat sejumlah pegawai, Widya akhirnya menyerahkan
setumpuk laporan penyelewengan BBM ke Markas Besar Polri.
Ternyata, perkembangan pengusutan polisi lebih jauh lagi.
Adadua temuan menarik di lokasi penyelundupan minyak di
Unit Pengolahan V Balikpapan, Kaltim. Pertama, RTC di
Lawelawe dan Balikpapanternyata rusak sejak September 2004.
Alhasil, tak ada catatan pasti minyak mentah yang
diproduksi dan dikirim ke terminal Balikpapandan Lawelawe
[baca: RTC di Lawelawe Telah Setahun Rusak].
Pertamina pun mengaku kecolongan. "Kita tidak pernah
berpikir crude [oil](minyak mentah) bisa dicolong. Ternyata
bisa dicolong," ujar Dirut Pertamina Widya Purnama dalam
acara Topik Minggu Ini, Rabu (14/9) malam. Dialog yang
dipandu reporter SCTV Bayu Sutiyono ini juga dihadiri
anggota Komisi VII DPR Ami Taher. Adapun di ujung telepon
ada Direktur Pemberitaan SCTV Karni Ilyas yang dua hari
terakhir ini menyertai Tim Mabes Polri meninjau lokasi
penyelundupan minyak di Unit Pengolahan V Balikpapan,
Kaltim.
Widya Purnama boleh saja mengaku kecolongan. Namun Ami
Taher justru menyayangkan lemahnya pengawasan Pertamina.
"Pihak Pertamina perlu melihat keterkaitan dengan orang
Pertamina dan pihak lainnya yang terlibat dalam hal ini,"
kata Ami Taher. Ia melihat, betapa mudahnya kapal asing
merapat di ponton minyak terapung tersebut. Padahal,
menurut Ami, sudah seharusnya kedatangan kapal itu
terdeteksi petugas Bea Cukai atau Satuan Polisi Laut.
Ami juga mempertanyakan otorisasi dari petugas jaga dalam
menjaga aset Pertamina yang begitu besar, yakni senilai Rp
3 triliun. "Hanya dikomandoi oleh petugas saja itu terlalu
naif juga," ujar Ami.
Menanggapi sederet pertanyaan itu, Widya mengatakan, semua
pihak bertanggung jawab memantau masuk dan keluarnya stok
minyak mentah. Adapun mengenai dugaan keterlibatan orang
dalam Pertamina, Widya mengaku akan menindak tegas
oknum-oknum tersebut hingga ke akar-akarnya.
Penindakan memang penting, akan tetapi lebih penting lagi
menghitung jumlah kerugian yang diderita. Setidaknya
seperti yang dilontarkan Karni Ilyas. Menurut Karni,
pengusutan besarnya kerugian atas kasus pencurian minyak
mentah tersebut mengalami hambatan. Tak ada catatan pasti
mengenai besarnya minyak mentah yang diproduksi dan dikirim
ke terminal Balikpapandan Lawelawe. "Semua minyak yang
masuk di SPM Lawelawe berupa crude oil dari luar negeri
tanpa record sama sekali," kata Karni.
Karni pun mengungkapkan, alat yang ada untuk mengawasi
barang masuk dan keluar yang dinamakan automatic tank
gauging (ATG) dan level indicator (Li) itu tidak berfungsi.
Adapun kerusakannya terjadi sudah lama. Namun awal rusaknya
alat-alat itu belum diketahui secara pasti waktunya. Lebih
jauh Karni menuturkan, untuk mendata lalu lintas minyak
mentah tersebut selama ini dilakukan dengan cara ditulis.
Lantaran itulah, menurut Karni, kasus ini sudah bukan
perkara pencurian maupun penyelundupan melainkan
perampokan. "Karena semuanya itu tanpa bayar sama sekali
kepada negara. Yang ada hanya kepada oknum-oknum. Dan, itu
diakui oleh petugas lapangan," jelas Karni [baca: RTC di
Lawelawe Telah Setahun Rusak].
Widya tampak terkejut dengan hasil penemuan Karni. Menurut
Widya, kerusakan tersebut seharusnya bisa cepat diketahui.
"Kita akan usut besok pagi apakah benar ini. Mesti ada yang
bertanggung jawab," kata dia. Karni pun mengatakan, salah
seorang pejabat Pertamina di Balikpapan sudah meminta
perbaikan ke Jakarta, tapi belum terlaksana sampai
sekarang. "Tapi bisa saja mereka tidak meminta perbaikan,"
kata Karni.
Hasil penemuan di lapangan itu agaknya juga mengejutkan
Ami. Karena itu, Ami menyarankan, sudah seharusnya
Pertamina berusaha memperbaiki alat-alat yang rusak
tersebut. Alat itu (ATG) sudah lama rusak dan itu sangat
menentukan besarnya volume minyak," ujar Ami. Satu lagi
kelemahan Pertamina yaitu adanya kebijakan soal batas
toleransi tingkat kebocoran loses) sebesar 0,5 persen. Ami
menilai, jumlah tersebut nilainya terlalu besar. Itu bila
dihitung tingkat kerugian yang dialami Pertamina.
Pendapat Ami diamini Widya. Jumlah tersebut memang terlalu
besar. Ia pun menduga, batas toleransi inilah yang
dimanfaatkan para oknum mencuri minyak mentah.
"Jangan-jangan loses ini yang dipermainkan," ucap Widya
yang sebelum memimpin Pertamina adalah Dirut PT Indosat.
Bila dugaan itu terbukti, Pertamina jelas kedodoran dalam
pengawasan di SBM Lawelawe, Kaltim. Walau begitu, Widya
tetap berupaya mengatasi kasus pencurian dan penyelundupan
minyak mentah ke luar negeri tersebut. Salah satu
solusinya, menurut Widya, pihaknya bekerja sama dengan
Polri. Bahkan, dalam waktu dekat, Widya bakal memberikan
data kapal-kapal, khususnya yang masuk ke Terminal
Balikpapan dan Cilacap, Jawa Tengah, kepada Kepala Polri
Jenderal Polisi Sutanto. Data tersebut di antaranya berisi
informasi mengenai jadwal kedatangan dan muatan kapal.
"Dengan data ini semoga [penyaluran minyak mentah] bisa
lebih diawasi lagi," ucap Widya.
Niat baik pucuk pimpinan badan usaha milik negara itu
memang patut disambut baik oleh seluruh pihak terkait.
Dengan demikian, kerugian negara sebesar Rp 8,8 triliun per
tahun akibat penyelundupan BBM yang diungkapkan Presiden
Yudhoyono bisa dihilangkan atau paling tidak
diminimalkan.(AIS)
This e-mail (including any attached documents) is intended only for the
recipient(s) named above. It may contain confidential or legally
privileged information and should not be copied or disclosed to, or
otherwise used by, any other person. If you are not a named recipient,
please contact the sender and delete the e-mail from your system.
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------