Saya hanya bermaksud menambahkan sedikit .... Begini...pemakaian data biostrat, terutama pada saat sekarang yang sering dipakai sejalan dengan sikuen stratigrafi, memang terbatas dan sifatnya lokal. Sebagai contoh, ada beberapa specimen yang ditemukan di jawa tapi tidak ditemukan di Sumatera, begitu juga sebaliknya, yang saya tahu, chart zonation yang dikemukakan oleh penulis terdahulu pun belum tentu bisa diterapkan di tempat lain...cekungan yang satu dengan cekungan yang lain memiliki biozonasi yang berlainan......
Biozonasi N (Blow) dan NN (Martini), merupakan biozonasi yang saling melengkapi...Pak Ukat yang merupakan pakar dalam sikuen stratigrafi sangat paham dengan apa yang dinamakan dengan Sequence Boundary...peranan Biostratrigrafer dalam penentuan sequnce boundary sangat diperlukan....misalnya saja, Pak Ukat memerlukan data mengenai posisi SB 22.....Dengan Data biostrat kita bisa memberikan kandidiat posisi kedalaman SB 22 tersebut dengan meneliti kandungan mikrofosil....Secara umum SB 22 dibatasi oleh Gs primordius dan Gl kugleri....Sekarang yang menjadi masalah bagaimana apabila data foraminifera tidak lengkap...atau kurang bagus.....ini bisa di bantu dengan Nanno dimana SB 22 ini umumnya ada di bawah last occurrence dari Cycliargolithus abisectus atau pada NN2 atau pada N5......jadi begitu, menurut saya biozonasi N dan NN saling melengkapi dan sangat membantu... Mungkin itu saja sekelumit yang saya ketahui....... Wassalam.. Satia Graha -----Original Message----- From: khoiril anwar maryunani [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, September 20, 2005 9:06 AM To: [email protected] Subject: [iagi-net-l] stratigrafi kuantitatif RE: [iagi-net-l] interpretasi lingkungan pengendapan: At 07:08 AM 9/20/2005, you wrote: >Menarik diskusinya > >Saya hendak menanyakan > >1. Mungkin ada contoh real seberapa besar data biostrat ini membantu >dalam interpretasi sekuen (paper...?) Roger et al (banyak penulisnya), 2001, quantitative biostratigraphy of the taranaki basin, new zealand: adeterministic and probabilistic approach, AAPG Bulletin, v. 85, no. 8 (August 2001), pp. 1469-1498 masih banyak paper lain, texbook dan info lainya dapat dilihat di slide bahan kuliah yang dapat diakses disini: http://www.gc.itb.ac.id/~anwar/course_material.htm passwornya: kuantitatif >2. Seberapa Hires correlation yang bisa dilakukan ..? apakah bisa membantu >dalam menentukan MF,U, struktur dsb...? Resolusi semakin tinggi karena markernya makin banyak, sehingga time horisonnya menjadi semakin banyak dan marker tidak akan saling silang karena sudah di optimumkan. seberapa tinggi resolusinya tergantung datanya bagaimana, kalau datanya bagus framework waktunya juga semakin detail, sehingga korelasi SB dan surface lainya menjadi semakin mudah dan dengan adanya estimasi kesalahan maka kita bisa lebih yakin kira-kira dimana unsur unsur harus ditempatkan/dikorelasikan >3. Apa bedanya klasifikasi BIOSTRAT (N5, N6 dsb ) dengan klasifikasi Nanno >Fosil (NN5,NN6 dsb ) , dan yang mana yang memiliki tingkat kepercayaan >lebih tinggi...? biozonasi N dan NN didasarkan atas mikrofosil yang berbeda yaitu foraminifera dan nannofosil, kedua biozonasi tersebut untuk tiap stage mempunyai resolusi yang berbeda, kadang foram lebih detil dari nanno dan sebaliknya. kombinasi dari kedua biozonasi tersebut akan memberikan umur yang lebih detil. Sedangkan tingkat kepercayaanya sama saja, tergantung klasifikasi markernya seperti apa, kalo marker yang di pakai mengandung cf. atau ? ya tentunya tingkat kepercayaan batas yang didasarkan marker tersebut kurang. >4. Kenapa kok metoda biostrat ini "kurang populer " di industri migas ? >(mahal, lama, kurang info...?) Stratigrafi kuantitatif ini memang relatif baru dan banyak di kembangkanoleh kalangan akademisi, ini mungkin yang menyebabkan kurang dikenal di industri tidak seperti seismik stratigrafi atau sikuen stratigrafi. Sebenarnya untuk analisa ini datanya bisa dari sumur sumur yang sudah ada dalam suatu area (satu basin) yang sudah dianalisa biostratigrafinya. jadi sebenarnya tidak mahal dan waktu yang dibutuhkan kalo datanya sudah ada juga relatif cepat. tidak dikenal dikalangan industri mungkin kurang sosialisai, yang jelas setahu saya belum ada perusahaan minyak di indonesia yang menerapkan ini. salam khoiril anwar --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) ---------------------------------------------------------------------

