Biozonasi N (Blow) dan NN (Martini), merupakan biozonasi yang saling
melengkapi...Pak Ukat yang merupakan pakar dalam sikuen stratigrafi
sangat paham dengan apa yang dinamakan dengan Sequence
Boundary...peranan Biostratrigrafer dalam penentuan sequnce boundary
sangat diperlukan....misalnya saja, Pak Ukat memerlukan data mengenai
posisi SB 22.....Dengan Data biostrat kita bisa memberikan kandidiat
posisi kedalaman SB 22 tersebut dengan meneliti kandungan
mikrofosil....Secara umum SB 22 dibatasi oleh Gs primordius dan Gl
kugleri....Sekarang yang menjadi masalah bagaimana apabila data
foraminifera tidak lengkap...atau kurang bagus.....ini bisa di bantu
dengan Nanno dimana SB 22 ini umumnya ada di bawah last occurrence dari
Cycliargolithus abisectus atau pada NN2 atau pada N5......jadi begitu,
menurut saya biozonasi N dan NN saling melengkapi dan sangat membantu...

Problem kalo kita memakai cara konventional seperti ini (diatas) adalah bisa saja disumur A sb22 dibatasi misal oleh FAD (first appearence datum) gs primordius dibagian bawah dan LAD gr. kugleri dibagian atas, tetapi bisa jadi disumur lain diketemukan FAD gs primordius ada di atas FAD gs primordius ( ini kasus riil yang biasa di jumpai dalam korelasi). hal ini bisa terjadi karena masalah local dan regioanal range zone, reworking, caving, contamination, salah identifikasi dll. nah .. bagaimana kita akan melakukan korelasi SB ????. dengan metoda kuantitatif biostratigrafi kita bisa mengatasi masalah ini mau datanya foram ataupun nanno ataupun keduanya.

Kirim email ke