Terima kasih Abah, si Batara ini memang balon ketum, tapi penuh malu-malu.
Saat ini saya sedang memperhatikan program IAGI beberapa tahun terakhir. Bila keterangan Mas Ariadi tentang kegiatan selama ini boleh disederhanakan menurut tipe kegiatannya, maka nampaklah pola program seperti dibawah. Kecuali field trip, maka tipe kegiatan lain mirip dengan kegiatan di organisasi profesi saudara kita HAGI misalnya. Mesti dibeberapa point kegiatan tersebut belum berjalan sebagaimana diharapkan, namun tetap saja sebaran kegiatannya begitu luas; melihat ini,terus terang hati saya mengkeret juga; apa bisa melanjutkan kerja bagus Kang ADB ini, jangan-jangan saya malah menjadi perusak saja nantinya. Diperlukan sejumlah kawan yang mau kerja bareng selama masa waktu tertentu. Saya tidak berani berandai ada banyak orang yang mau komit selama beberapa tahun. Ada yang mau komit selamat 1 atau 2 semester saja, sudah akan membantu sekali, dengan asumsi akan ada pergantian. Dengan cara melihat diatas, apakah tidak sebaiknya kita bersiap-siap untuk mengurangi kegiatan ditahun tahun yad ?. Kalau ya, kegiatan manakah yang bisa kita turunkan prioritasnya ?.Atau cara saya melihat yang salah ?. Mohon pencerahan dari para seniors. Disisi lain, saya berpendapat bahwa IAGI adalah lembaga (paguyuban atau bahkan pos ronda) tempat orang yang berprofesi geologi berkumpul untuk memajukan orang-orang itu sendiri dan orang disekitarnya. Jadi fokus perhatian adalah orangnya, artinya bukan terutama soal kemajuan ilmunya (ini tugasnya lembaga riset / pendidikan). Bangku kuliah sudah cukup membuat kita kadang terasingkan dari lingkungan kemasyarakatan kita, bahkan sampai orang umum tidak paham profesi ini. Bandingkan perasaan kedekatan dengan lingkungan, antara profesi sebagai dokter vs sebagai geologis. Terasa seakan kita tidak menyumbang kepada orang banyak / kemanusiaan sebanyak para dokter tadi dll. Bila fikiran kita memajukan orangnya, terutama agar ia enjoy & puas dan karenanya bangga dan berkembang dalam profesi sebagai geologist (dalam spektrum yang luas, mulai dari geologist di rigsite, survey permukaan dipuncak gunung, mengamati model gempa di lab, mengajar, mencari emas atau uranium, mencari tanda kehidupan di mars, dlsb), maka diperlukan kegiatan yang sifatnya tidak melulu transfer informasi kebumian (berkonotasi dengan kecerdasan otak) dan atau ketrampilan profesional. Kita masih membutuhkan kecerdasan sosial, mendekatkan diri pada realitas keseharian. Mohon tanggapan kawan semua. Rasanya kita mungkin perlu duduk bareng untuk bersama-sama melihat perjalanan IAGI ditahun-tahun lalu, dan menimbang-nimbang pilihan langkah kedepan. Hal seperti ini seyogyanya tidak diletakan pada pundak masing-masing calon ketum saja. Rasanya lebih afdol bila kita merumuskannya bersama-sama. Siapa tahu muncul komitmen bersama-sama pula. Saya tak harus menjadi seorang ketua umum, ikut sajapun dalam tim kerja sudahlah bagus sekali, asalkan saja kita bareng melangkah. Saya terus terang rindu dengan suasana organisasi yang guyub membicarakan pembagian kerja sambil nyruput kopi diwarung remang-remang (ini lantaran listrik sedang giliran mati hidup...). Kita maju bareng, berantem juga bareng, kalah juga bareng, tapi engga pake bakar-bakaran bangku stadion. bat ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Pokok Pikiran: KONSOLIDASI KEDALAM UNTUK ANGGOTA, UNTUK MENINGKATKAN POSISI TAWAR KELUAR Program Utama: 1. Konvensi Tahunan & PIT 2. Seminar-Seminar: a. Stratigrafi: sandi strat Jawa & Sumatera b. Industri Migas: Seminar Lapangan Raksasa c. Industri Non Migas: Penemuan 10 Thn Terakhir d. Ilmu Dasar: Advance Geodynamics e. Luncheon / Evening Talk: beragam tema 3. Publikasi: a. Majalah Geologi Indonesia b. Website c. Berita IAGI d. Milis 4. Field Trip: gem, stratigrafi, tectonic 5. Sertifikasi: a. Petroleum Geologist b. Engineering Geologist (in progress) c. Mining Geologist (in concept) 6. Pembentukan Badan-badan: a. Badan Geologi Nasional (BGN) b. Forum Teknis Geoscience Untuk Tanggap Bencana Nasional c. Kelompok Kerja Nasional Pengelolaan Kawasan Kars 7. Sosialisasi: a. Kepada Masyarakat Luas:LSM, Pencinta Alam, Sekolah b. Kepada Masyarakat Ilmu: tata ruang, batubara, tambang, dll c. Kepada Industri: kasus Buyat d. Kepada Pemerintah Pusat: RUU SD Air, RUU Pertambangan, Batas Landas Kontinen e. Kepada Pemerintah Daerah: evaluasi SDA Kab Lebak, Banyuwangi f. Kepada Legislatif: RUU Migas, RUU Pertambangan 8. AD / ART, Kesekretariatan (iuran 12%) 9. Pembantuan Korban Bencana Alam: Sumur Untuk Aceh

