Di GATRA edisi terakhir dicantumkan data perputaran supply dan demand
BBM di RI :

- Produksi minyak sekitar 1000 MBO per day
- dari volume tersebut diekspor (sebagai minyak mentah - bagian KPS ??)
sekitar 400 MBO, dan sebagai supply ke kilang Pertamina sekitar 600 MBO.
- Kapasitas total kilang Pertamina 900 MBO, jadi perlu impor minyak
mentah sekitar 400 MBO.
- Kebutuhan BBM dalam negeri 1300 MBO, jadi perlu impor BBM lagi sekitar
300 MBO

Supplay BBM sendiri sekitar 20% diserap oleh PLN (kemungkinan akan
meningkat sesuai peningkatan kebutuhan listrik). Bagian terbesar untuk
sektor transportasi (?%) dan industri (?%); dan sedikit rumah tangga.

Opini yang dibangun sejak ORBA adalah lebih bernilai ekonomis (katanya
minyak mentah Indonesia harganya tinggi di pasaran), sekaligus politis
(sebagai anggota OPEC), apabila 400 MBO minyak mentah tersebut tetap
diekspor, daripada diserap semua oleh kilang Pertamina.

Apakah nilai ekspor tersebut lebih tinggi dari nilai impor ? Mungkin
status quo sebagai anggota OPEC lebih penting.

Celah terbesar untuk meredam laju penggunaan BBM saya pikir adalah
sektor PLN. Diversifikasi sumber daya energi listrik, misalnya
pemanfaatan geothermal (total potensi RI = 20.000MW ~ 40% potensi dunia,
tetapi kapasitas terpasang baru sekitar 5% ~ 800MW - sumber Kompas/2004)
seharusnya menjadi fokus kebijakan energi. Pemain di RI masih sangat
terbatas dan iklim investasi masih belum kondusif, apakah karena
government takes terlalu besar ?
 
Untuk sektor industri mungkin lebih sulit, tetapi penggunaan batubara
sebagai alternatif bahan bakar mungkin bisa menjadi solusi. Sedangkan
sektor transportasi, alternatif terbaik tentunya penggunaan gas.

Wikan


-----Original Message-----
From: ismail [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: 18 Oktober 2005 21:40
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Dosa Berjamaahnya IAGI

Untuk mengurangi dosa , apa isu ini dijadikan isu dalam pembentukan
program kabinet iagi kedepan, jadi ada komisi Energi ( Sumberdaya Energi
khususnya SDE yang berhubungan /bersinggungan dg Kegeologian seperti
hidro , migas, batubara dan geothermal). bagaimana iagi memberikan
kontribusi ( masukan ) thd pengelolaan sumber sumber energi tsb, dimana
kelihatannya permasalahan energi akan  merupakan isu nasional kedepan.

Ism

----- Original Message -----
From: "Batara Sakti Simanjuntak" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, October 18, 2005 4:02 PM
Subject: [iagi-net-l] Dosa Berjamaahnya IAGI


> Gara-gara pertanyaan meditatif dari Abah, 2 minggu lalu saya bertanya 
> kepada
> seorang ekonom ttg apa sebabnya harga BBM di republik ini naik. Minggu

> lalu
> saya masih meneruskan memikirkan pertanyaan tsb, sekali ini melalui 
> diskusi
> dengan seorang pengusaha Pakistan yang saya jumpai di kereta Argo
sepulang
> dari kuliah di Bdg.
>
> Sang ekonom bilang:
>
> 1. Dari sisi kebutuhan, jumlah penduduk kita naik, sehingga kebutuhan 
> energy
> (termasuk bbm) naik.
> 2. Kita mengusahakan industri semakin maju, maka kebutuhan energy 
> (termasuk
> bbm) melonjak lebih lagi.
> 3. Kedua hal kebutuhan diatas adalah terukur dan dapat di prediksi.
Jadi
> mestinya tingkat kebutuhan tinggi tsb sudah dapat diantisipasi.
> 4. Tapi nyatanya tidak ada peningkatan supply yang menonjol dalam 5
thn
> terakhir; ia berjalan apa adanya saja, seperti tanpa perencanaan.
> 5. Jadi, kita pandai membincangkan sesuatu hal atau membuat rencana
besar
> ini itu, tetapi tidak mau bersusah payah mempersiapkan segala
penunjang 
> dst.
>
>
> Ini mirip dengan pembagian uang utk rakyat sekarang. Uang diguyur,
tetapi
> pendataan belum beres, jadinya orang berkelahi rebutan hak atau
menguntit
> hak orang lain.
>
> Si Pengusaha Pakistan bilang:
> 1. Saya heran betul melihat orang di Indonesia (dia banyak travel 
> keberbagai
> tempat di Indo), kog pada tidur semua, padahal keadaan sudah tak 
> betul-betul
> tak beres.
> 2. Negeri ini kaya minyak, tetapi orang mesti antri beli bensin &
minyak
> tanah. Bodoh sekali penduduk negeri ini, minyak mentah disedot orang /
> perusahaan asing, dijual. Lalu kita membeli hasil olahan minyak mentah
utk
> kebutuhan dalam negeri...aneh..aneh..
> 3. Bagaimana mungkin negeri ini tidak punya kilang yang besar-besar
????
> 4. Orang demo soal BBM naik, tapi tak ada yang bicara menuntut
pembangunan
> kilang ?.
>
> Omongan si ekonom, sang pengusaha Pakistan, dan tulisan Abah dibawah 
> adalah
> sambung menyambung. Lain waktu kita tengok benang merahnya...siapa
tahu
> nanti nampak apa yang mesti dilakukan IAGI, supaya jangan ikut
menanggung
> dosa terus menerus...Bukankah malu rasanya jika berdosa tak
putus-putus ?.
> Tak terasa diskusi kita akan masuk dalam ruang etik tentang peran si
ahli
> geol di negeri tercinta. Semoga gayung bersambut terus.
>
> bat
>
>
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED]
> To: [email protected]
> Date: Tue, 18 Oct 2005 15:24:06 +0700 (WIT)
> Subject: RE: [iagi-net-l]  Horas Bah!
>
>> >
>>   Batara
>>
>>   "Dosa" IAGI ?
>>   Secara profesional paling tidak ada dua yaitu :
>>
>>   1. Tidak berhasil mengubah sumberdaya migas menjadi cadangan
terbukti
>>      pada waktu yang tepat , dan mengakibatkan apa yang terjadi saat
>> ini.
>>   2. Tidak berhasil meyakinkan seluruh komponen bangsa mengenai
>> devirsi-
>>      fikasi energi. Padahal issu "net oil importir" sudah bergulir
>> sejak
>>      akhir thn 1980-an.
>>
>>    Memang bukan kesalahan IAGI sendiri , tapi kalau mau jujur yang
tahu
>>    isi perut bumi Nusantara tercinta itu memangnya bukan ahli
geologi.
>>    Yaaach paling tidak , kalau si Abah suka sedih , sekarang saja
>> energi
>>    sudah begitu sulit , bagaimana incu si Abah ?
>>
>>    Nah , masa kalau memikirkan itu dan berkaca kemasa lalu , kita
tidak
>>    merasa berdosa , walaupun tidak kita sendiri yang bersalah.
>>    Yaaach Dosa berjamaah lah.
>>
>>    Si Abah.
>>
>>




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke