Saya cukup tergelitik juga berkomentar topic yang cukup provokatif ini, seakan kita semua ikut berdosa terhadap kondisi saat ini,.. apa iyaa kita berdosa dan tidak berbuat apa2 dan punya kontribusi terhadap naiknya harga BBM ?
Bukan mencoba untuk defensive tapi saya malah berfikir sebaiknya, ini suatu keputusan tidak poluler, berani tapi musti diambil. Kalau kita lihat tren konsumsi, jelas ada peningkatan yang cukup pesat, apalagi setelah tahun 1998, padahal kita mengalami krismon dan banyak pabrik2 yang tutup, jadi kemana larinya BBM? Disinyalir banyaknya penyelundupan dan pengoplosan karena disparitas harga yang begitu tinggi dengan negara2 tetangga dan diantara jenis BBM itu sendiri sehingga bayak "oknum" yang tergiur untuk bermain. Banyak rekan yang berargumen, itu urusan polisi untuk mencegah dan penangkap penjahat dan rakyat patut disubsidi. Saya pikir kalau kita pusing justru cari dan obati sumber penyakitnya, bukan efek dari penyakit. Disisi lain berbagai energi alternatif tidak akan berkembang jika energi dari minyak masih murah, apalagi disubsidi,.. seharusnya energi alternatif yang musti disubsidi, karena tidak bakal kompetitif dengan BBM yang disubsidi karena economic of scale-nya masih sangat kecil. IAGI berdiam diri? Saya malah melihat pemerintah dalam state of denial, tidak mengakui atau menutupi bahwa kita "belum" menjadi net importir minyak, padahal issue ini sudah berkembang dimasyarakat sudah lama. Dibeberapa kesempatan IAGI meperlihatkan data/slides bahwa setelah dipotong cost recovery dan porsi KPS, produksi minyak bagian pemerintah sudah kecil, sehingga kita sudah jadi net importer sudah lama. Dari sisi supply, kalau kita mau berexplorasi, akan makan waktu lama dari block offer, explorasi, discovery, POD sampai ke produksi. Selain itu dibeberapa kesempatan IAGI juga memperlihatkan bahwa jumlah basin yang berproduksi itu2 saja, tidak bertambah, dan tergolong mature, success rate tidak tinggi (kecuali beberapa basin), mean field size distribution tidak terlalu besar, sehingga risk reward tidak terlalu menarik bagi investor besar, apalagi fiscal regime kita termaksud yang kurang menguntungkan. Jadi investor banyak yang berpaling ke West Africa, Rusia dan South America dengan potensi penemuan cadangan/resources yang jauh lebih besar. Penambahan resources dan reserves replacement penting bagi perusahaan2 public yang sudah listed di bursa2 dunia. Justru sebaliknya kita musti berkaca diri, apa yang bisa kita offer? Kalau memang kita menggantungkan diri pada investor asing? Kalau investor lokal, kita tahu kebanyakan hanya broker. Salah satu cara untuk menambah produksi adalah dengan mempercepat produksi dari lapangan2 marginal, tapi meskipun ada insentif, tapi kayaknya gaungnya belum terdengar,... Apa ini semua bergantung pada IAGI ?? Salam, Bambang Istadi -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, October 20, 2005 4:17 PM To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [iagi-net-l] Dosa Berjamaahnya IAGI Setuju usulan Pak Mino, tapi tunggu dulu. Esplorasi dan segala tetek bengeknya itu kan butuh uang buaanyak, dari mana? Pemerintah pasti sudah gak punya uang sampai tega menjual mahal BBM ke rakyatnya sendiri, investor mikir-mikir kondisi hukum di Indonesia yang penuh mafia dan tidak jelas juntrungnya, semua lapisan korup semua, plus adanya kondisi keamanan dengan teror bom segala, jadi..........? Salam, Yatno > > Ya, kembali kalau kebutuhan naik suplai harus lebih banyak...telepas > dari berbagai operasi pendistribusian yang kacau.. > > Jelasnya penambahan reserve tidak ada..eksplorasi macet..prospect/lead > banyak tapi pemboran eksplorasi tidak banyak...ya buntut-2nya > kekurangan.IAGI jelas bisa dan harus berkontribusi terutama dalam > masalah reserve certifikasi dan eksplorasi secara umum. Kita semua > (IAGI) harus bisa menjawab pertanyaan dibawah ini sehingga bisa bantu > pemerintah... > > Berapa candagan minyak kita sebenarnya? > Apakah kita masih akan mendapatkan/menemukan cadangan baru yg > signifikan? Apakah kita sudah mengeksplorasi semua potensi basin kita? > .....mungkin masih banyak lagi ..... > > Ini seharusnya peran utama IAGI saya kira... > > Salam, > > Ben Sapiie > >> Gara-gara pertanyaan meditatif dari Abah, 2 minggu lalu saya bertanya >> kepada >> seorang ekonom ttg apa sebabnya harga BBM di republik ini naik. Minggu >> lalu >> saya masih meneruskan memikirkan pertanyaan tsb, sekali ini melalui >> diskusi >> dengan seorang pengusaha Pakistan yang saya jumpai di kereta Argo >> sepulang dari kuliah di Bdg. >> >> Sang ekonom bilang: >> >> 1. Dari sisi kebutuhan, jumlah penduduk kita naik, sehingga kebutuhan >> energy >> (termasuk bbm) naik. >> 2. Kita mengusahakan industri semakin maju, maka kebutuhan energy >> (termasuk >> bbm) melonjak lebih lagi. >> 3. Kedua hal kebutuhan diatas adalah terukur dan dapat di prediksi. >> Jadi mestinya tingkat kebutuhan tinggi tsb sudah dapat diantisipasi. >> 4. Tapi nyatanya tidak ada peningkatan supply yang menonjol dalam 5 >> thn terakhir; ia berjalan apa adanya saja, seperti tanpa perencanaan. >> 5. Jadi, kita pandai membincangkan sesuatu hal atau membuat rencana >> besar ini itu, tetapi tidak mau bersusah payah mempersiapkan segala >> penunjang dst. >> >> >> Ini mirip dengan pembagian uang utk rakyat sekarang. Uang diguyur, >> tetapi pendataan belum beres, jadinya orang berkelahi rebutan hak atau >> menguntit hak orang lain. >> >> Si Pengusaha Pakistan bilang: >> 1. Saya heran betul melihat orang di Indonesia (dia banyak travel >> keberbagai >> tempat di Indo), kog pada tidur semua, padahal keadaan sudah tak >> betul-betul >> tak beres. >> 2. Negeri ini kaya minyak, tetapi orang mesti antri beli bensin & >> minyak tanah. Bodoh sekali penduduk negeri ini, minyak mentah disedot >> orang / perusahaan asing, dijual. Lalu kita membeli hasil olahan >> minyak mentah utk kebutuhan dalam negeri...aneh..aneh.. >> 3. Bagaimana mungkin negeri ini tidak punya kilang yang besar-besar >> ???? 4. Orang demo soal BBM naik, tapi tak ada yang bicara menuntut >> pembangunan kilang ?. >> >> Omongan si ekonom, sang pengusaha Pakistan, dan tulisan Abah dibawah >> adalah >> sambung menyambung. Lain waktu kita tengok benang merahnya...siapa >> tahu nanti nampak apa yang mesti dilakukan IAGI, supaya jangan ikut >> menanggung dosa terus menerus...Bukankah malu rasanya jika berdosa tak >> putus-putus ?. Tak terasa diskusi kita akan masuk dalam ruang etik >> tentang peran si ahli geol di negeri tercinta. Semoga gayung bersambut >> terus. >> >> bat >> >> >> -----Original Message----- >> From: [EMAIL PROTECTED] >> To: [email protected] >> Date: Tue, 18 Oct 2005 15:24:06 +0700 (WIT) >> Subject: RE: [iagi-net-l] Horas Bah! >> >>> > >>> Batara >>> >>> "Dosa" IAGI ? >>> Secara profesional paling tidak ada dua yaitu : >>> >>> 1. Tidak berhasil mengubah sumberdaya migas menjadi cadangan >>> terbukti >>> pada waktu yang tepat , dan mengakibatkan apa yang terjadi saat >>> ini. >>> 2. Tidak berhasil meyakinkan seluruh komponen bangsa mengenai >>> devirsi- >>> fikasi energi. Padahal issu "net oil importir" sudah bergulir >>> sejak >>> akhir thn 1980-an. >>> >>> Memang bukan kesalahan IAGI sendiri , tapi kalau mau jujur yang >>> tahu isi perut bumi Nusantara tercinta itu memangnya bukan ahli >>> geologi. Yaaach paling tidak , kalau si Abah suka sedih , sekarang >>> saja >>> energi >>> sudah begitu sulit , bagaimana incu si Abah ? >>> >>> Nah , masa kalau memikirkan itu dan berkaca kemasa lalu , kita >>> tidak merasa berdosa , walaupun tidak kita sendiri yang bersalah. >>> Yaaach Dosa berjamaah lah. >>> >>> Si Abah. >>> >>> >>> _______________________________________________________________________ >>> ____ >>> Sejauh ini simaju tak gentar belum terlibat dalam kasus bbm naik >>> kelas... >>> > Baru kang Kurtubi yang nulis pembelaannya di kompas tadi pagi. >>> > >>> > Aku masih terus terganggu dengan pertanyaan Abah tempo hari... apa >>> dosanya >>> > IAGI dalam kasus BBM naik ini ? >>> > >>> > Tarik....gan. >>> > >>> > bat >>> > >>> > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) ---------------------------------------------------------------------

