Numpang forward dari tetangga, mudah-mudahan ada gunanya di renungkan
Yatno

-------- Original Message --------
Subject: [Dosen ITB] KKG vs Exxon di Cepu
From: Yuswadi Saliya <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sun, October 23, 2005 11:30 am
To: [EMAIL PROTECTED]

RRS,
Bacaan sambil ngabubur-beurit (maaf kpd yg sdh baca) dari senarai
[Lingkungan] yg--siapa tahu--masih bisa menggugah rasa kebangsaan.
Gimana? KKG memang hebat, euy!
Merdeka!!!

Samberlag,
YeWe
*____

Terjajah Exxon Mobil di Cepu *
Oleh: Kwik Kian Gie

Kali ini saya tidak akan membahas tentang pengertian
subsidi -apakah itu sama dengan uang tunai yang harus
keluar atau tidak- dan hal-hal teknis lain seperti itu.

Saya akan membahas tentang negara kaya yang menjadi
miskin kembali karena terjerumus ke dalam mental kuli
yang oleh penjajah Belanda disebut mental inlander. Mental para
pengelola ekonomi sejak 1966 yang tidak mengandung
keberanian sedikit pun, yang menghamba, yang
ngapurancang ketika berhadapan dengan orang-orang bule.

Ibu pertiwi yang perut buminya mempunyai kandungan
minyak sangat besar dibanding kebutuhan nasionalnya,
setelah 60 tahun merdeka hanya mampu menggarap minyaknya sendiri
sekitar 8 persen. Sisanya diserahkan kepada eksplorasi
dan eksploitasi perusahaan-perusahaan asing.

Apa pekerjaan dan sampai seberapa jauh daya pikir para
pengelola ekonomi kita sejak merdeka sampai sekarang?
Istana Bung Karno dibanjiri para kontraktor minyak asing yang
sangat berkeinginan mengeksplorasi dan mengeksploitasi
minyak bumi di Indonesia. Bung Karno menugaskan
Chairul Saleh supaya mengizinkannya hanya sangat terbatas.

Putrinya, Megawati, bertanya kepada ayahnya, mengapa
begitu? Jawaban Bung Karno kepada putrinya yang baru
berumur 16 tahun, "Nanti kita kerjakan sendiri semuanya kalau kita sudah
cukup mempunyai insinyur-insinyur sendiri."

Artinya, Bung Karno sangat berketetapan hati
mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak oleh
putra-putri bangsa Indonesia sendiri. Mengapa sekarang
hanya sekitar 8 persen?

Lebih menyedihkan ialah keputusan pemerintah
memperpanjang kerja sama dengan Exxon Mobil (Exxon)
untuk blok Cepu selama 20 tahun sampai 2030. Begini
ceritanya. Exxon membeli lisensi dari Tommy Soeharto
untuk mengambil minyak dari sebuah sumur di Cepu yang
kecil. Exxon lalu melakukan eksplorasi tanpa izin.
Ternyata ditemukan cadangan dalam sumur yang sama
sebanyak 600 juta barel.

Ketika itu Exxon mengajukan usul untuk memperpanjang
kontraknya sampai 2030. Keputusan ada di tangan Dewan
Komisaris Pemerintah untuk Pertamina (DKPP). Dua dari
lima anggota menolak. Yang satu menolak atas
pertimbangan yuridis teknis. Yang lain atas
pertimbangan sangat prinsipil.

Dia sama sekali tidak mau diajak berargumentasi dan
juga sama sekali tidak mau melihat angka-angka yang
disodorkan Exxon beserta para kroninya yang berbangsa Indonesia.

Mengapa? Karena yang menjadi pertimbangan pokoknya,
harus dieksploitasi bangsa Indonesia sendiri, yang
berarti bahwa Exxon pada 2010 harus hengkang, titik.
Alasannya sangat mendasar, tetapi formulasinya
sederhana. Yaitu, bangsa yang 60 tahun merdeka
selayaknya, semestinya, dan seyogianya mengerjakan
sendiri eksplorasi dan eksploitasi minyaknya. Bahkan,
harus melakukannya di mana saja di dunia yang dianggap
mempunyai kemungkinan berhasil.

Menurut peraturan yang berlaku (sebelum Pertamina
berubah menjadi Persero), kalau DKPP tidak bisa
mengambil keputusan
yang bulat, keputusan beralih ke tangan presiden.
Maka, bola ada di tangan Presiden Megawati
Soekarnoputri. Beliau tidak mengambil keputusan,
sehingga Exxon kalang kabut. Exxon mengirimkan
executive vice president-nya yang langsung
mendatangi satu anggota DKPP yang mengatakan "pokoknya tidak".

Dia mengatakan, sejak awal sudah ingin bertemu satu
orang anggota DKPP ini yang berinisial KKG, tetapi
dilarang kolega-koleganya sendiri. KKG tersenyum sambil
mengatakan karena para koleganya masih terjangkit
mental inlander.

Lalu dia berargumentasi panjang lebar dengan
mengemukakan semua angka betapa Indonesia diuntungkan.
KKG menjawab bahwa kalau dia ngotot sampai seperti
itu, apa lagi latar belakangnya kalau dia tidak
memperoleh untung besar dari perpanjangan kontrak
sampai 2030? Karena itu, kalau mulai
2010, sesuai kontrak, Exxon harus hengkang dan
seluruhnya dikerjakan Pertamina, semua laba yang
tadinya jatuh ke tangan Exxon akan jatuh ke tangan
Indonesia sendiri.

Lagi pula, KKG menjelaskan bahwa sudah waktunya
belajar menjadi perusahaan minyak dunia seperti Exxon.
KKG bertanya kepadanya, "Bukankah kami berhak mulai merintis supaya
menjadi Anda di bumi kita sendiri dan menggunakan
minyak yang ada di dalam perut bumi kita sendiri?"

Eh, dia mulai mengatakan tidak bisa mengerti bagaimana
orang berpendidikan Barat bisa sampai seperti itu
tidak rasionalnya! Jelas KKG muntap dan mulai memberi kuliah
panjang lebar bahwa orang Barat sangat memahami dan
menghayati tentang apa yang dikatakan EQ, dan bukan
hanya IQ. Apalagi, kalau dalam hal blok Cepu ini
ditinjau dengan IQ juga mengatakan bahwa mulai 2010 harus
dieksploitasi oleh Indonesia sendiri.

Bung Karno juga berpendidikan Barat dan sejak awal
beliau mengatakan, "Man does not live by bread alone."
Dalam hal blok Cepu, dua argumen berlaku, yaitu man
does not live by bread alone, dan diukur dengan bread juga
menguntungkan Indonesia, karena laba yang akan jatuh
ke tangan Exxon menjadi labanya Pertamina.

Pikiran lebih mendalam dan bahkan dengan perspektif jangka
panjang yang didasarkan materi juga mengatakan bahwa
sebaiknya blok Cepu dieksploitasi oleh Pertamina sendiri.
Mengapa?

Jawabannya diberikan oleh mantan Direktur Utama
Pertamina Baihaki Hakim kepada Menko Ekuin ketika itu
bahwa Pertamina adalah organisasi yang telanjur sangat
besar. Minyak adalah komoditas yang tidak dapat
diperbarui. Penduduk Indonesia bertambah terus seiring
dengan bertambahnya konsumsi.

Kalau sekarang saja terlihat bahwa konsumsi nasional
sudah lebih besar daripada produksi nasional, di masa mendatang
kesenjangan ini menjadi semakin besar, dan akhirnya organisasi
Pertamina yang demikian besar itu akan dijadikan apa?

Apakah hanya menjadi perusahaan dagang minyak, dan
apakah akan mampu berdagang saja dalam skala dunia,
bersaing dengan the seven sisters? Maka visi jangka
panjang Baihaki Hakim, mumpung masih lumayan cadangannya,
sejak sekarang mulai go international dan menggunakan cadangan
minyak yang ada untuk sepenuhnya menunjang kebijakannya yang
visiuner itu.

Menko Ekuin ketika itu memberikan dukungan sambil
mengatakan, "Pak Baihaki, saya mendukung sepenuhnya.
Syarat mutlaknya ialah kalau Anda ingin menjadikan
Pertamina menjadi world class company, Anda harus juga
memberikan world class salary kepada anak buah Anda."

Sang Menko Ekuin keluar dari kabinet Abdurrahman
Wahid. Setelah itu dia kembali ke kabinet sebagai
kepala Bappenas dan ex officio menjabat anggota DKPP.
Maka pikirannya masih dilekati visi jangka panjangnya
Pak Baihaki Hakim dan kebetulan direktur utama
Pertamina ketika itu juga masih
Pak Baihaki Hakim. Tetapi, kedudukan kita berdua sudah
sangat lemah, karena dikreoyok para anggota DKPP dan
anggota direksi lain yang mental, moral, dan cara
berpikirnya sudah kembali menjadi inlander.

Baihaki Hakim yang mempunyai visi, kemampuan, dan
telah berpengalaman 13 tahun menjabat direktur utama
Caltex Indonesia langsung dipecat begitu Pertamina
menjadi persero. Alasannya, kalau diibaratkan sopir,
dia adalah sopir yang baik untuk mobil Mercedes Benz.
Sedangkan yang diperlukan buat Pertamina adalah sopir
yang cocok untuk truk yang bobrok.
Bayangkan, betapa inlander cara berpikirnya. Pertamina
diibaratkan truk bobrok. Caltex adalah Mercedez Benz.
Memang sudah edan semua.

Ada tekanan luar biasa besar dari pemerintah Amerika
Serikat di samping dari Exxon. Ceritanya begini. Dubes
AS ketika itu, Ralph Boyce, sudah membuat janji melakukan kunjungan
kehormatan kepada kepala Bappenas, karena protokolnya
begitu. Tetapi, ketika sang Dubes tersebut mendengarkan pidato
sang kepala Bappenas di Pre-CGI meeting yang sikap, isinya pidato, dan
nadanya bukan seorang inlander, janjinya dibatalkan.

Eh, mendadak dia minta bertemu kepala Bappenas. Dia
membuka pembicaraan dengan mengatakan akan berbicara
tentang Exxon. Kepala Bappenas dalam kapasitasnya
selaku anggota DKPP mengatakan bahwa segala sesuatunya
telah dikemukakan kepada executive vice president-nya
Exxon, dan dipersilakan berbicara saja dengan beliau.

Sang Dubes mengatakan sudah mendengar semuanya, tetapi
dia hanya melakukan tugasnya. "I am just doing my job". Kepala
Bappenas mengatakan lagi, "Teruskan saja kepada
pemerintah Anda di Washington semua argumen penolakan
saya yang diukur dengan ukuran apa pun, termasuk semua
akal sehat orang-orang Amerika pasti dapat diterima."

Kepala Bappenas keluar lagi dari kabinet karena adanya
pemerintahan baru, yaitu Kabinet Indonesia Bersatu,
dan Exxon menang mutlak. Ladang minyak di blok Cepu yang konon
cadangannya bukan 600 juta barrel, tetapi 2 miliar
barrel, oleh para inlander diserahkan kepada Exxon
penggarapannya.

Saya terus berdoa kepada Bung Karno dan mengatakan,
"Bung Karno yang saya cintai dan sangat saya hormati.
Janganlah gundah dan gelisah, walaupun Bapak sangat
gusar. Istirahatlah dengan tenang. Saya juga sudah
bermeditasi di salah satu vihara untuk menenangkan
hati dan batin saya. Satu hari nanti rakyat akan
bangkit dan melakukan revolusi lagi seperti
yang pernah Bapak pimpin, kalau para cecunguk ini
sudah dianggap terlampau lama dan terlampau
mengkhianati rakyatnya
sendiri."

*) Mantan Menteri Negara PPN/kepala Bappenas

_______________________________________________
Dosen mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/dosen




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke