Mas Noor dan Mas Awang, Keprihatinan Mas Noor muncul, salah satunya, mungkin karena Mas Noor "pernah dekat" dengan teman dari perguruan tinggi ketika mengurusi IPA-UAC. Kalau Mas Noor yang dari perusahaan minyak saja memprihatinkan ini, maka apalagi kami yang dari perguruan tinggi. Kebanyakan kolega saya dari perguruan tinggi mengharapkan sponsor jika akan menyajikan makalah ke luar negeri. Jadi, dengan adanya "default" MIGAS itu, akan sangat sedikit perusahaan minyak yang mau mensponsori dosen. Untuk mengirim pegawainya saja mungkin "malas" karena selalu ada tambahan orang MIGAS yang harus dibiayai dengan dana non-cost recovery, walaupun saya pernah dengar cerita, bahwa untuk dana sebenarnya dapat "diakali" sehingga masuk cost recovery juga.
Kami juga pernah mengalami hal itu, ketika kami akan menyajikan makalah hasil tulisan bersama dengan teman dari perusahaan minyak. Justru yang "takut" malahan teman dari perusahaan, ketika ada "larangan" menulis detail data. Kalau larangan sampai ke koordinat, saya masih maklum, tetapi kalau nama formasi pun harus disamarkan kan keterlaluan. Saya berharap "default" surat Ditjen MIGAS itu akan diubah atau penerapannya dilakukan searif mungkin. Di zaman dulu, rasanya ada sekian persen pos dana untuk kemajuan pendidikan? Saya ingin mengulangi pendapat Mas Noor; jika perusahaan sampai memilih untuk tidak mengirim stafnya (dan saya tambahi: atau tidak mau memberikan sponsor), kapan kita akan maju? Wasalam, EAS > Pak Awang, > > Terima kasih infonya. Memang bukan teritorial pak Awang, cuman saya itu > kok ya melas banget kok sampai ada aturan yang begitu lho dari > Migas....: > > - kalau untuk validasi, apanya yang divalidasi..? toh bisa dari > proceedingsnya (semua presenter wajib menyerahkan proceeding atau dalam > bentuk lainnya setelah presentasi). > Saya kebayang saja nanti semua paper dari Indonesia karena tidak boleh > menyebutkan hal-hal yang disebutkan itu maka malah tidak ada yang bisa > dijadikan referensi. Kebayang khan kalau judul dan isi papernya model > thesis adik-adik mahasiswa kita : "Analysis stratigrafi formasi ABCD > Daerah XYZ". Kalau sudah begini siapa yang mau menjadikan referensi..? > > Lagian kalau soal kerahasiaan data khan yang lebih berkepentingan itu > kumpeninya dibanding Migas. Banyak kumpeni yang nggak mau release data2 > yang sensitif karena bisa dipakai referensi kompetitornya. Lha kalau > Migas apa interesnya..? > > - soal transfer ilmu pengetahuan, ini juga cara-cara yang sangat > "memelas" karena kita2 di KPS saja kalau mau ikut konvensi ya umumnya > hanya dengan jalan menulis makalah.... jadi ya selayaknya demikian pula > dengan teman2 di Migas, jangan hanya men"dompleng" hasil karya orang > lain doang terus bisa "jalan-jalan" (ini juga kenyataan lain yang saya > perhatikan he he he ). > > Hal lain yang ditakutkan adalah karena ini non cost-recovery maka > akhirnya manajemen memilih untuk tidak mengirim para calon presenter > itu. Nah akhirnya jadi bumerang buat kita semua khan.... > > > > salam prihatin, > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) ---------------------------------------------------------------------

