Maaf kalo agak melantur keluar, abisnya penasaran mau nanggapi.
Menurut saya sih ada baiknya juga larang melarang ini. Kretatifitas atau
karya tulis atau apapun bentuknya bagi sebagian orang adalah bebas dari
nilai tapi bagi yang laen mengandung misi (tidak bebas nilai). Menurut saya
sih harus lihat kasus per kasus. Saya gak bisa bayangin perasaan bapak kalo
anak bapak tiba tiba saja senang baca tulisan atau komik porno. Lihat
sekarang di jalan jalan buletin dan koran yang banyak mengumbar kata kata
gombal dan pamer piranti birahi? kepada siapa bapak berharap? kita berharap
dapat mengawasi anak tapi waktunya terbatas.
 Negara (berfikir secara positif) harus melindungi rakyaknya dari ancaman
mental kayak begini.
Orang yang berubah setelah baca novel bermutu hanyalah orang orang yang
pinter! dan jumlahnya sangat sedikit. yang terbanyak adalah orang awam yang
baca tulisan gak bermutu! Negara harusnya melindungi rakyaknya. Hak cipta
tetap dihargai tapi juga harus diawasi. Belum lagi kalo kita lihat tayangan
televisi yang dengan entengnya mengumbar kata kata kasar .... bangsat dan
bodoh (maaf) adalah hal yang biasa, belum lagi pameran yang wah wah lainnya!
yang jadi korban justru rakyat awam, orang yang berpendidikan cukup mungkin
bisa memberikan pengertian kepada anaknya, tapi bagaimana dengan orang yang
tak mampu? mereka sibuk cari makan! mereka harus dilindungi. Haruskah mereka
dibiarkan dengan hak ciptaannya? inget filem Buruan Ciuman Gue yang diprotes
Aa Gym? Niat yang baik untuk mengingatkan anak bangsa dari kejatuhan nilai
nilai luhur justru di protes!
Ya ... karena masyarakat awam sudah dijejali hak hak cipta seperti yang saya
kemukakan diatas.
Bapak bisa bilang ..... ya itu khan tergantung kita semua! ....tapi
bagaimana dengan yang laen pak? yang boro boro ngurusin anak (sebagai
generasi penerus bangsa), cari makan aja udah susah. Jadi sekali lagi, hak
cipta adalah bukan segala galanya yang harus diberi tempat, tapi juga harus
dicermati.
Sekali lagi maaf untuk yang tidak berkenan.
  Salam
 Shofi

 On 11/10/05, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya sangat sedih bila ada kelompok/ individu yang sangat tidak menghargai
> karya orang lain. Memang manusia dilahirkan berbeda, masing-masing
> individu adalah unik, tidak ada yang sama, termasuk jalan pikirnya. Setiap
> penyangkalan terhadap fakta ini akan selalu menimbulkan masalah. Tetapi
> harap diingat pula, perbedaan selangkah lagi akan menuju perpecahan, bila
> kita tak mampu me-manage perbedaan ini dengan baik. Kuncinya adalah satu:
> hormatilah pendapat orang lain lewat konsensus, karena kita tidak bisa
> hidup sendiri, manusia adalah makhluk sosial. Jadi hormatilah dan
> hargailah perbedaan: suku, agama, ras, juga buah pikir seseorang.
> Masih ingat pooling yang dilakukan Arswendro Atmowiloto yang berakhir
> dipenjarakannya penulis produktif itu? Sedih memang......., itulah
> Indonesiaku!!!!
> Salam,
> Yatno
>
> > Setuju dengan Batara, perbedaan (pendapat, faham, suku, agama, dll.)
> > adalah anugerah yang harus disyukuri. Perbedaan pendapat menjalankan
> > pikiran. Bila semua sudah sepakat, maka tak ada tantangan-tantangan dan
> > perdebatan-perdebatan lagi yang harus dicari kebenarannya.
> >
> > Dalam dunia ilmu, kesepakatan akan menjadi Senjakala Ilmu Pengetahuan
> > alias The End of Science (mengutip judul buku John Horbin yang baru saja
> > diterjemahkan oleh Teraju).
> >
> > Keseragaman pikiran mematikan, perbedaan pikiranlah yang menghidupkan
> > suasana. Hidup kemerdekaan berpikir !
> >
> > salam,
> > awang
> >
> > (buku harus dilawan dengan buku, bukan dengan api, maka pembakaran buku
> > adalah penyangkalan dan penghinaan terhadap inteligensia !)
> >
>

Kirim email ke