Rekan Sofi,
Anda tidak salah punya pendapat demikian. Memang jamannya jaman edan. Dulu
waktu saya kecil ada larangan yang semua orang menghormati, misalnya film
segala umur, 13 th ke atas, 17 th ke atas, dsb. Kalau umur kita belum
cukup gak akan diijinkan nonton film ybs. Hal ini dapat berlaku karena
masih ada wibawa dari otoritas. Mestinya hal-2 baik seperti ini
dilanjutkan, termasuk membaca buku, nonton tv dan lain-2. Di Perancis,
tayangan tv sangat selektif jadwal tayangnya, acara untuk orang dewasa
hanya ditayangkan setelah jam 22.00. Di toko buku dan supermarket demikian
juga, buku-2 dewasa ditaruh di rak paling atas (anak-2 gak bisa
menjangkau) dan tidak boleh dibuka di tempat. Membatasi arus informasi
yang menggebu seperti sekarang memang susah, orang tua terpaksa dituntut
lebih banyak memperhatikan anak-2 nya termasuk memperoleh informasi yang
baik. Inilah harga modernisasi global yang harus kita bayar. Buku-2 Pram
menurut saya adalah untuk orang dewasa.
Salam,
Yatno

> Maaf kalo agak melantur keluar, abisnya penasaran mau nanggapi.
> Menurut saya sih ada baiknya juga larang melarang ini. Kretatifitas atau
> karya tulis atau apapun bentuknya bagi sebagian orang adalah bebas dari
> nilai tapi bagi yang laen mengandung misi (tidak bebas nilai). Menurut
> saya sih harus lihat kasus per kasus. Saya gak bisa bayangin perasaan
> bapak kalo anak bapak tiba tiba saja senang baca tulisan atau komik
> porno. Lihat sekarang di jalan jalan buletin dan koran yang banyak
> mengumbar kata kata gombal dan pamer piranti birahi? kepada siapa bapak
> berharap? kita berharap dapat mengawasi anak tapi waktunya terbatas.
>  Negara (berfikir secara positif) harus melindungi rakyaknya dari
> ancaman
> mental kayak begini.
> Orang yang berubah setelah baca novel bermutu hanyalah orang orang yang
> pinter! dan jumlahnya sangat sedikit. yang terbanyak adalah orang awam
> yang baca tulisan gak bermutu! Negara harusnya melindungi rakyaknya. Hak
> cipta tetap dihargai tapi juga harus diawasi. Belum lagi kalo kita lihat
> tayangan televisi yang dengan entengnya mengumbar kata kata kasar ....
> bangsat dan bodoh (maaf) adalah hal yang biasa, belum lagi pameran yang
> wah wah lainnya! yang jadi korban justru rakyat awam, orang yang
> berpendidikan cukup mungkin bisa memberikan pengertian kepada anaknya,
> tapi bagaimana dengan orang yang tak mampu? mereka sibuk cari makan!
> mereka harus dilindungi. Haruskah mereka dibiarkan dengan hak
> ciptaannya? inget filem Buruan Ciuman Gue yang diprotes Aa Gym? Niat
> yang baik untuk mengingatkan anak bangsa dari kejatuhan nilai nilai
> luhur justru di protes!
> Ya ... karena masyarakat awam sudah dijejali hak hak cipta seperti yang
> saya kemukakan diatas.
> Bapak bisa bilang ..... ya itu khan tergantung kita semua! ....tapi
> bagaimana dengan yang laen pak? yang boro boro ngurusin anak (sebagai
> generasi penerus bangsa), cari makan aja udah susah. Jadi sekali lagi,
> hak cipta adalah bukan segala galanya yang harus diberi tempat, tapi
> juga harus dicermati.
> Sekali lagi maaf untuk yang tidak berkenan.
>   Salam
>  Shofi
>
>  On 11/10/05, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>
>> Saya sangat sedih bila ada kelompok/ individu yang sangat tidak
>> menghargai karya orang lain. Memang manusia dilahirkan berbeda,
>> masing-masing individu adalah unik, tidak ada yang sama, termasuk
>> jalan pikirnya. Setiap penyangkalan terhadap fakta ini akan selalu
>> menimbulkan masalah. Tetapi harap diingat pula, perbedaan selangkah
>> lagi akan menuju perpecahan, bila kita tak mampu me-manage perbedaan
>> ini dengan baik. Kuncinya adalah satu: hormatilah pendapat orang lain
>> lewat konsensus, karena kita tidak bisa hidup sendiri, manusia adalah
>> makhluk sosial. Jadi hormatilah dan hargailah perbedaan: suku, agama,
>> ras, juga buah pikir seseorang. Masih ingat pooling yang dilakukan
>> Arswendro Atmowiloto yang berakhir dipenjarakannya penulis produktif
>> itu? Sedih memang......., itulah Indonesiaku!!!!
>> Salam,
>> Yatno
>>
>> > Setuju dengan Batara, perbedaan (pendapat, faham, suku, agama, dll.)
>> adalah anugerah yang harus disyukuri. Perbedaan pendapat menjalankan
>> pikiran. Bila semua sudah sepakat, maka tak ada tantangan-tantangan
>> dan perdebatan-perdebatan lagi yang harus dicari kebenarannya.
>> >
>> > Dalam dunia ilmu, kesepakatan akan menjadi Senjakala Ilmu
>> Pengetahuan alias The End of Science (mengutip judul buku John
>> Horbin yang baru saja diterjemahkan oleh Teraju).
>> >
>> > Keseragaman pikiran mematikan, perbedaan pikiranlah yang
>> menghidupkan suasana. Hidup kemerdekaan berpikir !
>> >
>> > salam,
>> > awang
>> >
>> > (buku harus dilawan dengan buku, bukan dengan api, maka pembakaran
>> buku adalah penyangkalan dan penghinaan terhadap inteligensia !)
>> >




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke