Mas Sugeng

Saya pribadi tidak mengangap ide anda "gila "
Mungkin yang perlu dilakukan adalah study ekonomisnya...dengan
membandingkan dengan sistem lain (tadah hujan, sumur biasa dsb).
Setelah study ekonomisnya dilakukan mungkin kita baru bisa katakan mana
sistem yang cocok untuk kita pakai.
saya kira teman - teman yang bekerja di PDAM / Hydrogeologist  bisa
memberikan masukan lebih mengenai hal ini ...
Ada enggak ya anggota IAGI yang kerja / bekerja sama dengan PDAM dalam
masalah air ini...?

Regards

Kartiko-Samodro
Telp : 3852



|---------+--------------------------------->
|         |           "Sugeng Hartono"      |
|         |           <[EMAIL PROTECTED]|
|         |           hina.co.id>           |
|         |                                 |
|         |           18/11/2005 11:13 PM   |
|         |           Please respond to     |
|         |           iagi-net              |
|         |                                 |
|---------+--------------------------------->
  
>-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
  |                                                                             
                                    |
  |       To:       <[email protected]>, <[email protected]>                
                                    |
  |       cc:       <[email protected]>                                       
                                    |
  |       Subject:  RE: [iagi-net-l] Balasan: [iagi-net-l] Krisis air           
                                    |
  
>-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------|




Mas Ferdi...
Belum lama saya mendapat ide "gila" dari mantan boss di LN. Kenapa saya
namakan "gila" karena beliau melihat peluang untuk mengolah air yang
diproduksi dari sumur-2 tua yang watercutnya sudah mencapai 99.2%. Daripada
air ini hanya dibuang percuma (setelah di-treat) maka perlu diolah menjadi
air bersih. Dalam hati saya katakan: Alangkah mahalnya untuk mengolah air
formasi yang sebelumnya bercampur minyak mentah menjadi air bersih.
Untuk meyakinkan idenya, sampai beliau mengirimi saya sebuah buku berjudul
: WATER, the fate of our most precious resource. Penulis: Marq De Villiers.
Apakah ide ini nanti bisa terlaksana? Mohon tanggapan rekan-rekan.
Wassalam,
Sugeng



-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thu 11/17/2005 7:26 AM
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Balasan: [iagi-net-l] Krisis air

Mas Agus....

water cut...kalau sumurnya sudah tidak berproduksi (no hc )  dan fieldnya
sudah ditinggalkan , mungkin  ya...bisa dipakai....
tapi apa lalu punya biaya untuk perforasi (karena umumnya fresh water zone
itu ditutup) , maintain well, water treatment  ..lalu penyaluran air ke
lingkungan sekitarnya...
kalau ngebor khusus untuk air dengan kedalaman 3000 m kayaknya enggak ada
yang mau deh...

problem air di balikpapan cenderung karena pemanfaatan air tadah hujan
sebagai sumber pdam....jadi kalau enggak hujan ya enggak ada air...
sedang air tanah cenderung banyak Fenya sehingga pemrosesannya butuh biaya
yang lebih besar....

Sekarang ada aturan tidak langsung bahwa perumahan harus punya instalasi
water treatment sendiri karena pdam tidak mampu menyediakannya

Kalau emang punya duit dan "mau"..kaltim kan dipinggir laut....bikin aja
instalasi kayak di arab sana....

emang balikpapan itu kaya minyak tapi miskin air...

Regards

Kartiko-Samodro
Telp : 3852



|---------+---------------------------->
|         |           Agus Mochamad    |
|         |           Ramdhan          |
|         |           <[EMAIL PROTECTED]|
|         |           o.co.id>         |
|         |                            |
|         |           16/11/2005 07:36 |
|         |           PM               |
|         |           Please respond to|
|         |           iagi-net         |
|         |                            |
|---------+---------------------------->

>-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------|

  |
|
  |       To:       [email protected]
|
  |       cc:
|
  |       Subject:  [iagi-net-l] Balasan: [iagi-net-l] Krisis air
|

>-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------|





    Ikut nimbrung,

      Dari potongan artikel yang dikirimkan Pak Taufik:  "Kalimantan Timur,
yang memiliki pasokan air bersih relatif banyak, mengalami  ancaman krisis
air".

      Waktu saya mempelajari  kemungkinan adanya perangkap hidrodinamik di
Cekungan Kutai, saya baca paper Paterson dkk. (1997) yang menyatakan bahwa
di  lapangan Sanga-Sanga, Nilam, dan Tunu, s/d kedalaman 6000 ft ditemukan
fresh  water zone. Di Lapangan Semberah, fresh water zone ini ditemukan
sampai dengan kedalaman 3000 ft (IPA, 1994). Kalau fresh water ini
terproduksi  sebagai water cut, perlu dipikirkan pemanfaatannya sebagai
sumber air bersih. Waktu  tahun 2003/(2004?) ada ceramah ilmiah dari
hydrogeologist dari Texas di GL-ITB  yang menjelaskan bahwa di Texas, air
formasi dengan kandungan total  dissolved solid yang relatif tinggi
(brackish - saline), telah dimanfaatkan sebagai sumber air  bersih dengan
treatment terlebih dahulu.

      Buat rekan-rekan yang bekerja di  Kutai Basin mungkin bisa memberikan
informasi rinci mengenai kualitas dan  barrel water per day yang
terproduksi sebagai water cut . Mungkin data ini  dapat dianalisis untuk
pemikiran pemanfaatan water cut ini sebagai cara  menghadapi krisis air di
Kaltim.

      Salam,

      Agus MR


OK Taufik <[EMAIL PROTECTED]> menulis:  Seingat saya RDP beberapa waktu
lalu pernah menyinggung pemetaan/pendataan
cadangan air (untuk subsurface?), apakah ada informasi lanjutannya?
Menariknya kasus susah air di kaltim adalah karena prilaku masyarakt yg
suka
membuang limbah beracun ke sungai (masyarakat: mungkin terkait industri
pertambangan )
Susah Bensin Ya Jalan kaki, Susah air Ya Jalan di tempat





__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap
spam
http://id.mail.yahoo.com


This e-mail (including any attached documents) is intended only for the
recipient(s) named above.  It may contain confidential or legally
privileged information and should not be copied or disclosed to, or
otherwise used by, any other person. If you are not a named recipient,
please contact the sender and delete the e-mail from your system.





This e-mail (including any attached documents) is intended only for the
recipient(s) named above.  It may contain confidential or legally
privileged information and should not be copied or disclosed to, or
otherwise used by, any other person. If you are not a named recipient,
please contact the sender and delete the e-mail from your system.


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke