PSC dan Cost Recovery jika dihubungkan dengan kondisi perminyakan di tanah
air, bisa terkait secara langsung maupun tidak langsung. Diskusi/masukan
masalah ini jika diimplemetasikan bisa jadi membuat ketertarikan investor
untuk berinvestasi lebih jauh menjadi berkurang, tapi itu mungkin berlaku
didaerah/basin yang sekarang ini berproduksi yang jika dilihat sepintas lalu
sudah mengalami declining dalam poduksinya. Tanpa adanya perubahan term PSC
dan Cost Recovery sekalipun, kita dapat melihat kebanyakan
perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di dalam negeri sudah mulai
mengurangi keinginannya untuk berinvestasi lebih lanjut, malah cenderung
stagnant. Mungkin jadi daerah tempat mereka beroperasi dapat diibaratkan
sebagai gadis yang berumur 30 tahun, atau bahkan lebih yang sudah tidak lagi
memancarkan gairah. Sehingga yang dilihat hanya jeleknya saja, ini kurang
bener, itu salah ... Padahal kalau kita lihat dan rewind kembali presentasi
Ketua IAGI di Kuala Lumpur Jumat lalu, bahwa basin yang sekarang ini
dikatakan sudah mengalami decline dalam produksinya (tidak menarik) malah
masih dalam Cycle 01 menurut termnya Ketua IAGI tsb, masih ada Cycle 02 dan
03. Belum lagi kalau kita bicara tentang unexplored basins dan non producing
basin tetapi proven petroleum systemnya. Ketidaktertarikan investor dalam
menangkap peluang investasi terhadap open blocks yang ditawarkan, bukan
berarti bahwa pemerintah dalam hal ini Department Migas (maaf kalau salah
tulis nama ...) buru-buru mengatakan bahwa negara harus memberikan
incentives lebih untuk investor tesebut agar menjadikan menarik dalam
berinvestasi. Setuju sekali dengan statementnya Ketua IAGI dalam
presentasinya di Kuala Lumpur, bahwa apakah para pelaku bisnis dan regulator
(Migas) dalam menawarkan blok-blok tersebut sudah berbuat maksimal dalam
mengemas paket blok tersebut sehingga membuat investor menjadi tertarik?!.
Ibaratnya kalau Gadis bagaimanapun cantiknya, kalau nggak mandi tetap saja
bau, kalau nggak dandan, tetap saja kumal, harga jualnya akan menjadi jatuh
kalau malah nggak laku sama sekali. Disitulah letak kepiawaian berpikir
orang seperti Andang Bachtiar yang telah menginvestasikan waktunya untuk
mengembangkan IAGI selama 2 periode.
Kembali ke PSC term dan Cost Recovery, apakah masih relevan mendiskusikannya
dan mengusulkannya kepada pihak yang berwenang?. Kalau melihat
prosentase jumlah proven petroleum but non producing basins dan unexplored
basins dibandingkan dengan existing producing basins (malah masih dalam
cycle 01) sangat naif jika dikatakan tidak perlu dan menghambat pertumbuhan
investasi dinegara RI tercinta.


On 12/19/05, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Kenapa yang kita diskusiin justru malah memperketat PSC dan cost recovery,
> memperbesar revenue negara dlsb. Sementara investor masih belum mau
> menoleh
> sedikit pun ke negara ini. Untung saja petinggi migas di Indonesia kayak
> pak Kardaya ini masih sangat realistis soal hal ini. Mudah-mudahan beliau
> tidak harus dipaksa SBY untuk berbuat sebaliknya karena usulan kita2 ini.
>
> Kita itu ibarat orang tua yang masih merasa punya gadis perawan cantik dan
> seksi berumur 1000 bulan yang banyak dikejar laki-laki sehingga harus
> bikin
> persyaratan ketat untuk menseleksinya. Padahal gadis tersebut mungkin
> sekarang udah berumur 30 tahun, mungkin udah gak perawan, dan gembrot.
> Tetapi kita masih terus berkutat bikin persyaratan ketat untuk menseleksi
> laki-laki....
>
> Regards -
>
>
> Incentives needed in Indonesia oil and gas search
> Date: 19/12/2005
>
>
> --------------------------------------------------------------------------------
>
> Indonesia must find new ways to attract foreign investors to search for
> oil
> and gas and reverse a slide in production, the nation's energy regulator
> said on Sunday.
>
> Indonesia needs new finds to replace ageing fields with falling output but
> a row between Exxon Mobil and Indonesia's state oil firm, Pertamina, over
> the operation of a new US$2 billion field, Cepu, has worried other
> investors.
>
> "The government has to give more incentive to attract foreign investors
> because Indonesia's oil production is declining. There is no significant
> discovery so far," BPMIGAS chief Kardaya Warnika told reporters in West
> Java city of Bandung.
>
> He said crude and condensate production was expected to reach 1.06 million
> barrel per day (bpd) in 2005, just short of a budget target of 1.07million
> bpd.
>
> Warnika said he hoped for a breakthrough soon in the dispute over who will
> operate the Cepu field, Warnika said.
>
> The field on Java island, which has the potential to raise Indonesia's
> output by 20 percent, is one of Exxon's biggest undeveloped fields with
> estimated recoverable reserves of 600 million barrels of oil.
>
> In June, Indonesia offered 27 new exploration areas with sweetened terms
> for foreign oil firms but so far contracts for only eight exploration
> areas
> have been signed.
>
> "Indonesia should give more share to investors in the remote and frontier
> areas that have not been explored," Warnika said.
>
> Indonesia's standard oil production sharing contract is 85:15 in favour of
> the government and 70:30 for gas, levels that foreign investors have said
> are too low to be attractive.
>
> In 20 of the new exploration areas, the government has offered investors
> 25
> to 35 percent of production.
>
> Warnika said another way to lure investors would be to allow an operating
> unit in one area to use its revenues in the operation of other exploration
> areas.
>
> Indonesia expects spending in oil and gas exploration by foreign firms to
> almost double to US$1.1 billion this year from US$590 million in 2004, but
> exploration drilling looks set to fall to 62 wells from 64 last year.
>
> A mines and energy official said the government planned to sign
> exploration
> contracts this month with several major oil companies. Other oil companies
> that operate in Indonesia include U.S. firm Chevron Corp , French energy
> giant Total and oil major BP Plc.
>
>
> Source : REUTERS 19 Dec 2005
>
>
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina
> [at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
> Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau
> [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
> ---------------------------------------------------------------------
>
>

Kirim email ke