Hallo semuanya,
selamat berjuang untuk mempertahankan Cepu block.
 
Tetapi ada satu lagi lapangan yang perlu diperhatikan yaitu lapangan gas 
D-alpha Natuna.
Saya iseng iseng lihat salah satu dokumen tentang D-alpha Natuna,
 
ini ada summary nya sedikit:
+   1980, Pertamina dan Exxon buat kontrak dengan masing2 50 % sahamnya
+   1983, D-alpha Natuna ditemukan dengan perkiraan resources: 210 TCF gas 
(dengan komposisi:  71 % CO2,   28% Hydrocarbon (utamanya Methane) 0.5 % H2S, 
0.5 % N2)
berati CH4 volume nya kira2  45 TCF  (wow.........)
 
+ Basic agreement di tandatangani thn 1995,  disebutkan ada rencana (tetapi 
tidak jelas apakah ada komitment) untuk bikin 6 platform untuk produksi, enam 
platform treatment, 4 injection platform dan 2 accomodation platform.  dengan 
total perkiraan investment  USD 23 miliard.  CO2 nya akan  di Inject ke 
Carbonate reef, di sekitar Natuna.
 
+ untuk merealisasikan project ini pemerintah menunjuk:
    * Prof Dr. B.J Habibie sebagai Kepala Tim, 
    * Drs. Faisal Abdaoe, sebagai Ketua Pemasaran (9 anggota)
    * Ir. G.A.S Nayoan, sebagai Ketua penegembangan lapangan gas (8 anggota)
    * Ir. Wiriodidjojo, sebagai ketua pengembangan fasilitas pendukung (12 
anggota)
 
+ dokumen internal suatu perusahaan minyak:  ada kemungkinan wilayah ini masuk 
dalam dispute antar negara. (Indonesia & Malaysia )?
 
+ Info dari Pak ADB waktu kunjungan ke KL,  kontrak akan segera berakhir, lupa 
tahun berapa Ndang ?  dan ini kontrak yang mana?
 
+ dokumen internal dari suatu perusahaan minyak:  daerah injeksi CO2 nya di 
sebelah barat block South Sokang (sokang trough), diantara beberapa discovery 
dari Conoco. 
 
Kalau tidak salah disana tidak ada carbonate reef yang besar untuk menyimpan 
CO2 nya seperti yang direncanakan di awal proposal CO2 sequestration nya.
 
+ pertengahan tahun ini pemerintah menyatakan akan mengembangkan lapangan 
D-alpha ini, tetapi setelah masuk dalam berita selama sebulan, lalu tidak ada 
berita lagi
(ada yang tahu rencana selanjut nya?)
 
+ catatan dari suatu perusahaan : lapangan ini adalah reef build-up dengan 
beberapa episode dari bulid-up, jadi bukan hanya satu build-up besar.
 
+ pernah ada perusahaan(service co.)  yang menawarkan hasil porosity prediction 
dari D-alpha Natuna, saya lupa nama perusahaan nya, tetapi mereka katanya sudah 
punya datanya dan sudah bikin AI inversion dan multi attribute analysis, saya 
tidak tahu apakah pakai data 3D atau 2D seismic (  pertanyaan: apakah data 3D 
sudah ada?)
 
+gimana perhitungan resource/reserves nya?, apakah berdasarkan 2D seismic data, 
dan porosity yang dipakai pakai Montecarlo dengan suatu distribution?).  Kita 
harus ingat perihal reserve prediction dari offshore jawa Timur dan Offshore 
Sulawesi Tengah.
Point nya adalah, apakah reserve nya memang sebesar 45 TCF?
 
+ seandainya ada sistem CO2 sequestration yang sudah memenuhi perjanjian Kyoto, 
maka akan banyak sekali lapangan2 disekitar Natuna yang akan bisa ekonomis jika 
bisa numpang setor CO2 nya ke sistem ini. 
paling tidak bisa hitung ke ekonomiannya tanpa harus membuat environemental 
cost nya ngambang dengan angka yang besar atau pakai decision tree untuk 
membuat estimasi biaya dengan memasukkan kemungkinan di "sue" karena merusak 
lingkungan.
 
 
sekian dulu fakta (?) dari hasil kompilasi saya, silahkan di tambahkan lagi dan 
mari kita bantu pemerintah untuk kompilasi fakta dan analisa kita supaya tidak 
hanya mendengarkan dari sumber yang mungkin punya "kepentingan" terhadap 
lapangan ini. 
 
 
 fbs

----- Original Message ----
From: Ariadi Subandrio <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, December 29, 2005 8:56:19 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Incentives needed in Indonesia oil and gas search


Abah,
  yang pertama2 mengeluarkan statement (opini) adalah pers asing (REUTERs, 
Bloomberg, dsb). nah pers kita kan lebih merasa percaya diri kalau mengambil 
source-nya dari asing (pokok e bau asing adalah benar). Jadilah opini-nya 
tergoreng seperti yang Abah resahkan itu, dimana fakta yang terbalik itu 
menjadi kebenaran, bahkan "kebenaran"nya itu dipercaya oleh para pemegang 
otoritas dan lebih sedihnya "kebenaran terbalik" itu juga menjadi pegangan-e 
Pertamina, ini yang lebih amburadul. Sayangnya masalah Information Route 
seperti ini tak masuk dalam RUU Penyiaran, kita disibukkan dengan udel nya 
Sarah Azhari saja.
   
  Bicara Cepu di Pertamina rasanya sama dengan bicara G-30S jaman Soeharto. 
Walau "hak"nya blok Cepu adalah hak Pertamina, tapi semua bungkam, semua gak 
ada yang bicara pada proporsi yang sepantasnya, sesuai haknya, semua nurut pada 
Tim Pemerintah yang suaranya dianggap seperti Dewa yang gak pernah punya salah, 
Tim yang tak pernah tau dunia bisnis minyak itu. Tak ada yang mengkritisi 
rencana2 yang digembargemborkan ExxonMobil. Tak ada yang bicara review biaya 
POD hingga 2 Milyar Dolar lebih didaerah onshore yang secara infrastruktur 
sangat matang itu. Tak ada yang mempersoalkan foreigners EM kudu naik chopper 
dari Juanda ke Bojonegoro. Tak ada yang memberikan pendapat atas biaya H2S 
mengakibatkan cost operation sampai 2 kali lipat, dsb, dsb.
   
  Haruskah nungggu Hugo Chavez? atau Ahmadinejad?
   
   
  lam-salam,
  ar-.
  

[EMAIL PROTECTED] wrote:
  > >> Incentives needed in Indonesia oil and gas search
>> Date: 19/12/2005
>>
>> --------------------------------------------------------------------------
> ------
>>
>> Indonesia must find new ways to attract foreign investors to search for
>> Warnika said he hoped for a breakthrough soon in the dispute over who
>> will operate the Cepu field, Warnika said.
>>
>> The field on Java island, which has the potential to raise Indonesia's
>> output by 20 percent, is one of Exxon's biggest undeveloped fields with
>> estimated recoverable reserves of 600 million barrels of oil

Rekans

Coba baca kalimat diatas , betapa jahatnya pers yang menjadikan
masyarakat (termasuk masyarakat awam di Indonesia) , jadi beranggapan
bahwa lapangan itu adalah miliknya ExxonMobil dan bukannya milik
Pertamina.
Ya , jelas investor lainnya menganggap ini suatu hal yang negatip,
dan ini bahkan digembar gemborkan seolah olah Pertamina meminta sesuatu
yang bukan haknya.

Kita sih tahu bagaimana a real story -nya , akan tetapi setelah dimasak
oleh pers , dan dimatangkan oleh oknum oknum (termasuk dari pemerintah)
sehingga seolah-olah justru Pertamina yang menghalangi proses ini.

Kan lucu , Pertamina diobok obok oleh kawan sekampungnya ,dengan alasan
alasan macam macam sedangkan Exxon Mobil dengan bantuan pemerintahnya
secara leluasa melakukan kampanye "company image"na dikoran koran.

Andaikan Bung Karno masih bisa mendengar dialam baka sana ............
>> mungkin beliau akan menyesal wafat terlau dini , Wallahualam

Si Abah.
>>


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

  


        
---------------------------------
Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke