Kelihatannya, film yang menarik ya, paling tidak untuk melihat bahwa kekuatan 
Bumi bisa begitu merusak ! Cari ah film-nya, terima kasih Ferry atas infonya.
   
  Hanya, coba ya kita bahas sedikit, apa mungkin secara geologi Yellowstone 
bisa meletus sehebat itu. Memang sih ini sekedar film, tetapi saya "iseng" saja 
memikir-mikirnya dan membanding-banding tektono-volcanic setting antara barat 
Amerika (terutama 
Washington-Oregon-California-Idaho-Nevada-Montana-Wyoming-Utah states) dan sisi 
Toba-Sumatra.
   
  Memang, ada beberapa volcanologists yang menaruh letusan Yellowstone di 
630.000 BC sebagai letusan terhebat, mengatasi semua letusan gunungapi yang 
ada, VEI-volcanic energy index/magnitude erupsi ditaruh 9, Tambora 1815 punya 
VEI 8. Angka 9 ini record. Hanya, apa dasarnya. Tak ada yang menyaksikan 
Yellowstone meletus, seperti halnya Toba, itu hanya berdasarkan sebaran rempah 
volkanik yang dikeluarkannya.
   
  Tetapi, mestinya tidak dilupakan bahwa Yellowstone, sejak muncul pertama di 
20-15 Ma, bukanlah gunungapi, melainkan continental hotspot yang berhubungan 
dengan ekstensi wilayah Basin and Range di wilayah Idaho-Wyoming-Utah. Ekstensi 
Basin and Range sendiri berhubungan dengan back-arc spreading, di belakang 
Cascade Range-Siera Nevada Arc di bagian barat Amerika Serikat. 
   
  Continental hot spot memang jarang, tetapi ada, salah satunya Yellowstone 
itu. Karena terhubung ke ekstensi atau continental rifting, maka banyak 
akar-akar lava basaltik yang naik dari mantle di bawah poros ekstensi melalui 
sesar2 retakan dan melelehkan lava menjadi ladang lava di sekitar Yellowstone 
(misalnya juga Columbia River Basalt di BL Yellowstone). 
   
  Karena hotspot, maka lokasi Yellowstone pun berjalan dari zaman ke zaman 
mengikuti gerak pisah ekstensi Basin and Range. Sepanjang perjalanannya, ia 
meninggalkan ladang-ladang lava yang arahnya barat-timur sesuai ekstensi Basin 
and Range (bandingkan dengan oceanic hot spot pulau2 di Hawaii, Oahu dkk.). 
Nah, inilah yang terkenal sebagai Snake River Plain Lava Field yang sangat 
luas. Tetapi, harus dicermati bahwa luasnya itu karena ladang lava berjalan 
dari zaman ke zaman, bukan hasil lelehan sekali jadi. Maka, umur lava-nya dari 
Oregon di barat ke Idaho-Wyoming di timur, tempat Yellowstone sekarang, makin 
muda sebab Yellowstone bergerak ke timur.
   
  Apa bisa erupsi leleran/lelehan lava yang basa menimbulkan letusan 
paroksismal ala Krakatau, Tambora, atau Toba ? Sejarah menunjukkan tak ada 
kejadian semacam itu. Magma basa akan cair dan keluar sebagai efusif, membentuk 
perisai semacam Mauna Loa/Kilauea di Hawaii. Magma basa tak pernah membentuk 
sumbat semacam magma asam/intermediat yang sering membuat letusan hebat karena 
terkumpulnya tekanan tinggi oleh sumbatan. St Helens, di tepi barat Cascade 
Range meletus hebat tahun 1980, tetapi ini semacam gunung2 api di Indonesia, di 
mana lempeng samudra Juan de Fuca menunjam di bawah tepi barat California, 
sementara selatan dan utaranya tergeser oleh strike-slip San Andreas Fault.
   
  Kemudian, tak cocok membandingkan Yellowstone dengan Toba. Toba bukan hot 
spot dan tak duduk di kerak yang terekstensi seperti Basin and Range. Coba 
lihat lokasi Toba dengan lokasi Yellowstone terhadap present plate margin di 
Sumatra dan barat Amerika, tidak di setting tektonik yang sama kan ? Toba masih 
bisa terpengaruh active subduction walaupun oblique, tetapi Yellowstone sudah 
lama tepi aktifnya digantikan penyesaran San Andreas, bukan lagi subduction 
Kula dan Farallon plate.
   
  Maka, saya pikir Yellowstone hanya akan terus menyemburkan geysernya dan 
mengeluarkan lava sekali-sekali. Yang diduga kawah raksasa karena ladang lava 
yang luas, itu hanya ladang lava berjalan. 
   
  Tetapi, saya bayangkan, itu memang film yang pasti menarik.
   
  salam,
  awang

[EMAIL PROTECTED] wrote:
  

Supervolcano


Satu lagi sebuah film faktual yang mengangkat kedahsyatan dan kekuatan
sebuah bencana alam, khususnya gunung api/volcano.

Diproduksi oleh BBC London, kombinasi fakta saintifik dan drama yang
dikemas dalam film ini terasa berbeda dari genre film sejenis produksi
Hollywood macam Dante's Peak, The Core, Volcano, Twister, dll. Fakta-fakta
saintifik di film ini terasa lebih kental disuguhkan dibanding film-film
Hollywood yang biasanya sarat dengan muatan artistik. Walaupun begitu,
dengan didukung sinematografi dan efek visual yang apik plus pengalaman BBC
dalam membuat banyak film dokumenter membuat film ini tetap memikat untuk
dinikmati.

Supervolcano bercerita tentang hasil penelitian USGS di dekade terakhir
yang menunjukkan bahwa dibalik keindahan dan kesejukan rimbunnya hutan
pinus di Yellowstone National Park, ternyata di bawah permukaannya
menyimpan sejuta potensi bencana. Hampir seluruh areal Yellowstone National
Park - kira2 seluas Jabotabek- dengan berbagai geyser dan hot spring-nya,
ternyata adalah sebuah kaldera gunung api raksasa, atau cukup disebut
Supervolcano. Studi seismik dan lapangan menunjukkan bahwa Supervolcano
Yellowstone memiliki siklus erupsi setiap 600.000 tahun. Sedangkan letusan
terakhir Supervolcano ini tercatat 620.000 tahun yang lalu, artinya saat
ini siklusnya sudah tercapai dan ia dapat meletus kapan saja.

Hal menarik lainnya dalam film ini adalah seringnya disebut nama
Supervolcano Toba di Sumatera Utara sebagai contoh letusan terakhir gunung
api yang masuk kelas Supervolcano pada 74.000 tahun yang lalu. Sehingga
dalam pemodelan2 yang dilakukan pada film ini selalu merujuk pada kasus
Toba. Erupsi sebuah supervolcano diyakini setara dengan kekuatan berantai
1000 x bom atom Hiroshima yang meledak setiap detik. Letusannya akan
beratus kali lebih kuat dari Krakatau, Tambora, Pinatubo atau St. Helens.
Jumlah korban seketika diperkirakan mencapai jutaan orang, sedangkan jutaan
lainnya akan menyusul kemudian seiring dengan peredaran debu piroklastik
yang mendunia. Seluruh penerbangan diperkirakan akan tutup. Temperatur
bumi akan menurun rata-rata 10 derajat C akibat sinar matahari yang
terhalang untuk sekian lama.

Semua gambaran tersebut dengan dikombinasikan dengan efek visual tingkat
tinggi membuat suasana dramatis yang disajikan dalam Supervolcano. Ending
film yang sudah disiarkan BBC-1 Agustus lalu ini pun meninggalkan kesan
yang tidak biasa dibandingkan film Hollywood. Pesan terakhir yang
disampaikan Supervolcano adalah, " bahwa tidak seperti bom nuklir,
tabrakan asteroid, global warming atau ancaman terhadap peradaban manusia
lainnya, sangat sedikit yang bisa kita lakukan untuk mencegah dan
meminimalisasi tragedinya saat ia benar-benar akan meletus, sang
Supervolcano !"

Sayangnya, film ini sepertinya bakal sulit untuk muncul di bioskop-bioskop
21, jadi kalau anda berminat menontonnya hanya bisa membeli versi VCD
originalnya di Gramedia atau kalau mau lebih hemat cari saja DVD-nya di
Ratu Plaza atau Mangga Dua, ....persis seperti saya :-)

Selamat menonton !

Ferry Hakim


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

  


                
---------------------------------
Yahoo! Photos
 Ring in the New Year with Photo Calendars. Add photos, events, holidays, 
whatever.

Kirim email ke