Terima kasih Kang Andang, masalah kebencanaan geologi (saya tdk
menggunakan terminology bencana geologi karena bisa dikonotasikan
geologi pembawa bencana) juga merupakan focus kepengurusan IAGI yang
sekarang, namun karena IAGI adalah organisasi profesi maka IAGI
mendekatinya dari sisi "geological scientific information" (bisa
dipahami oleh orang awam)yang disajikan kepada masyarakat maupun aparat
pemerintah. IAGI tidak akan melibatkan diri dalam hal non-teknisnya,
biar yang ini ditangani oleh organisasi social kemasarakatan disamping
oleh pemerintah, IAGI yang menyediakan informasi teknis.

Salam,
LTH 

-----Original Message-----
From: Andang Bachtiar [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, January 06, 2006 1:43 PM
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Outcome yang tidak seimbang: "Dari Bencana ke
Reformasi Agraria"

Setelah bicara di radio Ramako kemarin jam 8 pagi (atas nama geologist
merdeka, tentunya -- walaupun mbak Mega dari Ramako sering kepleset
memanggit saya sebagai Ketua Umum IAGI -- dan langsung saya
koreksi:MANTAN, mbak!), saya diundang oleh kawan-kawan WALHI untuk
datang di markas mereka di Tegal Parang Utara 14 jam 5 sore, ikut urun
rembug dalam rapat koordinasi LSM-NGO lingkungan dan sejenisnya untuk
merespon permasalahan bencana banjir-longsor terutama di Pulau Jawa.
Lebih kurang 23 orang hadir dari berbagai LSM-NGO, diantaranya KPA, KAU
(Koalisi Anti Utang), beberapa Serikat Tani, YLBHI, PBHI, Jatam, dan
yang lain-lain yang saya juga agak lupa namanya. Kawan-kawan LSM-NGO
memasukkan saya dan Pak Gatot (dari DepTan - ahli hidrologi) sebagai
kelompok expert. Saya sendiri dalam pengantar perkenalan menyebutkan
bahwa saya bukan expert bencana-geologi, tapi karena pengalaman &
aktivitas di IAGI 5 tahun, paling tidak, jadi lebih tahu sedikit dari
kawan-kawan yang ada di forum tersebut mengenai geologi dan kaitannya dg
bencana.

Saya datang terlambat (jam 6) pada saat pembicaraan sudah setengah jalan
untuk merumuskan poin-poin utama yang perlu dilakukan oleh kalangan
LSM-NGO dalam kaitannya dengan bencana tersebut. Yang menarik,
kawan-kawan tersebut menyadari bahwa permasalahan bencana banjir-longsor
di Jawa adalah multi-sektor dan multi-kausal, tapi mereka belum bisa
memetakan -apalagi secara kwantitatif- kontribusi masing-masing
sektor/kausal pada bencana tersebut. Dalam perumusan permasalahan dan
solusi-antaranya disebutkan bahwa:
- kondisi bencana banjir-longsor di Jawa yang berulang setiap tahun ini
sudah merupakan kategori extra-ordinary, jadi pemerintah dan masyarakat
tidak bisa menganggapnya sebagai "business as usual" belaka.
- perubahan tata-guna lahan untuk kepentingan industri, perubahan hutan
primer menjadi hutan sekunder, dan pembiaran lahan-lahan kritis semuanya
berkontribusi pada bencana banjir-longsor yang terjadi di Pulau Jawa
- dalam kaitan dg hal nomer 2 diatas, maka re-distribusi kepemilikan
lahan untuk bisa dikerjakan secara produktif (sekaligus ecologically
setimbang) oleh para petani menjadi sangat penting
- karena sebagian besar lahan-lahan hutan di Jawa dikuasai oleh
Perhutani, maka perlu dipertimbangkan "moratorium" Perhutani untuk
menata kembali kebijakan kehutanan di Jawa
- bencana-bencana tersebut di Jawa pada umumnya juga dikarenakan
tata-ruang yang tidak layak, terutama dalam pengaturan tata-guna lahan
untuk pertanian/kehutanan; oleh karenanya perlu didesakkan untuk
meninjau ulang keseluruhan tata-ruang daerah-daerah yang punya potensi
bencana di Jawa 
- pemerintah (pusat, provinsi, kota/kabupaten) bertanggung-jawab
sepenuhnya atas keselamatan dan penghidupan rakyatnya, sehingga
usaha-usaha yang tidak serius dari pemerintahan dalam mitigasi dan
penanganan bencana harus dituntut-digugat, baik secara kelembagaan
maupun class-action
- kapitalisasi penanganan bencana dengan menggunakan utang (IMF/ADB etc)
telah menambah carut-marut perbencanaan nasional, dimana hal tersebut
telah membuka peluang kontrol/bargaining pihak asing terhadap Indonesia
dan bisnis-bisnis multinasional yang mengatasnamakan bencana; untuk itu
maka transparansi dana penanganan bencana didesak untuk segera dilakukan
dengan melibatkan grass-root dan LSM-NGO
- beberapa statement yang akan diusung sebagai jargon kampanye adalah
(diantaranya):
*Dari Bencana ke Reformasi Agraria"
*Jangan Gunakan Bencana untuk Cari Utang Baru*
*Bisnis Bencana diatas Penderitaan Petani* dsb

Kedatangan saya menambahkan wawasan baru kepada kawan-kawan LSM-NGO
tersebut yaitu dengan memasukkan hal-hal sebagai berikut dalam perumusan
masalahanya:
- Kwantifikasi multi sektoral / multi kausal untuk kebencanaan mutlak
diperlukan sebelum kawan2 tsb bergerak lebih jauh, sehingga
positioningnya lengkap, seimbang dan tidak hanya ke satu sektor saja.
Multi kausal bencana banjir-longsor bisa diuraikan mulai dari penyebab
alam (geologi, meteorologi, hidrologi), penyebab teknis-budaya
(kehutanan, pertanian, pemukiman, tata-ruang, agraria), sampai ke
penyebab sosial-politik (keterpinggiran petani, kelalaian
negara/pemerintahan atas keselamatan rakyatnya, kapitalisme & utang,
kepentingan bisnis penguasa, kampanye politik, dsb).
- Karena kompetensi teknis dan referensi tentang geologi, meteorologi,
dan hidrologi mereka kurang (atau hampir tidak ada sama sekali), maka
fokus perhatian lebih ditujukan pada penyebab teknis budaya (yang lebih
berdomain permukaan) dan terutama sosial-politik (yang paling disuka
oleh kawan2 tersebut). Untuk meningkatkan kompetensi kelembagaan dan
legitimasi saintifik gerakan maka networking dengan para ekspert atau
asosiasi profesi kebumian sangat diperlukan.
- Saya katakan bahwa saat itu saya tidak mewakili IAGI, tetapi lebih ke
personal professional interest saya pribadi. Tetapi tidak menutup
kemungkinan bahwa kawan-kawan NGO-LSM bisa lebih berhubungan dengan IAGI
di masa depan dengan kepengurusan yang baru dibawah Pak Luthfi.
- Peta-peta tematik kebencanaan, terutama untuk gerakan tanah - tanah
longsor, telah dibuat oleh Pemerintah walaupun belum seluruh daerah bisa
dicover. Tetapi peta-peta tersebut masih berskala 1:100.000 dimana
zona-zona merah (potensi tinggi), kuning (potensi menengah), dan hijau
(aman) masih belum memperlihatkan pembagian rinci untuk kepentingan
operasional. Bisa saja 1/4 daerah kabupaten masuk ke zona merah semua,
dimana lebih dr 3 kecamatan dan mungkin puluhan desa termasuk di
dalamnya, padahal potensi-potensi bahaya terbesar (berdasarkan kejadian)
hanya berada di kecamatan tertentu dan desa-desa tertentu saja. Untuk
itu perlu didesakkan supaya Pemerintan (Pusat, Prov, maupun terutama
daerah) menyegerakan penyelesaian peta-peta untuk skala lebih
operasional yaitu minimum 1:50.000 sesuai dengan peta dasar yang dipakai
dalam RTRW.
- Fokus penangan bencana, sesuai dengan paradigma Bakornas PB,
seharusnya lebih ke arah MITIGASI dari-pada penanggulangan daruratnya.
Tetapi paradigma tersbut sampai sekarang hanya menjadi jargon dan slogan
dan bahan indah presentasi2 saja. Tidak pernah dialokasikan dengan
serius dana-dana untuk melakukan mitigasi, baik di tingkat pusat,
apalagi di tingkat kabupaten/kota.
- Dalam jangka pendek (3 bulan kedepan) selain fokus ke penanggulangan
korban bencana, seharusnya kawan2 NGO-LSM dengan menggunakan jaringannya
di daerah-daerah bisa ikut berperan dalam mitigasi. Karena selama curah
hujan terus meningkat seperti saat ini (dan kata BMG sampai akhir
Februari), maka kita tinggal menunggu waktu saja untuk mendengar
berita-berita duka longsor-banjir di berbagai tempat lain di sepanjang
jalur OAF Jawa (khususnya) dan Mountain front Bukit Barisan.
Keikutsertaan dalam mitigasi bisa dilakukan dengan mengaktifkan
sosialisasi kewaspadaan / alterness / preparedness ke kelompok-kelompok
tani di daerah2 potensi bencana melalui kerjasama dg para ahli /
professional / asosiasi profesi kebumian. Mereka setuju untuk melakukan
hal tsb.

Action plan berikutnya dari kawan-kawan NGO-LSM tsb diantaranya adalah:
- Konferensi Pers Bersama 11 Januari 2006
- Konferensi Bencana Multi Sektor 20-21 Januari 2006, dimana disitu akan
bicara: Wakil dari Pemerintah (kalau nggak SBY ya JK), para ekspert
multi disiplin, pentolan-pentolan LSM, dan kelompok2 grass-rot
petani-petani di Jawa.
- Class Action (belum ditentukan target tanggalnya)
- Pengumpulan data kerugian secara independen di daerah2 yang tertimpa
bencana (tidak harus menunggu dr Pemerintah), shg masyarakat punya
pembanding apabila Pemerintah atau ekspert bencana asing mengumumkan
temuan angka kerugiannya
- DSB.

Nah, begitulah kira-kira ceritanya. Apabila anda semua, para geosaintis,
prihatin, concern, dan mau ikut bergerak (tidak hanya bicara), mari
sumbangkan ide-ekspertize anda (minimal) kepada masyarakat yang butuh
bantuan pencerahan seperti kawan-kawan LSM-NGO tersebut. Dialog-dialog
yang positif dengan mereka insyaallah akan ikut membangun penguatan
kwalitas dari inisiatif masyarakat madani di Indonesia.

Salam
Andang Bachtiar
Geologist Merdeka
Exploration Think Tank Indonesia. 

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke