Maaf, baru berkomentar lagi, baru kembali dari cuti. Semoga komentarnya tak 
terlalu out of date, DVD film supervolcano sudah mulai gampang ditemukan di 
mana-mana.
   
  Ferry, menarik juga mengaitkan erupsi Toba super-volcano ke bottlenecking - 
hominid extinction. Kalau benar, ini tentu menyediakan sokongan untuk teori Out 
of Africa. Setahu saya, sokongan semacam ini belum pernah dikemukakan 
sebelumnya.
   
  Hanya, itu kan kalau teori Out of Africa benar, sebab teori tandingannya 
yaitu Multiregional belum terbukti salah. Kita ambil saja kasus hominid 
terdekat dengan Toba, yaitu Java Man - Homo erectus. Tidak dapat disimpulkan 
secara pasti bahwa hominid Jawa sama sekali punah tanpa transmisi genetik ke 
populasi moderen. Malahan, ada harapan bagi Homo erectus sebagai leluhur kaum 
Australoid. Lagipula, hominid bukan tak terisolasi dan Jawa pun pada Kala 
Plistosen bukan pulau yang terpencil. Artinya, menghadapi bencana hominid bisa 
bermigrasi daripada punah. Homo floresiansis misalnya, ada yang menganggap ras 
migrasi dari Jawa. Manusia punya darah pengembara. 
   
  Katakanlah Out of Africa benar, sejumlah ahli kini menganggap bahwa manusia 
yang secara anatomi moderen menyebar dari Afrika antara 200.000-100.000 tahun. 
Ini didasarkan pada bukti genetik yang diturunkan dari kajian-kajian DNA 
mitokondria (mis : Cann et al, 1987-Mitochondrial DNA and human 
evolution-Nature 325, p. 31-36; Rogers & Jorde, 1995-Genetic evidence on modern 
human origins-Human Biology 67, p.1-36). Nah, angka 200-100 Kya (kilo years 
annum) itu kelihatannya tak cocok dengan Toba super-volcano eruption yang 74 
Kya, pre-dated..

  Anyway, this must be an interesting film !
   
  salam,
  awang
  
[EMAIL PROTECTED] wrote:
  
Pak Awang.

Dalam docudrama tersebut sempat disinggung 1 hal lagi yang memperkuat
eksistensi erupsi 74K gunungapi Toba.
Bahwa dari sudut pandang antropologi, pada kala Pleistosen akhir terdapat
semacam "bottleneck" dalam populasi manusia purba. Salah satu penyebabnya
diyakini akibat erupsi Toba Volcano tersebut.
Letusan Toba dan materialnya diyakini membuat lapisan asam sulfur yang
bersifat reflektif tertahan di atmosfer bumi selama bertahun2. Apalagi
ditambah dengan lokasinya yang dekat dengan equator, sehingga efek
berkurangnya sinar matahari yang mencapai bumi semakin terasa. Kalau
Tambora terkenal dengan "the year without summer", barangkali Toba
bertanggung jawab terhadap pendinginan iklim bumi yang luar biasa selama
bertahun-tahun, sehingga menyebabkan kepunahan yang masif dan kelaparan
yang luar biasa untuk semua makhluk hidup. Hal ini menyebabkan pula spesies
manusia yang hampir punah. Hanya beberapa komunitas yang katanya berada di
Afrika yang bisa bertahan dan akhirnya menyebar membentuk ras2 manusia
modern saat ini.

terlepas dari itu semua, film ini memang layak disimak, apalagi untuk
kalangan kebumian

salam,

Ferry





Awang Satyana 
yahoo.com> cc: 
Subject: Re: [iagi-net-l] Supervolcano ! - Supervolcano Toba ?! 
01/03/2006 
11:42 PM 
Please respond 
to iagi-net 






Kita pernah diskusikan tentang "supervolcano" (ini bukan istilah resmi
volkanologi) Toba beberapa bulan yang lalu saat beberapa gunungapi yang
duduk di Sesar Sumatra menggeliat dibangunkan gempa Nias bulan Maret 2005.
Coba cek rangkaian diskusinya di arsip milis IAGI. Saat itu ramai
digunjingkan bahwa Toba akan meletus lagi, suatu kekuatiran yang berlebihan
saya pikir, walaupun bukan sesuatu yang mustahil.

Magnitude erupsi "Toba volcano" (kita tak pernah saksikan gunungapi Toba
bukan, tinggal danaunya saja) memang suka ditulis yang paling besar dalam
sejuta tahun terakhir ini. Semua letusan gunungapi besar2 di seluruh dunia
sepanjang Kuarter ini (termasuk Tambora, Krakatau, St Helens) bila
digabung, tetap lebih hebat letusan Toba katanya.

Tetapi, tunggu dulu, tak usah langsung percaya begitu saja sebab kita tak
pernah saksikan Gunungapi Toba meletus, tidak seperti halnya Krakatau 1883,
Tambora 1815, atau St Helens 1980 yang jelas-jelas kehebatan erupsinya
disaksikan manusia dan tercatat dalam sejarah (cek coba tulisan Simon
Winchester, 2003 : Krakatoa, yang memuat dengan sangat detail detik2
letusan Krakatau).

Kalau erupsi Toba, itu hanya hasil interpretasi orang berdasarkan sebaran
piroklastikanya, abu volkanik yang "terelas"-welded tuff-ignimbrit dan
berdasarkan luas Danau Toba sekarang. Berdasarkan itu, kaldera karena
letusan 74.000 tahun yl (ini didasarkan dating umur endapan ignimbrit Toba)
luasnya 3000 km2 - tentu ini sangat luas, maka suka disebut supervolcano.
Katanya juga tinggi kolom letusannya 50-80 km sampai mempengaruhi
penyerapan sinar Matahari di stratosfer.

Lalu, ada juga yang menghubungkan letusan Toba 74.000 tahun yl itu dengan
mulainya zaman glasiasi di belahan utara Bumi, tentu ini karena
terhalangnya sinar Matahari oleh piroklastika Toba (misalnya : Dawson, 1992
: Ice Age Earth - Late Quaternary geology and climate, Routledge London).
Hanya, angka ini kebetulan cocok dengan decline summer solar radiation di
rekonstruksi Milankovitch yang 75.000 tahun yl - tapi Milankovitch
menganggap itu karena gerak presisi dan goyangan Bumi, bukan karena erupsi
Toba.

Memang, cukup menarik, tetapi kita patut berhati-hati untuk membenarkan
suatu interpretasi. Ignimbrit Toba tersebar sampai ke India bahkan Himalaya
pada 74.000 tyl itu, nah tentu kita harus cek-cek dulu.

salam,
awang

Alman wrote:
Wah menarik sekali resensinya Mas,

Mudah-mudahan di Bandung segera beredar DVD-nya.
Jadi tertarik untuk cari info lebih jauh tentang Supervolcano Toba. Mungkin
ada yang bisa memberi info lebih jauh tentang erupsinya 74K thn yang lalu?
Apakah memang ada bukti-bukti lapangan yang terekam sampai sekarang ?

Alman


On 1/3/06, [EMAIL PROTECTED]
wrote:
>
>
>
> Supervolcano
>
>
> Satu lagi sebuah film faktual yang mengangkat kedahsyatan dan kekuatan
> sebuah bencana alam, khususnya gunung api/volcano.
>
> Diproduksi oleh BBC London, kombinasi fakta saintifik dan drama yang
> dikemas dalam film ini terasa berbeda dari genre film sejenis produksi
> Hollywood macam Dante's Peak, The Core, Volcano, Twister, dll.
Fakta-fakta
> saintifik di film ini terasa lebih kental disuguhkan dibanding film-film
> Hollywood yang biasanya sarat dengan muatan artistik. Walaupun begitu,
> dengan didukung sinematografi dan efek visual yang apik plus pengalaman
> BBC
> dalam membuat banyak film dokumenter membuat film ini tetap memikat untuk
> dinikmati.
>
> Supervolcano bercerita tentang hasil penelitian USGS di dekade terakhir
> yang menunjukkan bahwa dibalik keindahan dan kesejukan rimbunnya hutan
> pinus di Yellowstone National Park, ternyata di bawah permukaannya
> menyimpan sejuta potensi bencana. Hampir seluruh areal Yellowstone
> National
> Park - kira2 seluas Jabotabek- dengan berbagai geyser dan hot spring-nya,
> ternyata adalah sebuah kaldera gunung api raksasa, atau cukup disebut
> Supervolcano. Studi seismik dan lapangan menunjukkan bahwa Supervolcano
> Yellowstone memiliki siklus erupsi setiap 600.000 tahun. Sedangkan
letusan
> terakhir Supervolcano ini tercatat 620.000 tahun yang lalu, artinya saat
> ini siklusnya sudah tercapai dan ia dapat meletus kapan saja.
>
> Hal menarik lainnya dalam film ini adalah seringnya disebut nama
> Supervolcano Toba di Sumatera Utara sebagai contoh letusan terakhir
gunung
> api yang masuk kelas Supervolcano pada 74.000 tahun yang lalu. Sehingga
> dalam pemodelan2 yang dilakukan pada film ini selalu merujuk pada kasus
> Toba. Erupsi sebuah supervolcano diyakini setara dengan kekuatan berantai
> 1000 x bom atom Hiroshima yang meledak setiap detik. Letusannya akan
> beratus kali lebih kuat dari Krakatau, Tambora, Pinatubo atau St. Helens.
> Jumlah korban seketika diperkirakan mencapai jutaan orang, sedangkan
> jutaan
> lainnya akan menyusul kemudian seiring dengan peredaran debu piroklastik
> yang mendunia. Seluruh penerbangan diperkirakan akan tutup. Temperatur
> bumi akan menurun rata-rata 10 derajat C akibat sinar matahari yang
> terhalang untuk sekian lama.
>
> Semua gambaran tersebut dengan dikombinasikan dengan efek visual tingkat
> tinggi membuat suasana dramatis yang disajikan dalam Supervolcano. Ending
> film yang sudah disiarkan BBC-1 Agustus lalu ini pun meninggalkan kesan
> yang tidak biasa dibandingkan film Hollywood. Pesan terakhir yang
> disampaikan Supervolcano adalah, " bahwa tidak seperti bom nuklir,
> tabrakan asteroid, global warming atau ancaman terhadap peradaban manusia
> lainnya, sangat sedikit yang bisa kita lakukan untuk mencegah dan
> meminimalisasi tragedinya saat ia benar-benar akan meletus, sang
> Supervolcano !"
>
> Sayangnya, film ini sepertinya bakal sulit untuk muncul di
bioskop-bioskop
> 21, jadi kalau anda berminat menontonnya hanya bisa membeli versi VCD
> originalnya di Gramedia atau kalau mau lebih hemat cari saja DVD-nya di
> Ratu Plaza atau Mangga Dua, ....persis seperti saya :-)
>
> Selamat menonton !
>
> Ferry Hakim
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
>
>




---------------------------------
Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

  



                
---------------------------------
Yahoo! Photos
 Ring in the New Year with Photo Calendars. Add photos, events, holidays, 
whatever.

Kirim email ke