Betul apa yg disampaikan Bung ADB ini, intinya adalah sosialisasi permasalahan kebumian baik ditinjau dari potensi bahaya dan potensi sumberdaya. ( Bung ADB ini meskipun dg kendaraan barunya (ETTI) larinya kenceng bisa bisa ngalahin yg lama, Explorationnya disini kan juga termasuk untuk Air tanah dan Air panas to (panasbumi) ). Ada persepsi didaerah ( bahkan didaerah yg sdh ada PLTPnya seperti di Garut ) bahwa Panasbumi itu dipersepsikan sama dg Gas Bumi , sehingga pada waktu sosialisasi ada pertanyaan apakah Panasbumi ini tidak bisa langsung disalurkan kerumah penduduk untuk memasak, apalagi didaerah yang belum ada PLTP nya.( istilah untuk panasbumi PLTP , sedangkan untuk Gas PLTG ). bahkan ada yg nanya apa kalau sumbernya ( baik geothermal atau Migas) disedot terus terusan tanahnya tidak akan "Ambles"), belum isu lingkungan , dll termasuk CD Untuk kasus Bedugul ini sudah sampai (istilahnya ) "benang ruwet" , padahal itu proyek sudah berjalan separuh jalan dan sdh sepuluh tahun dimana si investor sudah menanamkan modal cukup besar, Proyek ini ditanda tangani oleh Pertamina dengan Bali Energy Lmtd pada 17/11/1995 dengan sistem Joint Operation Contract (JOC) dan telah dilakukan ekplorasi dg 6 sumur gradient temp core holes sampai kedalaman 1200 m dan 3 sumur eksplorasi dg kedalaman 2750-3000 M. Rencana yang sudah disetujui : pada tahun 2006 akan Nyala 10 MW ( Commercial Operation Date on 2006), kemudian 55MW /2008, 55MW/2009 dan 55 MW / 2010. shg total 175 MW atau kalau dioperasikan dg BBM akan memerlukan BBM setara dg 11 rb kilo liter/hari, padahal di Bali sendiri tidak ada sumberdaya energi selain panasbumi . Dengan adanya "protes-protes" maka rencana yang sudah diteken antara BEL dan Pertamina tsb "amburadul" lagi, entah kapan akan terlaksana masih "burem" seburem pengembangan energi alternatif khususnya panasbumi, padahal gembar gembor tentang perlunya energi alternatif gencar sekali, tapi anatara harapan dan realitas bersebrangan 180 drajat. Selama ini yang berhadapan( menjelaskan) dg masyarakat adalah dari para Pemain ( investor , Pertamina , pemerintah ) , mungkin diperlukan lembaga "yg netral" untuk mengurai benang kusut ini, sehingga kecurigaan masyarakat bisa diminimalkan, sebetulnya peran organisasi kebumian (NGO) yg memang berkompeten sangat besar dalam mensosialisasikan potensi sumberdaya alternatif yang berbasis kebumian ini....... dari Petanya PSDG ada lebih dari 250 daerah panasbumi yang tersebar di hampir semua kepulauan Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke, mungkin penyebaran Panasbumi ini sama dengan penyebarannya potensi longsoran... ) Ternyata selain untuk listrik potensi panasbumi ini bisa sebagai daerah wisata dan pengobatan, jadi medical geologi bisa dikembangkan disini,.......Lha Monggo.....( biar Mak Katik nya tidak melulu bencana saja... )

ISM

----- Original Message ----- From: "Andang Bachtiar" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, February 22, 2006 11:46 AM
Subject: [iagi-net-l] Geothermal ==> Re: [iagi-net-l] Has World Oil/ GEOTHERMAL


Yang lebih unik lagi Geothermal E&P di Indonesia juga tak lepas dari masalah lingkungan yang dalam hal ini lebih ke "Lingkungan Sosial" seperti halnya dengan kasus rencana PLTG Bedugul. Aspek budaya - tradisi masyarakat setempat yang mendasarkan ritual rohaninya pada keberlangsungan kesakralan gunung, air danau dan mata-mata air disana membuat sebagian masyarakat kuatir bahwa proyek tersebut akan membuat air danau / mata-air akan kering. Oleh karena itu dibutuhkan penyadaran intelktual ke masyarakat tentang bagaimana hubungan antara keterdapatan "cadangan" panas bumi dengan posisi danau, mata-air dan topografi gunung secara keseluruhan. Saat ini KLH sedang melakukan kegiatan yang mengarah pada pemelajaran hidrologi / hidrogeologi daerah Bedugul dengan tujuan mendapatkan faktor jaminan bahwa adanya PLTG Bedugul tidak akan merusak tata hidrologi yang berkaitan dengan danau dan mata-air di sana, termasuk kemungkinan pencemarannya. Walaupun nantinya hasil studi tersebut menyatakan bahwa PLTG tersebut aman-aman saja bagi danau dan mata-mata air disana, tetap saja dibutuhkan teknik-teknik sosialisasi dan persuasi yang unik untuk menceritakan legitimasi saintifik tersebut ke masyarakat. Apakah kita - para ahli kebumian - siap melakukannya?

Salam

Andang Bachtiar
Nara Sumber Teknis KLH u/Amdal Pertambangan & Migas



----- Original Message ----- From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, February 22, 2006 11:25 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Has World Oil/ GEOTHERMAL


Ada hal yg cukup unik di dalam ekspolrasi geothermal ini. Seingatku
dulu wektu sekolah tidak ada istilah "reserves" atau cadangan didalam
geothermal, yang ada adalah "capacity and quality of the steam" cmiiw.
Cadangannya boleh dibilang tidak akan habis selamanya. Yang membatasi
justru fasilitas produksi steam (usia sumur pipa dll) serta usia dari
pembangkit listrik.
Dan setelah diketemukan dan diketahui, "steam" ini TIDAK BISA DIJUAL
dalam bentuk aslinya. Artinya harus di"konversi"kan dahulu menjadi
energi lain, salah satunya yg technologically proven adalah energi
listrik.

"Capacity and quality" ini yg akan menentukan jenis pembangkitan
listrik. Misalnya berapa kadar airnya, berapa suhunya, berapa
tekanannya, dan kadar kandungan gas ikutannya. Sehingga sepertinya
akan sulit mencari atau memisahkan upstream dan downstream dari
geothermal ini. Karena semua kegiatan eksplorasi menjadi proyek "paket
borongan" dari hulu ke hilir.

Pembangkitan listriknya sebenernya mirip dengan pembangkitan listrik
dengan steam yg dihasilkan oleh ketel uap (boiler) dengan bahan bakar
minyak ataupun batubara, atau gas (tentunya yang bukan geenrator
diesel). Hanya saja boilernya sudah dibuatkan oleh TUHAN dengan
efisiensi sangat optimum..... loh rak enak ta !

Nah dari sisi fisika tentunya kita tahu bahwa efisiensi pembangkitan
dengan boiler ada energi yg hilang ketika konversi dari energui kimia
ke energi steam (panas dan tekanan), namun di geothermal ini boilernya
tinggal masang pipa (pakai sumur tentunya :).

Dengan demikian keekonomian dari geothermal akan terletak dan sangat
tergantung dari harga jual listriknya, serta ongkos produksi. Mungkin
saja sih kalau PLN mau membeli "steam" setelah diproses sesuai dengan
karakterisktik generator. Namun jelas tidak (belum) ada pembeli (user)
lain yg menginginkan panasnya geothermal.

Jadi kontrak geothermal ini pelik dan rumit seperti yg ditulis Mas
Ismail. Saya barusan di"bruk"i aturan-aturan pemerintah dari beliau
saja belum sempet baca. Lah banyak juga aturan-aturan dalam geothermal
dan energi ini.
Bagi rekan-rekan yg tertarik dengan energi silahkan bergabung dengan
saya di milist [EMAIL PROTECTED] kita bisa berbagi sisi
energi dari supplynya (natural resourcesnya). tulis saja imil
ditujukan ke [EMAIL PROTECTED]

salam.

rdp

On 2/22/06, hendri silaen <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
halo,

Pak, benarkah pemerintah masih menentukan tarif jual-beli listrik-nya
sebelum eksplorasi berlangsung (pre exploration price)? Apakah eksplorasi
geotermal semahal hidrokarbon dan ketidakpastiannya tinggi? thanks ya...

salam
hs

On 2/21/06, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> >
>   Pak Is,
>
>   Memang kalau melihat kenyataan ini ,kita ini memang benar benar
>   negara BBM (Benar Benar Mabok).
> Disamping segala restribusi dari daerah (RT/RW/Desa / Kabupaten dsb) > ,
>   yang istilah kerennya "community development" , masih ada hal lain
>   yaitu "sok kuasa".
>   Apa tidak "mabok" , kalau Pemda sampai bisa membblokir peralatan agar
>   tidak sampai kelokasi , karena tuntutan-nya belum sekali lagi "belum"
>   diluluskan.
>   Ini terjadi al. di Garut untuk operasi geothermal Amoseas, apa bukan
>   hukum rimba ini namanya !!!!
>
>
>   Si - Abah.
>
> _______________________________________________________________________
>
>   Kalau kita bicara energi alternatif ( diluar Migas dan Batubara )
> Rasanya
> > yang paling Deket dengan dunia Geologi adalah Geothermal. mengingat
> untuk
> > mendapatkan komoditi ini , tahapan/proses yang harus dilakukan mirip > > dg
> di
> > Migas ( eksplorasi , eksplotasi/pengeboran sumur sumur ). bedanya > > untuk
> > jadi
> > duit , komoditi ini setelah ditemukan tdk laku dijual , sebelum
> > dikonversikan menjadi bentuk lain ( energi listrik) , jadi takarannya
> > bukannya Volume/Berat tapi satuan energi ( Kwh). Kalau Migas kan
> langsung
> > ketemu langsung laku,Karena geothermal ini hanya laku di dalam negeri > > (
> > tdk
> > ngikuti pasar interntiaonal) maka harga komoditi ini seperti harganya
> > beras,
> > antara daerah yang satu dg yg lain berbeda beda ( harga di jakarta > > akan
> > lain
> > dg di Pakanbaru ), karena masing masing daerah menggunakan formula yg
> > berbeda beda.
> > Contoh , untuk Geothermal di Kamojang ( Pertamina ) menggunakan rumus
> > harga
> > per Kwhnya : 0,80 x harga eceran minyak bakar x faktor konversi > > minyak
> ke
> > listrik ( 0.28) atau dg harga minyak bakar kira kira Rp.3000,-/ l > > maka
> > harga
> > uap panasbumi di Kamojang saat ini = Rp.672,- atau 7,2 c$/Kwh ( 1 $ =
> > 9300 ), Tidak Jauh dari Kamojang ini ada Geothernal Darajat yang
> > dioperatori
> > oleh Amoseas/Chevron , dia menjualnya dg Formula harga yang berbeda ,
> > tidak
> > mengaitkan dg harga minyak bakar (MFO) seperti di mPertamina tadi, > > tapi > > mengaitkannya dengan Base Resource Price, Generating, Monitery > > Exchange
> > Rate
> > Factor dan Inflation Indek  ( perhitungannya libih rumit lagi ) dan
> > harganya
> > dg Dollar ( bukan rupiah lagi )dan hasilnya( harganya) akan berbeda,
> > meskipun dalam "satu Cekungan", dg Kamojang ,ini baru dari sisi Feul
> > costnya
> > , padahal untuk menjadi listrik harus ada "mesin pengubahnya" , > > makanya
> > dari
> > struktur harganya ( production costnya ) masih ada komponen
> modal/capital
> > cost dan operasi& pemeliharaan ( O&M cost nya), itulah prinsip > > sederhana
> > perhitungan harga Geothermal.
> > Disisi regulasipun yo Jlimet karena dipayungi oleh dua UU ( UU > > panasbumi
> > dan
> > UU listrik) , belum lagi sana sini kena "palak" , ada , haraga awal /
> > daerah
> > ,iuran eksplorasi, ada bonus, ada restribusi daerah,ada pajak, dan
> > pungutan
> > pungutan lain, ini semua akan menjadikan struktur harga yang > > "tinggi". > > Dari segi Performance Pembangkit, ternyata Geothermal ini , adalah > > satu
> > satunya Pembangkit yang Kualitas maupun kuantitas suplai energi
> primernya
> > tetap/konstan,sehingga dapat menghasilkan daya mampu maksimal > > sepanjang
> > masa
> > ( contoh Kamojang sudah 25 thn lebih ), Tolok ukur utama ( spek) dari
> > Geothermal ini ada di parameter Tekanan dan Temperatur , disaamping > > TDS, > > silika dan NCG , dari data dari lapangan lapangan Geothermal yang ada > > ( > > mulai Kamojang , Salak . Darajat sampai Lahendong) Parameter > > parameter
> tsb
> > Tetap sepanjang masa ( T dan P konstan) sehingga mesin dapat > > berfunsi
> dg
> > baik , (padahal kalau Air sangat dipengaruhi oleh cuaca dan daerah
> aliran
> > sungai ) Jadi dari segi Teknis dan Potensi si Geothermal ini tdk jadi
> > masalah .Kalau pembangkit lain ( batubara,BBM ) Boilernya buatan > > manusia
> ,
> > maka kalau panasbumi ini Boilernya ada didalam tanah, sehingga tdk > > perlu > > tender tender pengadaan, dsb...... jadinya yang dihasilkan dari > > Boiler (
> > P&T) stabil .
> > Kenapa tidak berkembang , bukannya tidak ada Duit nya, tapi yg punya
> duit
> > tidak mau bekerja/invest , karena prosedur susah dan produksinya > > mahal
> > jualnya "murah".  Kesusahan ini bisa di minimalkan kalau ( salah
> satunya)
> > dg
> > mereduksi di aturan mainnya. Selama ini tdk dilakukan ya , hanya jadi
> > wacana
> > saja , bahwa energi alternatif perlu dikembangkan.( Jadi Geothermal > > ini
> ya
> > Tetuko juga , sing tuku ora teko,sing teko ora tuku )
> >
> > Ism
> >



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke