Pak Awang, Maaf, saya hanya mau mengklarifikasi metodologi analisis VISUAL
mengamati chromatogram, supaya rekan2 yang membaca (terutama yang belum
terbiasa analisis GC) menjadi tidak salah kaprah.
1. Kebetulan Pak Awang punya data quantitative besaran luas area dari setiap
peak yang ada sehingga bisa memasukkan langsung dalam rumus preferensi nomor
atom ganjil terhadap nomor atom genap, tetapi untuk mereka yang hanya punya
kemewahan menonton data GC seperti yang dipresentasikan di paper-paper
(tanpa data kwantitatif), tentunya harus percaya begitu saja pada mereka
yang memasukkan rumus formulasi carbon preferensi index tsb.
2. Pernyataan saya bahwa ".... finger print (visual) tersebut juga tidak
merefleksikan apapun tentang preferensi odd carbon number chains (kecuali
kalau mata kita sangat awas menelisik frekuensi garis-garis chromatogram
yang diassign berdasarkan rentention time-nya untuk mendapatkan kalibrasi
nomor karbon tsb)..." adalah didasarkan pada hal nomer satu di atas. Tidak
mungkin kita bisa keluarkan angka CPI hanya dengan melihat GC secara visual.
Mudah2an bermanfaat.
Salam
ADB
Exploration Think Tank Indonesia
----- Original Message -----
From: "Awang Satyana" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, February 24, 2006 8:58 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] reservoir clastics di NE Java Basin
Pak Andang,
Preferensi nomor atom ganjil terhadap nomor atom genap cukup dapat
dilihat di GC scan untuk lingkungan manapun, dan jelas fingerprint
merefleksikan sesuatu tentang deret ini, kalau tidak tak mungkin ada
formulasi preferensi ini.
Minyak Kangean, seperti posting2 saya sebelumnya, memang menunjukkan
anomali, tetapi sekali lagi bukan anomali marin seperti yang Anda
sebutkan, tetapi anomali sangat khas dominasi terestrial. Marine oil dari
type II kerogen di Indonesia akan punya average pr/ph 1.22, pris/nC17
0.85, dan C31/C19 (wax ratio) 0.25. Dan nilai2 kisaran ini tak muncul
untuk minyak Kangean. Intensitas atom2 nomor tinggi di minyak Kangean
malah menggelembung (C24-C30), suatu hal yang tidak akan terjadi untuk
minyak2 marin. Saya berpendapat bahwa minyak Kangean sangat terestrial.
Tentang oleanane, saya menggunakan referensi dari Peters et al. (1999) -
Geochemistry of crude oils from Eastern Indonesia - AAPG Bull v 83 n 12,
p. 1927-1942, December 1999. Dan, cut off olenane/hopane 0.20 berasal dari
publikasi ini. Saya pikir, ini cut off yang logis sebab di Indonesia
Timur, seperti kita tahu, kita bisa meng-exercise dengan baik minyak
Mesozoic vs Tersier berdasarkan kandungan olenanane karena keduanya
terjadi. Di Salawati Basin, yang pernah dulu dianggap minyaknya berasal
dari sumber pra-Tersier (Phoa and Samuel, 1984, IPA), saya dengan yakin
bahwa minyaknya semua berasal dari Klasafet/Kais yang berumur Miosen (itu
berdasarkan pemelajaran oil geochemistry yang saya lakukan di Salawati
Basin 1997-2000), lihat di publikasi Satyana et al. (2000)-IPA.
Saya suka kalau di SE Sundaland ini ada play Mesozoic, hanya saya belum
mendapatkan buktinya yang kuat.
salam,
awang
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------