Pak Andang,
   
  Data yang saya (BPMIGAS) terima pun asalnya dari para operator. Maka, data 
selengkap-lengkapnya tentang suatu blok adanya di para operator itu, termasuk 
laporan-laporan analisis geokimia. Dan, data kuantitatif serta visual GC/GCMS 
itu jelas para operator pun punya. Hanya, kita mungkin lebih suka melihat 
visual GC saja tanpa data kuantitatif intensitas per atom-nya. Itu kan semua 
ada di lampiran laporan analisis geokimia yang mungkin tak pernah dibuka-buka. 
   
  Pengukuran detail memang didasarkan data kuantitatif setiap peak C, tetapi 
kalau sekedar ingin mengetahui secara garis besar (kasar) beberapa rasio 
seperti pr/ph, nC31/nC19, pr/nC17, ph/nC18, atau bahkan rasio GCMS seperti 
ol/hop bisa dilakukan dengan hanya mengukur tinggi peak masing2 itu 
(menggunakan mistar saja) dan rasiokan. Saya pernah menguji metode ini dengan 
(1) melakukannya secara kasar dan (2) menggunakan data aslinya (data 
kuantitatif yang ada di lampiran laporan analisis geokimia), hasil rasio 
kasaran masih valid. Dengan catatan : kita harus mengenal setiap peak itu - 
mana pr, mana ph, mana oleanane, mana hopane, dll.
   
  salam,
  awang

Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Pak Awang, Maaf, saya hanya mau mengklarifikasi metodologi analisis VISUAL 
mengamati chromatogram, supaya rekan2 yang membaca (terutama yang belum 
terbiasa analisis GC) menjadi tidak salah kaprah.
1. Kebetulan Pak Awang punya data quantitative besaran luas area dari setiap 
peak yang ada sehingga bisa memasukkan langsung dalam rumus preferensi nomor 
atom ganjil terhadap nomor atom genap, tetapi untuk mereka yang hanya punya 
kemewahan menonton data GC seperti yang dipresentasikan di paper-paper 
(tanpa data kwantitatif), tentunya harus percaya begitu saja pada mereka 
yang memasukkan rumus formulasi carbon preferensi index tsb.
2. Pernyataan saya bahwa ".... finger print (visual) tersebut juga tidak 
merefleksikan apapun tentang preferensi odd carbon number chains (kecuali 
kalau mata kita sangat awas menelisik frekuensi garis-garis chromatogram 
yang diassign berdasarkan rentention time-nya untuk mendapatkan kalibrasi 
nomor karbon tsb)..." adalah didasarkan pada hal nomer satu di atas. Tidak 
mungkin kita bisa keluarkan angka CPI hanya dengan melihat GC secara visual.

Mudah2an bermanfaat.

Salam

ADB
Exploration Think Tank Indonesia

----- Original Message ----- 
From: "Awang Satyana" 
To: ; 
Sent: Friday, February 24, 2006 8:58 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] reservoir clastics di NE Java Basin


> Pak Andang,
>
> Preferensi nomor atom ganjil terhadap nomor atom genap cukup dapat 
> dilihat di GC scan untuk lingkungan manapun, dan jelas fingerprint 
> merefleksikan sesuatu tentang deret ini, kalau tidak tak mungkin ada 
> formulasi preferensi ini.
>
> Minyak Kangean, seperti posting2 saya sebelumnya, memang menunjukkan 
> anomali, tetapi sekali lagi bukan anomali marin seperti yang Anda 
> sebutkan, tetapi anomali sangat khas dominasi terestrial. Marine oil dari 
> type II kerogen di Indonesia akan punya average pr/ph 1.22, pris/nC17 
> 0.85, dan C31/C19 (wax ratio) 0.25. Dan nilai2 kisaran ini tak muncul 
> untuk minyak Kangean. Intensitas atom2 nomor tinggi di minyak Kangean 
> malah menggelembung (C24-C30), suatu hal yang tidak akan terjadi untuk 
> minyak2 marin. Saya berpendapat bahwa minyak Kangean sangat terestrial.
>
> Tentang oleanane, saya menggunakan referensi dari Peters et al. (1999) - 
> Geochemistry of crude oils from Eastern Indonesia - AAPG Bull v 83 n 12, 
> p. 1927-1942, December 1999. Dan, cut off olenane/hopane 0.20 berasal dari 
> publikasi ini. Saya pikir, ini cut off yang logis sebab di Indonesia 
> Timur, seperti kita tahu, kita bisa meng-exercise dengan baik minyak 
> Mesozoic vs Tersier berdasarkan kandungan olenanane karena keduanya 
> terjadi. Di Salawati Basin, yang pernah dulu dianggap minyaknya berasal 
> dari sumber pra-Tersier (Phoa and Samuel, 1984, IPA), saya dengan yakin 
> bahwa minyaknya semua berasal dari Klasafet/Kais yang berumur Miosen (itu 
> berdasarkan pemelajaran oil geochemistry yang saya lakukan di Salawati 
> Basin 1997-2000), lihat di publikasi Satyana et al. (2000)-IPA.
>
> Saya suka kalau di SE Sundaland ini ada play Mesozoic, hanya saya belum 
> mendapatkan buktinya yang kuat.
>
> salam,
> awang

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------



                
---------------------------------
Relax. Yahoo! Mail virus scanning helps detect nasty viruses!

Kirim email ke