***********************
Your mail has been scanned by InterScan.
***********-***********


Topik masalah Blok Cepu dan analisa Pak Koesoemadinata ini (dan sebelumnya 
hingga sekitar beberapa tahun yang lalu di IAGI-NET) menurut saya bagus untuk 
dibahas di sekolah bisnis sebagai bahan kajian bagi setiap kelompok mahasiswa 
S2 MBA/MM migas. Kenapa ? Karena kasus ini kasus yang riil dan menarik untuk 
melihat cara-cara memenangkan strategi korporasi untuk keuntungan bisnis jangka 
panjang. Dari mulai sistim PSC (termasuk cost recovery dan TAC), legal review 
of existing signed contract, merger and aquisition objectives, hingga sedikit 
aspek tentang politik dan ekonomi dalam negeri (termasuk 
DPR-Government-tehnical community involvement). Hasil kajian barangkali bisa 
dijadikan bahan perbaikan manajemen migas termasuk sistim PSC di negeri 
tercinta ini supaya hal-hal seperti ini tidak akan terulang kembali. Is that 
possible ?

Any comments ?

Thanks. Iman

-----Original Message-----
From: R.P. Koesoemadinata [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, March 16, 2006 11:31 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Pertamina Pernah Lego Blok Cepu ke Exxon


***********************
Your mail has been scanned by InterScan.
***********-***********


Kalau penafsiran saya mengenai raibnya USD 400 adalah scenario sebagai
berikut:
Misteri Raibnya USD 400 juta

Soal penjualan saham pertamina ke Mobil dan raibnya USD 400 juta mungkin
hanyalah sekedar mekanisme bagaimana Mobil mendapatkan blok Cepu kembali
dapat diterangkan dengan scenario sebb:

Exxon Mobil menyerahkan kembali blok Cepu seutuhnya ke pemerintah cq
Pertamina dan secara resmi mengakhiri kontrak TAC sebelum waktunya. Tetapi
Exxon Mobil menagih piutang USD 400 juga sebagai "sunk cost", yang menurut
mereka bisa didapatkan sebagai cost recovery seandainya kontrak TAC
diperpanjang, karena memang sunk cost ini adalah biaya pemboran dll untuk
penemuan Banyurip dll (walaupun digelembungkan). Pertamina dipaksa menerima
ini, tetapi dia tidak punya duit, maka Exxon Mobil menawarkan utang ini
untuk di "trade-in"  dengan participating interest sebesar 50% dalam suatu
farm-in pada pengelolaan blok Cepu . Kemudian atas desakan pemerintah
kedua-duanya masing-masing dimintakan melepas 5% dari PI ke pemda. Baru
setelah kesepakatan ini terjadi suatu KKS ditanda-tangani, nah baru itu
terjadi tarik ulur siapa yang akan memegang operatorship.  Nah apakah
nantinya "sunk cost" ini nantinya bisa diclaim sebagai cost recovery oleh
Pertamina dan di"carry over" pada perusahaan Pertamina-Exxon Mobil, itu
menjadi pertanyaan.

Scenario ini didukung oleh fakta bahwa dulu Exxon Mobil pernah mengclaim USD
400 sebagai "sunk cost" untuk di cost-recovery-kan dulu pada BPPKA (sebesar
USD 400 juta), tetapi dalam perjanjian sekarang ini hal ini tidak pernah
diutik-utik lagi. Dirut Pertamina yang lama mungkin  menyadari atau tidak
implikasi dari pembayaran USD 400 juta hanyalah di atas kertas saja. Apakah
kemudian dibukukan sebagai "accounts receivable" sehingga nantinya dapat 
di"recovered"
kalau sudah ada produksi, itu juga tidak jelas, karena pembukuan Pertamina
konon katanya belum beres.

Dengan scenario ini maka tidak ada lagi masalah bagaimana kontrak TAC bisa
dikonversikan menjadi PSC, karena kontrak TAC dengan Humpuss itu memang
sudah bubar/berakhir. Bahkan sekarang dapat dipertanyakan mengapa Dirut
Pertamina yang lama mau menyelesaikan masalah "sunk cost" yang diclaim Exxon
Mobil dengan menukarnya dengan participating interest Mobil sebesar 50%
dalam rangka farm-in. Untuk memperbaiki kelemahan ini maka dia berjuang
mati-matian untuk memegang operatorship

Siapapun yang mendesign scenario itu sangat lihay, dan menjerumuskan Dirut
Pertamina sebagai korban dan membersihkan pemerintah dalam campurtangannya .
Tetapi ini adalah hanya scenario saja untuk menjelaskan pernyataan menteri
ESDM bahwa Pertamina telah melepas sahamnya 50% kepada ExxonMobil dengan USD
400 juta, sedangkan uangnya raib. Apakah scenario itu benar, ya Wallahu
Alam.

RPK

----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Thursday, March 16, 2006 8:48 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Pertamina Pernah Lego Blok Cepu ke Exxon


> >
>  Rekans
>
>  Karena dari manajemen Pertamina tidak ada yang menanggapi , kepaksa
> Si-Abah "share" apa yang Si Abah tahu mengenai US$ 400 juta ini.
>
> Saya ndak nyalahken Menteri ESDM , mungkin dia punya data baru , akan
> tetapi
> dari info yang saya dengar th 2002 - 2003 , saat EMOI meminta perpanjangan
> kontrak TAC - lah US$ 400 juta itu mulai.
>
> Saat itu pada dasarnya PTM ndak mau memperpanjang TAC , tapi mau kerjakan
> sendiri, lalu "rundingan" . Naaaaaaaaaah PTM mau memperpanjang kaaloooo
> EMOI mau memberikan kompensasi didepan sebesar US$ 400 juta.
>
> Jadi US$ 400 juta itu adalah wacana dalam negosiasi antara PTM dan EMOI ,
> saya ndak tahu kalau dalam klasifikasi bisnis dianggap me "lego" Cepu
> oleh PTM , dan kok nyebut Dirut-nya WP , karena saat itu Dirut-nya masih
> BH (Baihaki Hakim).
>
> Aktor aktor-nya masih ada di PTM , kok meneng bae ya !!!!!!!!!!!!
>
>
> Si- Abah.
>
>
>
>
>
>  Lagi ttg Cepu ;-)
>>
>>
>>
>> Pertamina Pernah Lego Blok Cepu ke Exxon US$ 400 Juta
>>
>> Maryadi - detikcom
>>
>> Jakarta - PT Pertamina (Persero) ternyata pernah menjual (farm out)
>> sebanyak 50 persen kepemilikan sahamnya di BlokCepu ke ExxonMobil Oil
>> Indonesia (EMOI). Blok Cepu yang memiliki kandunganminyak 600 juta barel
>> dan gas yang sebanyak 1,7 triliun kaki kubik itu dilego US$400 juta.
>>
>> "Kita punya bukti otentik dan surat-suratnya lengkap. Saat itu, Widya
>> Purnama (mantan Dirut Pertamina) yang menandatangani penjualan itu," kata
>> Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam raker dengan Komisi VII DPR di
>> Gedung DPR/MPR Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (14/3/2005) pukul
>> 00.12 WIB.
>>
>> Mendapat penjelasan tersebut sejumlah anggota dewan beramai-ramai meminta
>> klarifikasi kepada Purnomo. Mereka mengaku baru mengetahui informasi
>> tersebut. Mengingat banyaknya pertanyaan lanjutan tersebut, akhirnya
>> Komisi VII DPR menyepakati membahas Blok Cepu dalam sesi khusus. Ketua
>> Komisi VII DPR Agusman Effendi mengatakan, pihaknya akan memanggil Menneg
>> BUMN, Menteri ESDM, Tim Negosiasi Blok Cepu, Badan Pelaksana Hulu Migas
>> (BP Migas) dan Pertamina dalam rapat mendatang.
>>
>> Dengan telah dijualnya sebagian saham di Blok Cepu, praktis kepemilikan
>> EMOI dan Pertamina di Blok Cepu itu menjadi masing-masing 50 persen.
>> Penjualan tersebut dilakukan Pertamina sebelum penandatanganan kontrak
>> kerja sama (KKS) dilakukan pada 17 September 2005. Penjualan itu
>> dilakukan
>> Pertamina kepada Exxon setelah Pertamina mendapatkan hak 100 persen
>> kembali terhadap pengelolaan Blok Cepu.
>>
>> "Ketika itu, Pertamina dan Exxon mengembalikan Blok Cepu kepada
>> pemerintah
>> setelah kontrak technicall assistance contract (TAC) plus. Lalu
>> pemerintah
>> menyerahkan ke Pertamina sebagai oil state company," ujar Purnomo.
>>
>> Blok Cepu itu diberikan pemerintah kembali ke pemerintah sebagai
>> privilege
>> yang didapatkan oleh Pertamina. Namun ia mengaku tidak mengetahui secara
>> rinci berapa hasil penjualannya dalam bentuk tunai dan berapa dalam
>> bentuk
>> lainnya. Akan tetapi Purnomo menambahkan, mekanisme "farm out" maupun
>> "farm in" adalah hal biasa dan layak dalam bisnis lapangan migas.
>>
>> Purnomo mengaku tidak bisa menghalangi penjualan itu. "Ketika itu sudah
>> diserahkan ke Pertamina, menjadi hak penuh Pertamina. Kami sebagai
>> regulator tidak bisa melarang," urainya.
>>
>
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
>
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




-----
This message has been certified virus free by Medcoenergi Antivirus

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke