Bumi-Energi Akan Merger Juli Ardian Wibisono - detikcom Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berharap merger dengan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) pada Juli 2006. Merger dua kelompok usaha Bakrie ini akan dilakukan dengan mekanisme share swap atau tukar saham.
"Untuk merger saat ini masih dilakukan kajian, kita akan mengajukan share swap bukan dengan mengakuisisi atau tender offer supaya tidak ada uang yang keluar, karena uang itu akan digunakan untuk investasi," kata Presdir Bumi, Ari S Hudaya. Hal itu diungkapkan Ari dalam paparan publik yang berlangsung di Hotel Intercontinental, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (21/3/2006). Ari belum bisa menjelaskan, jika merger terwujud siapa yang akan menjadi perusahaan induknya, atau kah membentuk perusahaan baru. Aksi Bumi ini tidak berhenti sampai disini. Menurut Ari, dalam enam bulan ke depan Bumi masih akan melakukan tindakan korporasi material lainnya, dengan melakukan akuisisi aset yang sejalan dengan strategi usaha Bumi. Bumi melakukan divestasi tiga anak usahanya yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 95 persen, PT Arutmin Indonesia sebesar 100 persen dan PT Indocoal Resources Limited sebesar 100 persen, dengan total nilai penjualan mencapai US$ 3,2 miliar. Perjanjian jual beli dilakukan dengan PT Borneo Lumbung Energi yang merupakan afiliasi dari PT Renaissance Capital pada 16 Maret 2006. Usai merger, ungkap Ari, Bumi akan fokus pada bidang batu bara cair atau coal to liquid (CTL). Proyek CTL ini akan mulai produksi empat tahun kedepan setelah didirikan perusahaan gabungan. Rencananya pembangunan akan dilakukan pada pertengahan tahun depan. Selama proses pembangunan tersebut, menurut Ari, pendapatan Bumi mayoritas akan berasal dari produksi gas alam dan minyak bumi dari blok-blok yang dimiliki Energi. Blok tersebut antara lain Blok Kangean, Blok Malacca Street, Blok Brantas, Blok Semberah, Blok Sungai Gelam, Blok Gebang, Blok Bentu dan Blok Kerinci Baru. "Setelah merger dilaksanakan, dalam jangka pendek pendapatan Bumi akan bersumber dari pendapatan usaha dari kedelapan blok tersebut," tukas Ari. Rencananya, proyek TCL akan didirikan di Sumatra Selatan (Sumsel). Ari menjelaskan, perseroan telah mengakuisisi produsen batu bara di Sumsel yaitu Pendopo Energi Batubara dengan nilai US$ 3 juta. Pertimbangan pembangunan di Sumsel, karena banyaknya jaringan pipa Pertamina dan melimpahnya sumber suplai batu bara. "Kita sudah signing dengan Pendopo hari ini, nilainya sekitar US$ 3 juta, rencananya di Sumsel kita akan membangun komplek industri batu bara cair, mulai dari tambang, pembangkit listrik sampai refinery. Untuk pembangkit listrik bisa di dekat tambang dan refinery bisa di pantai," tutur Ari. Bumi menargetkan membangun pabrik TCL dengan kapasitas 80 ribu barel per hari dengan biaya investasi sekitar US$ 3 miliar. Untuk memproduksi batu bara cair ini, dibutuhkan 47.500 ton batu bara per hari. Hasil dari batu bara cair ini bisa disuling menjadi bensin, solar, minyak tanah, gas dan minyak bakar. Selain itu perseroan juga berencana membeli tambang emas di Palu dan Gorontalo.(ir) =============================== Amir Al Amin Operation / Wellsite Geologist Mobile (62)811592902 amir13120[at]yahoo.com amir.al.amin[at]gmail.com =============================== Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

