Sebenernya kalau dilihat bahwa modal besar yg diperlukan. Maka sepertinya justru Exxon tidak melakukan judi. Kalau menggunakan analogi yg saya pakai dengan modal 100juta dolar minimal, utk 10 sumur dengan probabilitas 1:10, maka karena modalnya "suangat buesaar", maka hanya Exxon yg mampu melakukan pengeboran sejumlah 10 sumur. Artinya bagi Exxon justru bukan judi. Karena dialah yg mampu melakukan hingga mengebor 10 sumur. Seandainya data statistik itu menunjukkan bahwa sumur discovery baru muncul pada sumur ke 8 atau ke 9 (setelah "belajar dari kesalahan" sebelumnya tentunya), maka yg memiliki modal 7-8 sumur pasti akan "keder" utk melanjutkan eksplorasi kan ?. Disinilah perlunya "farm ou"t atau "partnering" utk "sharing risk".
Kumpeni2 kecil lainnya hanya melakukan hingga 3 atau paling banter 6, dimana kalau secara mudahnya maka ngebor yg berikutnya menjadi semakin "takut". Karena kalao modalnya hanya 6 sumur dan masih belum "beruntung" (discovery), maka dia akan angkat kaki. Nah sayangnya ketika sudah mencapai sumur ke 6 ini, pengetahuan geologinya sebenernya sudah "mintip-mintip" (hampir bener tebakannya). Namun kurang modal. Dan ketika berganti operator baru maka pengetahuan yg "mintip-mintip" ini akan reset ke belakang lagi. Inilah perlunya pemodal besar dan persistent (tidak mudah putus asa). Disinilah si modal kecil pasti akan "untung2-an" (terkesan berjudi) pada pengeboran 3-4 sumur saja. Sedang si modal gede tidak berjudi sama sekali, karena secara probabilitas sudah "pasti akan dapat" discovery pada sumur ke sepuluh (asumsinya statistik 1:10 adalah kebenaran hakiki). Nah coba deh lihat berapa jumlah committment sumur menjadi andalan pengajuan "bid"ingnya Exxon di blok yg ditawarkan di Indonesia? Aku yakin pasti paling besar (paling banyak), karena kalau statistik itu benar (1:10) semakin banyak sumur kemungkinan dapetnya semakin besar juga kan ? Bagi perusahaan kecil itu bisa "gambling", bagi perusahaan raksasa "I am just doing a bussiness". Its sorrow and sorry mas Ariadi, we are living in the "capital world". Who have capital, he is the winner ... opo ora nyebahi iku, aku mung iso misuh2 .... kampret tenan !!! RDP On 3/23/06, Ariadi Subandrio <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Pak Vicky, > Dalam sejarah PSC Indonesia, yang "terakhir" mau menerima konsep PSC > sebagai implementasi dari bisnis migas yang bersifat "judi" adalah Exxon yang > notabene adalah sang raksasa Seven Sisters dengan mengambil blok Natuna, itu > pun split-nya khusus (barangkali Abah bisa cerita banyak untuk hal ini). Para > pemula-nya justru IIAPCO, Arco yang saat itu boleh di bilang mid class oil > company. Jadi "judi" atau "tak judi" dalam premis yang anda sampaikan rasanya > gak begitu laku di beberapa raksasa pemilik modal. Exxon mau ambil natuna > juga setelah melihat MOBIL sukses di Arun. > > Dalam konteks PSC Indonesia, reward untuk Cost Recovery adalah didasarkan > pada kemauannya melakukan "gambling" dalam tahapan explorasi. Nah sekarang > kalau ada kontrak PSC tanpa melalui tahap Eksplorasi apakah masih pantas > memperoleh Cost Recovery, contoh paling aktual adalah : kontraktor Joint > Operating Cepu (award Sept' 2005, award bukan dari Migas) yang notabene gak > melakukan eksplorasi. > > Pertanyaan besarnya adalah pada BPMigas yang kelak akan melakukan kontrol > (manajemen) pada semua kontraktor PSC, dapatkah tidak mengakomodasi biaya > pra PSC (TAC) pada JO Cepu ?, Mengingat kontrak PSC-nya kan baru 6 bulanan > lalu dan tanpa ada aktifitas eksplorasi sebab (yang melakukan eksplorasi > adalah TAC, dulu Humpus kemudian Ampolex/Mobil/ExxonMobil)? apalgi kalau sunk > cost nya juga mengklaim biaya pembelian ineterest pd Humpuss, masak di reward > dengan cost recovery sih? > > lam-salam, > ar-. > > > > > > Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Bisnis migas sering dikatakan sebagai bisnis berisiko, namun bisnis > ini secara ekonomi jelas-jelas sangat menguntungkan. Apakah ada unsur > gambling atau judi dalam bisnis ini ? > > Hanya bagi yg tertarik, selanjutnya : > http://rovicky.blogspot.com/2006/03/mengapa-perlu-investor-yang-persistent.html > > rdp > > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > > > > > --------------------------------- > New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC for low, > low rates. > -- http://rovicky.blogspot.com/ --Writer needs 10 steps faster than readeR -- --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

