Januari lalu, saya (dan rombongan teman2 BPMIGAS) ke wilayah "ruwet" ini
bersama Pak Wartono (UGM) dan Pak Budianto Toha (UGM), itu ada di tepi Kedung
Ombo. Tersingkap di satu lokasi tak berjauhan antara sekuen Bouma A-C dan
"slump structure" yang ruwet itu. Karena dua2nya deep-water sedimentation, maka
gravity flow saya pikir bisa menyebabkan baik Bouma sequence maupun struktur
slump itu.
Aktivitas gempa jelas bisa memicu sub-marine slides, dan bahkan mungkin ini
justru mekanisme utama di active margin.
salam,
awang
Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bagaimana dengan gempa sebagai trigger longsoran ?
Asosiasi fluktuasi aliran sungai dalam satu tahun barangkali hanya
akan menghasilkan periode satu tahunan. Gempa memilki frekuensi cukup
sering di daerah Selatan Sumatra-Jawa. Tsunami yg terjadi kemaren
mungkin siklus 200 tahunan (?), tentunya dalam skala geologi yg jutaan
tahun merupakan frekuensi yang "cukup sering" terjadi. Kemungkinan
jumlah sedimennya tentunya juga tidak sedikit.
Untuk daerah2 stabil (passive margin) barangkali engga banyak
dipengaruhi kegempaan, tetapi dipengaruhi deltaic. Nah, bagaimana
dengan daerah "active margin" ini ?
Sumber sedimen tentusaja tetap ada, hanya apakah sandy atau shally
tergantung provenace atau material yg longsong saja lah.
Barangkali ada yg pernah melihat strutur "aneh" di sungai (lupa
namanya) di daerah Wonosari, yg sering dipakai sebagai stopsite
fieldtrip. Disitu terlihat skuence Tc-Td-Te yg berulang-ulang, namun
ada satu singkapan yg struturenya ruwet ndak karuwan. Dulu tahun
1990an E Mutti pernah lihat tapi duia duek saja, dan bilang dia "mboh
apa itu !".
RDP
---------------------------------
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates
starting at 1¢/min.