Sedikit komentar mengenai kokas, yang diperlukan adalah batubara yang
memiliki coking properties dan ini tidak ekivalen dengan nilai kalori
yang tinggi. Beberapa coking properties yang penting misalnya:
- CSN (min. 6 utk prime coking coal dan min. 3 utk semi soft coking coal)
- Phosphorus max 01.%
- Mean max reflectance: 0.7-1.5%
- Volatile matter: 16-36%
tentunya disamping ash, sulfur dan total moisture yang kalau bisa
serendah mungkin.

Setahu saya sampai sekarang Indonesia belum memproduksi batubara jenis
seperti ini (coking coal) makanya masih mengimpor dalam bentuk raw
atau kokas dari negara lain. Adapun harga coking coal yang dipakai sbg
patokan utk memulai kontrak saat ini diperkirakan $109/ton atau Rp
992.990,- (1US$ = Rp 9.110,-).

Salam,
Noel





On 3/29/06, ismail <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Abah,
> Sulitnya jaminan  suplai batubara ini kabarnya juga terjadi di pasokan untuk
> listrik, si pemasok lebih seneng jual keluar(ekspor) dibandingkan jual ke DN
> walaupun harus membayar pinalti karena sudah kontrak.
> Dalam skala yang lebih kecil dan dg teknologi yang relatif sederhana pun
> seperti Kokas Batubara ternyata juga masih harus impor, padahal permintaan
> dalam negeri cukup banyak untuk industri pengecoran logam. dengan harga
> batubara yang melambung maka harga kokas impor bisa mencapai 4000 an per Kg
> nya,( paling harga batubara mentahnya 400 Rp) padahal proses batubara
> menjadi kokas cukup dg teknologi sedrhana saja, memang dibutuhkan batubara
> yang relatif kualitas tinggi , namun bukan berarti tidak ada didalam negeri
> ( lha semuanya di ekspor , mungkin cari praktisnya saja , toh sudah laku
> keras tidak perlu repot memrosesnya)
> di era 90 an kalau tidak salah percobaan percobaan pencairan batubara untuk
> subtitusi BBM sudah ada, namun waktu itu karena harga minyak msih sekitar 20
> an dollar maka belum ekonomis dan waktu itu akan ekonomis kalau harga
> minyaknya diatas 35 $ , lha sekarang sudah 60 an $ , baru dimulai pabriknya
> itupun masih banyak kendala baik suplainya maupun regulasinya .Seharusnya
> semua energi alternatif dg harga minyak yang tinggi sekarang ini sudah
> ekonomis, tapi ya itu tadi karena infrastrukturnya/regulasinya tdk mendukung
> ya masih tunggu tungguan terus para investornya. Keterjaminan pasokan energi
> primer ini rupanya juga meluas sepeti Gas misalnya, dg harga diluar yg
> tinggi maka , males jualan didalam negeri, selama didalam negeri tdk ada
> perlakuan khusus maka ya akan tertinggalkan terus, akhirnya tetep saja
> mengandalkan yang konvensioanal (BBM) dan ujung ujungnya subsidi semakin
> gede.
> sama sama diberikan subsidi , bisa nggak ya yang disubsidi itu Gas atau
> Geothermal yang memang kedua komoditi tsb melimpah, shg kedua komoditi tsb
> bisa berkembang, sedangkan  minyaknya bisa dihemat. Dg asumsi harga gas 7-9
> $ dan minyak 60$ dan setiap  1 liter BBM mennghasilkan 3 Kwh dan setiap btu
> sama dg 0.00029Kwh ,dan setiap 7 kg steam geothermal meneghasilkan 1 Kwh
> dengan harga steam 2-3 c$/kwh, mungkin dapat diketahui berapa kalau subsidi
> tersebut diberikan ke gas dan berapa kalau subsidi BBM dan berapa kalau
> subsidi Geothermal.
> memang ujung ujungnya harus ada terobosan diregulasinya yang langsung
> menyentuh di aplikasinya ( tidak sekedar wacana wacana ) sehingga setiap
> komoditi energi mempunyai tempat dan penanganan  masing masing  shg tdk
> disamaratakan,
> saya jadi ingat pepatah "Ayam mati keklaparan dilumbung padi"  bisa bisa
> pepatah tsb berganti  dg "Listrik mati kekurangan bahan bakar ditengah
> tengah lumbung energi "
>
> ISM
>
> ----- Original Message -----
> From: <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[email protected]>
> Sent: Tuesday, March 28, 2006 7:07 PM
> Subject: Re: FW: [iagi-net-l] Proyek CTL China
>
>
> > >
> >
> >  Rekan rekan
> >
> >  Mulai terkuak salah satu "halangan" adalah regulasi , sebagai
> > profesional yang "cendekia" tentunya kita sudah harus mulai berfikir
> > (walaupun mungkin bukan kita yang akan langsung mengerjakannya),paling
> > tidak kita sudah mulai memetakan kearah itu.
> > Saya kira akan banyak disiplil ilmu yang terlibat kimia , geologi, tambang
> > teknik mesin dsb
> > Apakah kita akan baru mulai berfikir setelah seluruh batubara kita habis
> > diekspor , dan kita tidak punya batubara lagi.
> > INGAT BAHWA KITA DENGAN CADANGAN BATUBARA YANG TIDAK TERLALU BESAR DALAM
> > SKALA DUNIA , SAAT INI MENJADI PENGEKSPOR BATU BARA NOMOR TIGA DIDUNIA.
> >
> > Bagaimanapun nita grup Bakrie harus kita dukung, kesulitan adalah
> > tantangan .
> >
> >
> >
> > Terima kasih atas respons-nya.
> >
> > Si - Abah
> >
> > ___________________________________________________________________________
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >  Abah,
> >> Info dari temen di TEKMIRA - bdg.
> >> ars
> >>
> >> -----Original Message-----
> >> From: Hadi Nursarya [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> >> Sent: Friday, March 24, 2006 8:55 AM
> >> To: Arifin Sodli
> >> Subject: RE: [iagi-net-l] Proyek CTL China
> >>
> >> Saya nggak sempet belajar lagi, tapi untuk melihat teknologi yang
> >> sekarang sudah siap komersial seperti halnya teknologi sasol di afrika
> >> yang juga telah kita kunjungi, jadi kita lagi melihat teknologi mana
> >> yang dapat kita aplikasikan, kalau sekarang baru belajar untuk membuat
> >> teknologi pencairan berdasarkan teknologi sasol kita akan ketinggalan,
> >> teknologi jepang juga telah tersedia untuk jenis batubara low rank,
> >> masalahnya investor untuk melakukan pencairan di indonesia dengan
> >> teknologi yang ada tersebut belum ada yang mau, karena belum ada jaminan
> >> regulasi yang jelas, terutama jaminan pasokan batubara untuk perusahaan
> >> nontambang yang hanya ingin melakukan proses pencairan, sedangkan untuk
> >> perusahaan tambang batubara sistem perijinan akan menyangkut regim
> >> tambang(batubara) dan regim migas pada proses konversi menjadi cair,
> >> dalam hal ini menyangkut kewajiban perpajakan dan non pajak, sedangkan
> >> setelah menjadi cair jelas harus mengikuti aturan regim migas, salam
> >> baut teman2 di jkt, wass wr wb
> >>
> >> -----Original Message-----
> >> From: Arifin Sodli [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> >> Sent: 23 Maret 2006 11:24
> >> To: Hadi Nursarya
> >> Subject: FW: [iagi-net-l] Proyek CTL China
> >> Importance: High
> >>
> >> Di, rasanya anda ngerti bener soal ini kan sudah belajar di Beijing
> >> tempo hari, sok atuh sharing di IAGI net. Biar rame dan pengetahuannya
> >> nyebar.
> >>
> >> Wassalam,
> >> ars
> >>
> >>
> >> -----Original Message-----
> >> From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> >> Sent: Thursday, March 23, 2006 10:43 AM
> >> To: [email protected]
> >> Subject: Re: [iagi-net-l] Proyek CTL China
> >>
> >>>>
> >>      Kalau Amerika Serikat saja mau belajar kepada Sasol , mengapa kita
> >>      tidak ????
> >>      Tapi ngomong ngomong , ada yang tahu prinsip teknologi-nya ?
> >>
> >>      Si-Abah
> >>
> >> ________________________________________________________________________
> >> ____
> >>
> >>  >
> >> ________________________________________________________________________
> >>>>
> >>   What The U.S. Can Learn From Sasol
> >> The company makes liquid fuel from coal, not Mideast oil. And its
> >> margins are huge
> >>
> >> Some 90 miles southeast of Johannesburg, the cooling towers and pipes of
> >> a giant industrial installation sprawl across five square miles. What
> >> happens at Secunda, as the place is known, is of great interest these
> >> days. At a time of sky-high oil prices, Sasol Ltd. (SSL ), Secunda's
> >> owner, churns out 160,000 barrels of gasoline, diesel fuel, and jet fuel
> >> a day, enough to cover 28% of South Africa's needs, without using a
> >> single drop of crude oil, imported or otherwise.
> >>
> >> Sasol is not a household name, but maybe it should be. President George
> >> W.
> >> Bush wants to curb America's dependence on Middle East oil. Analysts
> >> worry about a future gap between supplies and relentless demand. Yet
> >> Sasol, with
> >> $11.2 billion in revenues, is already enjoying huge commercial success
> >> in an arena that has eluded U.S. companies -- making fuel from coal. It
> >> is embarking on a program to brew clean-burning diesel from natural gas.
> >> It may even link up with coal producers in the U.S. heartland. "What is
> >> coming out of the U.S. makes us think there is a real business
> >> opportunity for us," says Sasol CEO Pat Davies.
> >>
> >> No wonder investors have boosted Sasol's New York Stock Exchange-traded
> >> shares by almost 60% in a year, to 34. "You have to tip your hat to
> >> them,"
> >> says Bernard J. Picchi of New York's Foresight Research Solutions LLC.
> >> "They've been doing [synfuels] longer than anyone else."
> >>
> >> Sasol's technology for making gasoline from coal is named
> >> Fischer-Tropsch, after the Germans who developed it in the 1920s. The
> >> Third Reich used the process -- which employs heat, pressure, and
> >> catalysts to transform carbon monoxide and hydrogen into fuels -- to
> >> make diesel during World War II.
> >> Similarly, South Africa's apartheid regime employed it to ease the
> >> effects of the embargo in the '80s. Sasol has spent decades refining the
> >> technology and now has a money-spinner. Assuming oil prices stay in
> >> their current range, synfuels alone should earn Sasol $2 billion in
> >> operating profits for the year ending June 30, 2006, says Picchi. The
> >> fat profits have prompted some South African policymakers to call for a
> >> windfall tax on Sasol, a development that recently affected the stock.
> >>
> >> GOING ON THE ROAD
> >> Sasol is supplementing its home operations with overseas ventures. The
> >> first to come online will be gas-to-liquids <(SK>gtl) plants in Qatar
> >> and Nigeria. GTL plants use a version of the coal-to-liquids technology
> >> to make liquid fuels and petrochemicals from natural gas, which Qatar
> >> has in abundance. The Qatar plant will eventually produce 34,000 barrels
> >> a day of super-clean diesel fuel and other products for Europe. Sasol is
> >> also allying its GTL technology with Chevron's (CVX ) exploration and
> >> production skills. The two are building a facility at Escravos, Nigeria,
> >> and planning another plant in Qatar.
> >>
> >> One drawback: cost. Building a GTL plant can cost $40,000 per daily
> >> barrel of capacity vs. $15,000 for a conventional oil refinery. But by
> >> Sasol figures, the company can still make $30 a barrel if it gets
> >> low-cost gas feedstock and crude stays fairly high. Picchi figures Sasol
> >> will be getting gas in Qatar and Nigeria at the equivalent of $5 to $10
> >> for a barrel of oil. He sees Sasol earning $350 million per year from
> >> those ventures.
> >>
> >> Making money out of coal-to-liquids is tougher, since the plants cost
> >> more. Nonetheless, coal-rich Pennsylvania has assembled a package of
> >> federal and state funding that comes close to the $625 million estimated
> >> price tag of a pilot project. The facility, to make diesel from waste
> >> coal, would use technology from Royal Dutch Shell (RD ) and Sasol.
> >>
> >> Davies thinks such projects could be viable in the U.S. with oil prices
> >> at $40 a barrel with "the right incentives." Even so, Sasol would have
> >> to overcome concerns about CO2 emissions. Davies figures that by the
> >> time Sasol invests in the U.S., its "processes will meet environmental
> >> regulations." The hurdles are high. But Sasol has a technology that
> >> every energy-hungry country wants to tap.
> >>  READER COMMENTS>>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >> ---------------------------------------------------------------------
> >> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> >> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI
> >> Website: http://iagi.or.id
> >>
> >> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> >> No. Rek: 123 0085005314
> >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> >>
> >> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> >> No. Rekening: 255-1088580
> >> A/n: Shinta Damayanti
> >>
> >> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> >> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> >> ---------------------------------------------------------------------
> >>
> >>
> >> ---------------------------------------------------------------------
> >> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> >> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> >>
> >> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> >> No. Rek: 123 0085005314
> >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> >>
> >> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> >> No. Rekening: 255-1088580
> >> A/n: Shinta Damayanti
> >>
> >> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> >> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> >> ---------------------------------------------------------------------
> >>
> >>
> >
> >
> >
> > ---------------------------------------------------------------------
> > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> >
> > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> > No. Rek: 123 0085005314
> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> >
> > Bank BCA KCP. Manara Mulia
> > No. Rekening: 255-1088580
> > A/n: Shinta Damayanti
> >
> > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> > ---------------------------------------------------------------------
> >
> >
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
>
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke