Belum ada info baru lagi Mas Pras, tetapi kelihatannya Buton sedang cukup intens dilirik orang ya, beberapa bulan terakhir ini saya suka ditanyai soal Buton. Cekungan "kawan senasib"nya, yang sama-sama dibenturkan ke sisi timur Sulawesi, yaitu Cekungan Banggai-Sula baru saja berubah status jadi cekungan produksi (dari lapangan minyak Tiaka - JOB Pertamina-Medco Tomori). Cekungan Buton pun, kalau tereksplorasi dengan baik, tak menutup kemungkinan akan mengalami nasib baik seperti kawannya itu. Seperti kata Mas Bambang, sejak dari SD, anak2 sudah diajari bahwa di situ ada aspal alam. Sebagai geologist, kita tahu itu adalah hidrokarbon juga. Tinggal dicari saja dengan lebih teliti di mana yang masih fase minyaknya. Memang kecenderungan jadi aspalnya besar, sebab kerogen type-nya setipe kerogen type marin di Seram dengan API rendah dan S tinggi. Sekali ter-ekspos ke meteoric water flushing dan biodegradasi, gampang saja jadi tarmat dan aspal. Mana upside, mana downside di Buton dan hubungannya ke karakter minyaknya bisa dipakai model pola biodegraded dan unbiodegraded Klamono field (Pertamina) di Salawati Basin. Klamono field terbiodegradasi tingkat "mild" (dari karakter minyaknya hanya normal-alkane nomor rendah yang dimakan, belum kelompok2 no k tinggi - lihat publikasi saya di proceedings PIT IAGI 2000, Satyana and Wahyudin, 2000 : "Meteoric water flushing and microbial alteration of Klamono and Linda oils, Salawati Basin, Eastern Indonesia : geochemical constraints, origin, and regional implications"). Klamono duduk di flank barat Ayamaru Platform. Di Klamono Kais carbonates jadi reservoir produktif, di Ayamaru Platform Kais carbonates jadi akuifer. Di Klamono, bidegradasi berjalan "mild". Bisa diprediksikan bahwa makin ke timur mendekati Ayamaru Platform biodegradasi akan makin parah, dan makin ke barat dari Klamono biodegradasi akan makin berkurang. Benar, semua sumur yang dibor di timur Klamono berisi kalau tak tar maka aspal (contoh : Klamumuk menembus tar mat di Kais levelnya). Jadi, kalau cari minyak di Buton carilah down-side aspal Buton ke arah mana reservoir tenggelam, dan jangan cari reservoir dengan temperatur < 80 deg C. Kalau saya sih, lebih memandang surface seeps dengan optimis : "sudah terjadi generasi minyak nih di wilayah ini !" daripada dengan pesimis berkata "wah...seal failure !" (sama gembiranya kalau melihat gas chimney di seismik daripada yang adem ayem saja). salam, awang
Prasiddha Hestu Narendra <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Mas Mbang, iki lho ada bincang2 di milis IAGI Juni 2005 antara P Awang dan Abah mengenai buton, kalo boleh aku forward lagi nih. Mungkin P Awang bisa nambah info baru. salam, pras Re: [iagi-net-l] Hubungan Buton dan Lengan Sulawesi Timur.] Awang Satyana Mon, 06 Jun 2005 23:17:40 -0700 Abah, ya Kapantoreh itu nama pegunungan di Buton utara. Ofiolit/ultrabasa tersingkap baik di utara maupun selatan Buton bagian barat. Bor terakhir di Buton adalah Jambu-1 (Conoco, 1992), 5015 ft, mengejar sampai Tondo klastik, ada hydrocarbon shows. Kebetulan dulu saya monitoring harian juga sumur ini saat masih di Pertamina Balikpapan. Tak ada strktur yang berarti di Pulau Muna dan benar hampir seluruh permukaannya ditutupi karbonat Kuarter Wapolaka yang sebagian duduk di basement kontinen. Ada petroleum system aktif di wilayah Buton. Source-nya sudah diidentifikasi dari karakterisasi geokimia, yaitu Winto dark shales yang berumur Trias dan karbonatan, tipe kerogen II. Merupakan source yang diendapkan di marine, dan cenderung punya API yang rendah, persis seperti di Seram (Manusela). Wilayah selatan yang masih terpendam, tak seterangkat yang utara, masih bisa prospek. Tetapi, tentu butuh pemelajaran lebih lanjut. salam, awang [EMAIL PROTECTED] wrote: > \ Awang , Terima kasih atas penjelasannya, memang posisi Buton itu sangat menarik , sayang pada saat itu pengetahuan -ku sebagai mahasiswa masih sangat minim m( apa iyaa sekarang sudah tidak ya ???? hahaha). Tapi omong omong Kapantoreh itu kan nama daerah (pegunungan) diutara Pulau Buton ya ?). Gulf Oil pernah melakukan seismik di Pulau Muna , kalau saya tidak salah hasilnya secara data kurang baik karena tertutup oleh karbonat ( Muna kan terkenal hasik kayu jatinya). Saya tidak tahu kesimpulan sementara mengenai Pulau Buton dan sekitarnya, berdasarkan hasil survei dan pemboran terakhir, mungkin Anda dapat menjelaskan untuk kita ? Hatur nuhun deui. Si Abah. Pulau Buton mungkin pulau kedua di wilayah Sulawesi yang terkenal setelah > Sulawesi sendiri. Dari sejak SD, anak2 sudah diajarkan bahwa Buton > penghasil aspal alam. Ingatan itu sangat kuat melekat sehingga tidak > mungkin terlupakan lagi. > > Tetapi, untuk memahami geologi dan tektonik Pulau Buton, ia tidak bisa > berdiri tersendiri, ia harus dipahami dengan pulau-pulau di sekitarnya, > terutama Pulau Muna di sebelah baratnya dan Pulau Wangi-Wangi di sebelah > timurnya - pulau terbesar di Kepulauan Tukang Besi. (Mengapa orang2 Buton > menamakan ibukotanya "Bau-Bau" sedangkan pulau tetangganya "Wangi-Wangi" > tentu menarik untuk mengkaji toponim-nya). > > Secara singkat, pengetahuan sekarang menempatkan Buton dan Tukang Besi > sebagai sebuah mikro-kontinen yang lepas dari wilayah Australia (bisa NW > Australia, bisa Kepala Burung Papua - kedua mintakat ini pun berhubungan > sebenarnya) pada sekitar pertengahan Yura dan membentur Lengan Tenggara > Sulawesi, yang diwakili secara frontal oleh Muna, pada Miosen Awal. Jadi, > Buton tak punya urusan apa pun dengan Lengan Timur Sulawesi, tetapi ia > memang punya urusan dengan Lengan Tenggara Sulawesi sebab ia pernah > membenturnya. > > Antara stratigrafi Neogen dan pra-Neogen harus dibedakan di Buton. > Stratigrafi pra-Neogen adalah stratigrafi asli mintakat Australia dan > urutannya persis seperti mikro-kontinen2 lain di Indonesia Timur (misalnya > : Banggai Sula, Buru Seram, Obi Bacan). Stratigrafi Buton paling mirip > stratigrafi Seram. Stratigrafi Neogen adalah stratigrafi asli insitu di > tempat ia membentur Muna. Dulu, sebelum Buton tubrukan dengan Muna, di > depannya tentu ada kerak samudra. Saat perbenturan terjadi, mau tidak mau > kerak itu tercuat, obducted, sebagian lagi terkerat-kerat, sliced, karena > proses konvergensi-pertemuan lempeng, yang intensif. Nah, batuan ultrabasa > yang Abah temukan itu adalah bagian dari kerak samudera tadi, di Buton > terkenal sebagai nama Kapantoreh Ophiolite Kompleks. > > Akan halnya sedimen Neogen, mereka merupakan kompleks sedimen yang > sebagian diendapkan sebagai foreland basin sediments (molassic deposits) > dihalangi oleh tinggian Kapantoreh ophiolite tadi. (dalam gambaran yang > sama, terjadi juga di kompleks benturan Banggai Sula vs. Sulawesi Timur > dengan tinggian Batui thrust sebagai barier-nya). Formasi Tondo (klastik), > Sampolakosa (karbonat dan napal) , Wapolaka (terumbu) menyusun sedimen > berturut2 sejak Miosen Tengah-Kuarter. Ini adalah batuan2 post-collision > units. > > Setelah menubruk Muna, ternyata, Buton pun dibentur Tukang Besi di sebelah > timur pada Plio-Pleistosen, maka apa yang dialami Muna dialami pula oleh > Buton. Tabrakan berantai kalau kita boleh sebut.. Nah, maka terumbu > Kuarter di Buton (Wapolaka reef) itu terangkat terus. Persis seperti > terumbu-terumbu Kuarter di Luwuk, Sulawesi Timur. Kalau pernah ke Luwuk, > teras terumbu Kuarter bagus sekali kalau dilihat dari lapangan terbang > Bobong. Lalu, pandangan ke lepas pantai dari Luwuk, mata kita akan > terantuk ke pulau samar2, itulah Pulau Peleng, pulau terbarat dari > Kompleks Banggai-Sula. > > Akan halnya aspal Buton, ia sering dipakai sebagai bukti bahwa > mikro-kontinen2 di Indonesia Timur punya potensi hidrokarbon. Benar, > eksplorasinya belum selesai. Baru Seram dan Banggai-Sula saja yang > terbukti produktif. Kalau kita aktif mengevaluasi dan mengerjakannya, > tentu tak akan hanyan Seram dan Banggai yang produktif. > > Walaupun Conoco Buton telah lama menyerah mengerjakan Buton di awal2tahun > 90an, bukan berarti ia tidak punya potensi. Kenapa aspal hanya ada di > utara dan tidak di selatan, itu ada kaitannya dengan rotasi pulau ini dan > benturan dengan Tukang Besi. Masih ada yang terpendam dan tidak jadi > aspal... > > salam, > awang > > [EMAIL PROTECTED] wrote: > > > Rekan rekan > > Saya pernah mengerjakan thesis saya di Buton (thn 1970-an), dan saya > melihat bahwa dengan banyaknya oil seeos di Buton Utara serta aspal di > Formasi Sampalakosa (Miosen) , samapi saat ini tidak ada discovery di > sekitar P Buton. > Yang saya ingat adalah Formasi Tondo (kalau tidak salah merupakan > lapisan Tersier tertua di Buton) , bebrpa bagian merupakan konglomerat > dengan fragmen fragmen batuan ultra basa (peridotit) yang cukup besar. > Saya melihat singkpannya. > Sebenarnya bagaimana posisi Buton dalam tektonik Indonesia menurut > konsep dan data yang ada sekarang ? > > Si Abah. > On Wed, 5 Apr 2006 15:01:32 +0800 "Bambang Murti" wrote: > Kalau kita mengingat kembali pelajaran di SD, selalu > disebutkan bahwa > Buton merupakan penghasil aspal alam. Secara geologis ini > dimungkinkan > terbentuknya karena surface exposure dari reservoir dalam > jangka waktu > lama yang menyebabkan fraksi ringan-nya menguap dan hanya > menyisakan > fraksi berat yang bercampur dengan pasir, dan ini yang > ditambang sebagai > komoditas serta dikenal sebagai "Butas" (Buton-Aspal). > > Kembali ke konteks tar-sand tersebut, terutama mengingat > bahwa umur > formasinya yang sudah "lanjut", apakah ini berarti bahwa > prospectivity > dari liquid hydrocarbon juga sudah "berlalu"? > > Mungkin ini seperti menyikapi keberadaan seepage di > surface ya. Bagi > yang optimis akan bilang "oh, itu petroleum system-nya > terbukti ada", > sementara yang pesimis akan bilang "oh, cari tempat lain > aja, itu > artinya sudah ada seal failure". > > Mungkin ada yang punya pendapat lain? > > Bambang > > ---------------------------------------------------------------------- > This e-mail, including any attached files, may contain > confidential and privileged information for the sole use > of the intended recipient. Any review, use, > distribution, or disclosure by others is strictly > prohibited. If you are not the intended recipient (or > authorized to receive information for the intended > recipient), please contact the sender by reply e-mail and > delete all copies of this message. --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- --------------------------------- Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2ยข/min or less.

