Rabu, 12 April 2006, sehari setelah Bung Ben kasih gratis bundled paper di Bandung itu, saya diskusi dengan Pak Panut di Pos pengamatan gunung Merapi Kaliurang, selama separoh dari 7 jam. Pagi jam 8:30 hingga 12:00 itu masih status Waspada. Sorenya di sebut status Siaga. Pengungsian dilakukan pada penduduk sekitar radius 4 km, ke kantor Camat Pakem, radius ~10 - 14 km dari puncak.
Saya mencari siklus dominant lain selain siklus SALAM di erupsi Merapi. Setelah erupsi pereode 7 th (1994, lalu erupsi 2001), kini (durasi 5 th), kubah sudah menggunung, dan retak. Data yang ada anjurkan korelasi adanya peningkatan gempa pada bulan Purnama (tgl 15 komariah) dan Bulan Mati (tgl 1 komariah) +-3hari. Bulan purnama 15 Rabiulawal, bersesuaian hari Jum'at 14 April 2006. Minggu Bulan Purnama artinya tgl 12-18 Rabiulawal, Selasa 11- Selasa 18 April. Tak banyak kegiatan gempa sebelumnya, dan banyak kegiatan vulkanisme di minggu itu di Merapi, temasuk Dieng ~140 km barat Merapi, dan G. Semeru ~210 Km timur Merapi. Gempa tektonik 4 M katanya ada di Rabu-Kamis 12-13 April lalu di selatan Merapi. Palung laut kedalaman 7 km terdapat di Selatan Merapi, adalah terdalam dari palung barat Sumatra, Jawa, Nusatenggara, lalu lebih dalam lagi 8 km di Laut Banda si "pusat cyclone tectonic timur" ini. Kalau saja siklus bulan itu mendominasi siklus gempa Merapi, kemungkinan minggu ini, mulai hari ini, akan lebih sedikit gempa di banding minggu lalu. Wedus gembel (kambing berbulu gembel), mempunyai bulu mengombak. Awan piroklastik, hitam, panas, mirip mengombaknya bulu kambing gembel, minggu lalu sering nongol maximum 200 m ketinggiannya. Awan panas ini yang paling jauh jangkauannya, karena tergantung arah angin, serta kecepatan gerak anginnya. Lahar panas, lava mengalir, terjauh di gempa 22 November 1994 sampai Kaliurang 6.5 km dari puncak. Acara penganten di rumah berjarak 1 km sebelah barat Kali Boyong Kaliurang itu, terkena awan panas 200-300 derajad Celcius lahar panas atawa lidah api ini, membakar pohon bukit Turgo-Plawangan, menghanguskan orang, sekitar 70 orang meninggal dominannya di rumah penganten itu. Magma Strato Merapi lebih mudah mengendap (dibanding lava Mid ocean ridge, kayak Hawai, tipe Shield), sering hanya 1-2 km mengalir awalnya setelah gempa besar. Lama-lama menggunung, menutup kawah, seperti terjadi kini, lahar tak mengalir, tekanan semakin akan meninggkat, dan ketika jebol, terjadilah gempa, maka "wedus gembel" amat tinggi bisa 1km, lahar mengalir jauh, bisa mematikan tadi. Nah, gunung ini membahayakan dong ? Lebih enak hidup di tempat tak ada gunung ? Rata-rata kedalam laut, bukan batas megaplate, ya 4000 m. Kalau tak ada gunung artinya, ya hidup di kedalaman itu kan ? Buat terowongan untuk hidup ? Indonesia umunya hidup di batas megaplate ini. Merapi ketinggiannya dari muka laut ~ 3000 m (eh 2968 m versi Andreastuti, 2000, atau 2911 m versi Kompas 15 April 2006) dari muka laut. Tinggi gunung ini artinya sekitar 7.000 m dari dasar laut itu. Batas konvergen megalempeng hasilkan banyak deferensiasi mineral jadikan adanya emas, perak, tembaga, dll, juga tanah subur. Berasnya lebih enak (beras Pakem no.1 sejak 1860'an). Daerah subur Klaten, tanah dari Merapi dan juga dari G. Lawu, ku lalui perjalanan Jogja-Solo Kamis kemarin, ambil alih kwalitas beras kini. Ada orang Indonesia yang mau katakan belum pernah makan dari hasil tanah vulkanik ? Dari puncak Borobudur di Juma'at-nya, sambil nikmati salak pondoh, terlihat puncak Merapi seperti mengarahkan lahar ke candi, juga arah barat-baratdaya-selatan. Banyak dam sudah dibangun untuk mengarahkan lahar panas, juga lahar dingin (eh pasir dominannya). Termasuk bedungan pinggir kali (sungai) Boyong, yang jadikan restoran Boyong Kalegan (Pakem), bekas luapan banjir lahar-dingin 1966'an itu, jadi tempat enak untuk santai. Kemurahan pasir juga batu, bahan bangunan ini amat besar nilainya. Penduduk yang jauh dari gunung mungkin heran melihat kampung di dekat gunung, termasuk Pakem itu, dengan enaknya memakai batu untuk membuat "pager" (pagar jalan kampung), batas-batas pekarangan, sawah, ladang. Tembok satu rumah besar gunakan batu (bukan batu-bata), dengan batu di ambil gratis dari pekarangan 3 m x 5 m saja, dan pasirnya gratis dari sungai pinggir kampung. Pokoknya gunung volkanik amat-amat membuat enak, ga' mau pindah. Tekan saja efek yang amat sedikit tak mengenakkan (gempa) itu, jadikan semua hal menjadi eunak buanget. Volcano International Gathering, UPN September, harapkan dapat hasil menarik. Tak begitu ? Salam, Maryanto. Heru :"First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win." (Mahatma Gandhi op cit Robbie Williams, 2006). ======== From: Ben Sapiie Sent: Saturday, April 15, 2006 4:59 PM Apakah mungkin kali ini Merapi benar2 marah? atau hanya sekedar siklus tahunan (Sakit kambuhan). Mungkin rekan-2 IAGI yang mengamati gempa maupun volume gas di pos MERAPI dapat mengupdate informasi ini untuk kita. Tentu saja kalau memang berbeda dengan informasi di media masa. BS --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

