Sdr. Vita, itulah stand-point yang seharusnya dianut kita semua. Tetapi
kenyataannya demikian pandangan para ilmuwan sebelum pertengahan abad ke-20 (bukan pendapat saya) dan
sesudahnya.
Memang disatu pihak kita tidak ingin merusak lingkungan, tetapi dilain pihak
kita ingin memamfaatkan alam kita demi "modernisasi". Itulah yang menjadi
dillema, sampai dimana kita bisa memanfaatkan alam tanpa merusaknya, jadi
harus berimbang. Tetapi dewasa ini banyak juga yang menganut apapun yang
dilakukan manusia terhadap alam itu tidak boleh, sehingga muncul kasus2
pencemaran dan perusakan lingkungan yang disebabkan pertambangan, walaupun
sudah dilakukan usaha2. Jadi menentukan mana yang boleh mana yang tidak
boleh itu yang jadi masalah.Sebagai contoh: orang memanfaatkan batuan andesit/ soshonite di bukit2 di daerah Purwakarta sebagai bahan bangunan, sedangkan bukit2 itu sebetulnya sangat indah yang merupakan contoh dari volcanic necks. Lama-lama tentu bukit2 ini akan habis dan mungkin akan meninggalkan lubang. Bagaimana kita bisa mencegahnya? Kalau dilarang kemana orang harus mencari batu, tentu bukit2 yang lainpun seperti di selatan Cimahi akan mengalami masalah yang sama. Bukit-bukit kapur di daerah Rajamandala pun sekarang ditambang sebagai 'marmer', dan lama-lama akan habis juga. Mungkin kita hanya dapat menyisihkan beberapa bukit sebagai monumen alam? Bahkan sebetulnya ada larangan mengexport fossil sebagai benda purbakala. Sebetulnya dengan mengexport marmer Citatah itu kita mengexport fossil2 koral, ganggang, foraminifera dsb, yang justru memberikan keindahan pada marmer Citatah yang disenangi para pembeli. Nah sampai di mana batasan larangan untuk mengexport fossil. Juga landskap kita akan berubah, melihat kebutuhan semen, maka banyak lagi bukit-bukit gamping dengan karst-nya akan rata. Kita lihat nasibnya G. Kromong, bukit di Gresik, bahkan bukit2 batukapur di Cibinong. Itulah dillema yang kita hadapi. Bagaimana kita memanfaatkan alam tanpa merusaknya, tanpa meninggalkan lubang besar seperti di Ertzberg dan Grassberg, kapan kita bisa membuat bendungan di Jatigede tanpa merusak lingkungan, atau melakukan sodetan K. Citanduy tanpa merubah ecosystem.

Bencana alam adalah juga gejala alam, seperti longsor, banjir, itu suatu
gejala alam yang dikenal sejak Pra-Kambrium, makanya ada istilah flood-plain dan debris flow deposit dalam stratigrafi. Sebelum manusia ada, itu bukan bencana, tetapi sesudah manusia ada
itu adalah bencana, karena merugikan manusia. Juga sama halnya dengan erupsi
gunung api, gempa bumi, tsunami, benturan meteor dsb.
Ini dillema bagi kita semua, terutama bagi para ahli geologi untuk merenungkannya.
RPK
----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Cc: <[email protected]>
Sent: Tuesday, April 25, 2006 7:31 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] ETHO-GEOLOGICAL FORECASTING


Di situlah, Pak, yang perlu adanya keseimbangan. Sudah pastilah nature
tidak bisa ditaklukkan, tetapi bisa dikendalikan atau diantisipasi. Itulah
gunanya science for the better world.  Sama seperti pengeboran minyak, itu
untuk manfaat banyak orang, tetapi juga harus dipelajari juga
environmental aspectsnya.

Salah satu contoh, 2 minggu yang lalu saya ke Danau Kakaban.  Untuk ke
danau tersebut, kapalnya harus berhenti di pantai, kemudian naik bukit.
Perjalanannya lumayan, naik turun dan licin karena hutannya masih rimbun.
Ada pathway dari kayu, tetapi sudah tua sekali dan sebagian besar sudah
patah.  Bahkan teman saya sempat cedera karena pathwaynya patah.  Tanpa
pathway itu, kita harus lewat lumpur.  Beberapa resort di daerah situ
(karena danau Kakaban adalah salah satu dari dua fenomena di dunia ini,
yang memiliki stingless jellyfish.  Yang satu lagi di Maldives atau di
Philipina, saya lupa) sudah minta agar pathway kayu itu dibetulkan, yang
panjangnya mungkin sekitar 600 meter.  Tetapi dari NGO katanya kalau
menebang sebuah pohon bisa mengganggu ekosistim secara keseluruhan.  Nah,
sekarang, karena Danau Kakaban ini bisa jadi obyek turis dan hampir semua
divers yang ke Derawan datang ke sana, bukankan lebih baik kalau jalan ke
sana dibuat nyaman untuk para pengunjung dan agar tidak ada yang celaka?
Dan apakah satu buat pohon memang dapat mengganggu ekosistem secara
keseluruhan?  Dan apa win-win solutionnya?

Kita mengebor juga banyak dampak environmentnya, tetapi kita juga punya
HSE kan, dan ada studi amdalnya.

Saya masih percaya kalau manusia adalah khafilah dibumi, jadi kuncinya
sang khalifah harus bijaksana mempergunakan akalnya dengan ilmu yang dia
punya, untuk bisa diamalkan untuk kesejahteraan manusia, bukan untuk
ditaklukkan, tetapi untuk dimanage.  Begitu..

Vita (alumni institut yang jargonnya 'Art, science and technology')







"R.P. Koesoemadinata" <[EMAIL PROTECTED]>
04/24/2006 07:43 PM
Please respond to iagi-net


       To:     <[email protected]>
       cc:
       Subject:        Re: [iagi-net-l] Science and Nature (was
ETHO-GEOLOGICAL FORECASTING)


Harus disadari bahwa terjadi perubahan "paradigma" pada sekitar
pertengahan
abad ke-20. Sebelumnya para cendekiawan/ilmuwan itu begitu arrogant bahwa
alam itu dapat ditaklukan oleh manusia dengan sains dan teknologinya.
Makanya Belanda melakukan reklamasi dan dapat lahan di bawah permukaan
laut
dengan sistim tanggulnya, Suez canal dan Panama canal digali,
bendungan-bendungan raksasa dibangun untuk mengendalikan banjir, irigasi
dan
tenaga listrik dsb
Sekarang adalah bahwa manusia harus hidup menyesuaikan diri dengan alam,
jangan mengganggu alam. Jika Suez canal baru dicanangkan sekarang, mungkin

tidak akan pernah dibangun, karena mungkin akan merusak ecosystem Samudra
Hindia dengan tercampurnya ecosystem dari Laut Tengah.
Sekarang membangun bendungan kecil saja sudah harus memperhitungkan dampak

lingkungan dan banyak ditentang.
Gn Merapi mau ditaklukan oleh manusia?
RPK
----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Cc: <[email protected]>
Sent: Monday, April 24, 2006 8:10 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] ETHO-GEOLOGICAL FORECASTING


Ga setuju, Lobeck hidupnya kan dulu, udah ngga trendi ah.

Nature is to be understood, hence to be managed for the better world for
human beings ( ini menurut Siregar, 2006)
Alam itu untuk dimengerti untuk kemudian dimanage/diatur/dikontrol untuk
kebaikan umat manusia.



Jadi bapak2 IAGI yang punya nama ALAM, (Harry Alam, Syamsu Alam....)
sudah
nasib kalianlah dikontrol kalau menunjukkan gejala2 keluar jalur, paling
ngga sama istri2nya mereka masing2.  :-)

Smile, everybody, it's still monday.


Parvita H. Siregar
Geologist-ENI Indonesia
Atrium Mulia 3A floor
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. B10-11
Jakarta 12910 Indonesia
Tel: (62-21) 3000-3200, 5296-2200
Fax: (62-21) 3000-3230
mailto:[EMAIL PROTECTED]







[EMAIL PROTECTED]
04/21/2006 08:52 AM
Please respond to iagi-net


       To:     <[email protected]>
       cc:
       Subject:        Re: [iagi-net-l] ETHO-GEOLOGICAL FORECASTING



alam bukan untuk diatur atau dilawan..tetapi untuk dipahami dan
dimengerti

Ingat tulisan pada halaman depan suatu buku klasik geologi (kalau tidak
salah karangan Lobeck, cmiiw), tertulis
'Nature, to be commanded, must be obeyed'.

Budi Satrio




                     "Nataniel
                     Mangiwa"                  To: [email protected]

                     <nataniel.mangiwa         cc:
                     @gmail.com>               Subject: Re: [iagi-net-l]
ETHO-GEOLOGICAL FORECASTING

                     21/04/2006 09:20
                     AM
                     Please respond to
                     iagi-net





betul, setuju!

jgn kita merasa dgn pengetahuan dan teknologi yg kita punya lalu kita
bisa mengatur alam, alam bukan untuk diatur atau dilawan..tetapi untuk
dipahami dan dimengerti.

::natan::

On 4/21/06, Arief Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Jangan, merapi jangan sampe dibor dan dibom pake nuklir
sakit nanti dia, kasihan gunung cantik nan perkasa itu

jangan dirusak kampusnya volkanolog itu
Ayo para vokanolog bekerja dan belajar lagi memahami dia
Agar komunikasi makin lancar dan hubungan makin mesra dengan si cantik
itu




A R I E F B U D I M A N
Pertamina - Eksplorasi Sumatra
Phone    : (021) 350 2150 ext.1782
Mobile  : 0813 1770 4257 / (021) 70 23 73 63

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------







---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------






---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------






---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke