Sekedar sharing. Saya belum banyak pengalaman untuk PWD ini, tapi biasanya
service ini akan ada kalo kita run LWD Sonic tool dan biayanya tergolong
murah. Si service provider pernah cerita bahwa PWD ini lebih banyak
berurusan dengan Sonic dan Resistivity tool sebagai alat utama untuk pore
pressure prediction. Dalam melakukan pekerjaannya mereka menggunakan
software khusus.
Sebagai bagian dari akusisi, segala macam pressure diukur, mulai dari
surface pressure, pressure drop untuk keperluan signal LWDnya, pressure loss
di bit, di dc (drill collar) dan di dp (drill pipe), also termasuk
menghitung hidroliknya (aliran mud turbulen atau laminar).


On 5/3/06, Amir Al Amin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Pak Arief yang Budiman,

Sependek pengetahuan saya dari pergaulan dengan orang drilling :-),
balloning efek, atau juga disebut juga well breathing :

suatu kejadian  berkurangnya lumpur pengeboran (loss) dari sistem
sirkulasi secara perlahan-lahansaat pengeboran, tetapi saat flow check
(pump di matikan), terjadi penambahan mud (gain).

Menurut paper, hal ini terjadi jika mengebor di daerah yang dominan shale.
Karena sifat shale yang plastis, seperti balon. Yang bisa kembang
terus mengempis lagi.

Untuk mengetahui ini baloning efek atau bukan, paling baik dengan
menggunakan PWD (pressure while drilling). Dengan mengamati annulus
pressure
readingnya. Jika balloning efek maka pressurenya berubah dari ECD
(equivalent circulating density) menurun menjadi pressure hydrostatik
(=MW). Jika menjadi
lebih tinggi dari MW berarti memang mudweightnya kurang (gain yang
sebenarnya).
Menurut pengalaman dengan PWD ini cuma bisa didapat sesaat setelah pump
ON.
Maka akan terkirim, data pressure ke atas. Jadi datanya putus-putus.
(nggak tahu sekarang). Tetapi data yang lebih rapat bisa didapatkan
dari memory nanti (sudah terlambat dong :-) ).
Jika tidak ada PWD maka flow checknya musti lama, makanya di HPHT well
flow check 10 menit nggak cukup. Harus 0.5 jam, atau dilihat rate
gainnya, semakin menurun nggak.

Jadi kalau gain, jangan buru-buru panik, tutup BOP, pump kill mud. :-)
Tetapi diamati gainnya berapa ratenya, apakah menurun trendnya.
Tentu hal ini berlaku didaerah-daerah yang punya potensi balloning
efek. Jangan coba-coba di daerah lain.

Tetapi di Mahakam, tool PWD ini lebih sering rusaknya kalau dipakai di
HPHT wells.

Begitu saja, cerita balloning efek, sebenarnya domain drilling
engineering.

Salam,






On 5/3/06, Arief Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Rada lupa nih mohon pencerahannya pak kumis,
> Kalau gak salah Balloning itu kan pembesaran lobang bor karena MW tinggi
yg
> berakibat mud level drop, (seolah2) terjadi mud losses
>
> Mohon dikonfirmasi
>
>
>
> A R I E F B U D I M A N
> Pertamina - Eksplorasi Sumatra
> Phone    : (021) 350 2150 ext.1782
> Mobile  : 0813 1770 4257 / (021) 70 23 73 63
>
>
> -----Original Message-----
> From: Amir Al Amin [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Wednesday, May 03, 2006 11:49 AM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Challenging! Drilling dengan mudweight tinggi
>
> Salah dua kelemahan XPT , nggak bisa untuk high temp (>150degC).
> Saya pernah combine dengan PEX nggak masalah, tapi lucunya
> company man nya takut, karena pressure test berjam-jam
> sambil bawa2 nuclear source.
>
> Akhirnya cabut ke surface dulu untuk unload source.
> ha..ha..ha..terus apa gunanya ditandem..?
>
> betul margin antara LOT dan formation pressurenya tipis.
> MW ketinggian loss, kerendahan kick.
>
> masalah baloning, juga rumit, salah interpretasi
> bisa berbahaya. tapi biar orang drilling saja yang pusing... :-)
> kadang2 berhari-hari sirkulasi,baru berani cabut..
> padahal masih gain, walaupun ratenya kecil..
>
>
>
>
>
> On 5/3/06, M Fakhrur Razi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Betul seperti pak Amir bilang, Vico sudah pernah drilling pake
mudweight >
> > 19 ppg, bentuknya juga sama, cuma kalo mau menaikkan MW secara manual,
> > rustabout yang stay di hopper pada meringis aja hahaha
> > dan tentunya juga hati-hati karena bakalan sering ketemu loss
circulation,
> > akibat balooning affect karena drilling deket-deket dengan frac
gradient.
> > ....tentunya drilling harus punya data LOT dulu sebelum drilling di
> section
> > high mudweight ini, biar tau batasan maksimumnya.
> >
> > Saya pernah pakai XPT satu kali, hasilnya cukup bagus meskipun tidak
semua
> > tight zone bisa dapat hasil yang valid (success ratio ~ 40% -
> 50%)tantangan
> > utama kalo pake tools ini (apalagi dilingkungan high MW) adalah
membedakan
> > antara valid pressure dan supercharged pressure. sepertinya belum ada
satu
> > metodepun yang bisa memberikan jawaban pasti ttg masalah ini.
> > satu hal lagi yang perlu diperhatikan, engineer schlumberger tidak
> semuanya
> > berpengalaman dengan XPT, karena ada beberapa hal yang secara teknis
agak
> > berbeda dengan MDT, jadi dipastikan aja "right man on the right
place".
> > Mereka bisa juga sih diskusi dulu dengan XPT schlumberger champion,
ahmed
> el
> > araby (dulu engineer di vico dan total, sekarang based di europe)
> >
> > kalo CHDT punya resiko yang berbeda, mata bor yang kecil itu gampang
patah
> > (betul begitu pak Amir?) dan alat ini kan sebenernya didesain untuk
MDT di
> > cased hole
> >
> >
> >
> > salam,
> > Razi
> >
> >
> >
> > On 5/3/06, Amir Al Amin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > >
> > > Drilling dg MW >2.0sg sudah dilakukoni Vico dan Total di Mahakam.
> > > Mudnya tidak 'seekstrim' yang dibayangkan. Memang kental tetapi
secara
> > > kasat mata  tidak terlalu bisa dibedakan dengan mud 1.6sg misalnya.
> > >
> > > XPT bagus dan relatif lebih cepat tetapi tidak bisa dicombine dengan
> LFA.
> > > Seingat saya sukses rationya lebih tinggi d/p MDT.
> > > (XPT pernah dibincangkan kira2 setahun yang lalu di milis ini.)
> > >
> > > Soal koreksi log, menggunakan chart yang sama. Problemnya ,
posisinya
> > > berada di limit MW nya / 2.0sg, jadi garis2 koreksinya musti
dieksten.
> > > Kalau koreksi pakai komputer, sih nggak masalah toh equationnya
sama.
> > >
> > >
> > >
> > > On 5/3/06, Shofiyuddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > > Barangkali ada yang mau ngasih pencerahan.
> > > > Ada satu sumur yang di bor di Caspian sea yang menggunakan mud
weight
> > > > 19.2ppg (gak kebayang gimana bentuk fisiknya, mungkin seperti
semen
> > > > beton cor
> > > > coran yang masih cair ) dan pengukuran pressure data (dengan
> menggunakan
> > > > XPT) menunjukan bahwa formation pressure yang di sand menunjukkan
> angka
> > > > sekitar 8k - 11k psi yang kalao di convert ke gradient sekitar 17
- 19
> > > ppg
> > > > (from mean sea level). Oh ya kedalaman sumur TVD sekitar 3800 m
saja.
> Oh
> > > ya,
> > > > jenis mudnya sendiri adalah sintetik oil base mud.
> > > > Nah pertanyaan saya, kira kira apa saja yang berpengaruh atau
> > > mempengaruhi
> > > > kondisi di bawah ini:
> > > > 1. Invasion profile, apakah seperti biasa saja? artinya ada flush
> zone,
> > > > invaded dan un-invaded zone?
> > > > 2. Log log apa sajakah yang dipengaruhi: GR, Induction, Density,
> Neutron
> > > dan
> > > > mungkin log laen. GR jelas berpengaruh besar karena kondisi
> kalibrasinya
> > > > menggunakan mudweight 10 ppg di lubang 8". Oh ya, ukuran lubangnya
> dari
> > > > 5-5/6" sampai 8.5"
> > > > 3. Mengenai pressure test, saya lihat di buku panduan, batas
maximum
> > > > pembacaan pressure (untuk HP gauge dan mungkin juga untuk strain
> gauge)
> > > > adalah sekitar 11k psi. Nah bagaimana validitas pembacaan diatas
spek
> > > > tersebut?
> > > > 4. Adalah yang pengalaman dengan XPT (Express Pressure Test)? saya
> > > mendengar
> > > > bahwa tool ini cukup baik untuk formasi formasi yang tight karena
> > > > menggunakan volume drawdown yang lebih kecil, kalo gak salah
sekitar
> 2cc
> > > > saja. Saya coba cari di websitenya schlumberger, belum ketemu
juga.
> > > > 5. Sekedar info, porositas sandstone sekitar 19 persent dari
density
> > > log.
> > > >
> > > > terima kasih sebelumnya
> > > >
> > > >
> > > > --
> > > > Salam hangat
> > > >
> > > > Shofi
> > > >
> > > >
> > >
> > >
> > > --
> > > ***********************************
> > > Amir Al Amin
> > > Operation/ Wellsite Geologist
> > > (62)811592902
> > > amir13120[at]yahoo.com
> > > amir.al.amin[at]gmail.com
> > > ************************************
> > >
> > >
---------------------------------------------------------------------
> > > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> > >
> > > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> > > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> > > No. Rek: 123 0085005314
> > > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> > >
> > > Bank BCA KCP. Manara Mulia
> > > No. Rekening: 255-1088580
> > > A/n: Shinta Damayanti
> > >
> > > IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> > >
---------------------------------------------------------------------
> > >
> > >
> >
> >
>
>
> --
> ***********************************
> Amir Al Amin
> Operation/ Wellsite Geologist
> (62)811592902
> amir13120[at]yahoo.com
> amir.al.amin[at]gmail.com
> ************************************
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
>
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
>
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>


--
***********************************
Amir Al Amin
Operation/ Wellsite Geologist
(62)811592902
amir13120[at]yahoo.com
amir.al.amin[at]gmail.com
************************************

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




--
Salam hangat

Shofi

Kirim email ke