Terima kasih atas penjelasanya.

Andaikata, kita punya 'trace elements' berupa data sulphur, vitrinite
refelectance, API, n-parafin atau isoprenoid dan juga data heat-flow di
setiap well yang ada di Kepulauan Sumatera.
Lalu kita bermain-main dengan mem-plots dan menghubungkan masing-masing
data tersebut dengan interpretasi isoline dan opposite-nya . . . dan
cerita geology apa saja yang bisa menghubungkan semuanya itu secara
specifik?
Apakah bisa bercerita tentang trend of sediment environment, source
facies/rocks, partial pressure (CO2), etc.?

Menarik ya mengungkapkan trend secara regional?!

Salaam,
SLAMET RIYADI

-----Original Message-----
From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, May 18, 2006 4:26 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Heavy Oil Fields in Indonesia

Pak Slamet dan Pak Hendro,

Blockage lebih dikuatirkan terjadi semakin mendekati seabed karena
pressure dan temperatur yang turun di bawah dew point. Kalau di
reservoir jauh di bawah seabed, temperatur yang tinggi bisa mencegah
blokage minyak parafinik. Dalam flow assurance study, kondisi ini akan
disimulasi, apakah minyak parafiniknya cenderung membeku dan menyumbat
pipa (blaockage). Sepanjang jalur pipa di atas sea bed pun kondisi
menjadi rawan karena laut dalam tentu punya temperatur yang minimal (tak
heran gas hydrate - biogenic gas yang terperangkap dalam kisi2 kristal
es sering ditemukan tak jauh dari seabed).

Seperti yang Pak Hendro sebutkan, saat ini caranya adalah dengan
pemanasan di titik2 tertentu di sepanjang tubing dan di beberapa
"stasiun termal" di sepanjang jalur pipa ke tempat pengumpul. Kalau ada
booster pompa untuk mendorong minyak tetap punya tekanan agar mengalir
di pipa yang menanjak pun, maka ini ada thermal booster agar minyak tak
jadi membeku di pipa meskipun di luar temperatur drop.

Cara lain adalah dengan membuat bio-enhanced buatan, yaitu
menginjeksikan mikroba pemakan lilin. Atau, dengan injeksi uap/mikroba
seperti pernah dicoba di lapangan2 di Sumatra Tengah.

Bila ada minyaknya, kelihatannya minyak Antarktika tak akan parafinik,
mungkin tipe yang diproduksi dari marine algae yang miskin lilin.
Penyumbatan karena pembekuan lebih gampang diatasi daripada penyumbatan
kimiawi karena kandungan lilin/parafin.

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: Riyadi, Slamet S [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, May 18, 2006 2:37 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Heavy Oil Fields in Indonesia

Delete------

This message and any attached files may contain information that is 
confidential and/or subject of legal privilege intended only for use by the 
intended recipient. If you are not the intended recipient or the person 
responsible for delivering the message to the intended recipient, be advised 
that you have received this message in error and that any dissemination, 
copying or use of this message or attachment is strictly forbidden, as is the 
disclosure of the information therein. If you have received this message in 
error please notify the sender immediately and delete the message.

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke