Wah ... thanks Kang ADB.
Saya baru sedikit "ngeh" sekarang ....
Jadi BPMIGAS dan Ditjen MIGAS itu ndak ada hubungan langsung ya ?

rdp

On 5/23/06, Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Vick,...
tentu saja orang BPMIGAS enggan disebut pegawai Departemen ESDM Ditjen
Migas, karena memang lembaganya beda. Masing2 bosnya (Pak Kardaya dan Pak
Purnomo) sama-sama langsung lapor ke Presiden. Kepala BPMIGAS tidak
melapor
ke Menteri ESDM (apalagi ke DitJen Migas).

Satu lagi Vick,.. kesanku: sampeyan mengidentik-kan "reformasi" dengan
penyatuan kelembagaan BPMIGAS dengan Ditjen MIGAS.
Fakta yang aku lihat justru: "reformasi" (baca: tuntutan IMF)
mengharuskan:
1. Pertamina dipisahkan dari fungsi MPS-nya
2. Pertamina diperlakukan sama dengan KPS-KPS lain
3. Fungsi MPS dilakukan oleh badan baru namanya BPMigas
4. Fungsi regulasi "masih" dilakukan oleh Ditjen Migas

salam

adb


From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, May 23, 2006 12:56 PM
Subject: [iagi-net-l] BPMIGAS dan Ditjen MIGAS


Problem penyatuan kelembagaan.

Saya kok masih sering merasa (moga-moga perasaan saya saja) mengapa orang
BPMIGAS selalu enggan disebut sebagai pegawai Dept. MIGAS ?
Apakah karena BPMIGAS dahulunya kebanyakan ex-pegawai Pertamina, sedangkan
Ditjen Migas hanyalah pegawai negeri. ?
Sehingga kesan saya adanya proses tarik-ulur dan saling tolak dalam hal
wewenang dan tanggung jawab. Penyatuan lembaga ini sangat penting
tentunya.
Saya yang merasa di "pihak luar" kadangkala heran dan kebingungan dengan
hal
yang seperti ini.

Saya sendiri menyadari. Reformasi (reform-perubahan) memang memerlukan
waktu
tidak bisa instant, dan saya rasa proses "penyatuan" ini juga akan memakan
waktu. Tentunya diperlukan keterbukaan semua pihak yg terkait baik
BPMIGAS,
Ditjen Migas serta kita-kita juga ketika berhubungan dengan pengusahaan
migas.

Saya rasa nantipun kalau sudah ada Badan Geologi Nasional juga akan
memiliki
problem senada antara P3G, LIPI, Bakosurtanal, BMG dll kalau dilebur dalam
satu organisasi tunggal kebumian. Saya inget kang ADB dulu ketika ditawari
membidani BGN sangat ragu-ragu. Tetapi kalau melihat perkembangannya
sebenernya arah perubahan dan peleburan ini sudah menunjukkan kemajuan
bagus. Dan saya rasa sudah dalam "track" penyatuan yg tepat. Semoga

Saya hanya ingin belajar dari perubahan-perubahan seperti ini. Mungkin
rekan-rekan yang berkecimpung angsung bisa "share
informations/knowledges/experiences" dengan timbulnya penyatuan
kelembagaan
di Indonesia ...

Mohon maaf bila tidak berkenan,
Salam,


How to win the game without breaking the rule --> make the new one !

Kirim email ke