>
  Rekans

  Memang sering "pengamatan kita terlepas", ada yang memperhatikan
  tidak ya Kompas Minggu 28/05/06  halaman - lima , disitu ada
  gambar salah satu anggota senior IAGI , rekan dan senior si Abah
  berlari  yaitu FX.Suyanto dan isteri di Lanud Adisucipto.
  Sy baru tahu setelah di-sms seorang rekan lain-nya.

  Nah ini kan pengamatan yang amat tidak cermat.

  Si-Abah

__________________________________________________________________________

  Bismillah, menyambung komentar mas Awang dan mas Vicky tentang PR yg
> masih terbengkalai bagi para ahli geologi Indonesia adalah bagaimana
> merangkum temuan2 selama ini dalam format tampilan statistik "popular"
> shg dimengerti masyarakat awam - untuk kemudian dirangkum dan
> dipublikasi ke media apa pun yg bisa menggapai seluruh lapisan
> masyarakat dari Presiden hingga wong cilik.
>
> Data dimaksud barangkali bisa mencakup:
> - data-data rekaman kegempaan (volc dan tectonic) di lapangan dalam
> 10-100 tahun terakhir
> - track record kapan terjadinya (shg bangsa ini bisa tahu apa iya kita
> pernah gak terkena bencana alam dalam setahun penuh atau bahkan lima
> tahun penuh? Ini yg mungkin petinggi bangsa perlukan shg hingga saat ini
> belum ada badan formal yg berwenang menyikapi krn kejadian nya toh
> jarang-walaupun besar sekalipun).
> - jumlah korban di tiap bencana
> - reaksi masyarakat dan pemerintah pasca bencana alam (sbg record sebaik
> apakah selama ini bangsa kita menyikapi bencana alam yang berulang kali
> terjadi...adakah perbaikan dari hari ke hari?)
> - disertai input bagi terbentuknya koordinasi lintas sektoral yg di
> "formalkan" - yang tidak bersifat reaktif ketika bencana terjadi saja.
>
> Insya Allah semakin terbuka hati semua pihak kalau bangsa kita ini harus
> siap "bersahabat" dengan bencana alam...oleh karenanya harus bersiap
> bagaimana menghadapinya - bukannya reaktif seperti selama ini terjadi
> berulang-ulang, memprihatinkan, dan yang menarik selalu dibumbui dengan
> rasa simpati sesaat dari segenap saudara dari seluruh pelosok negeri -
> yg lalu hilang bak buih di lautan setelah bbrp saat untuk dilupakan dan
> di reaktifkan lagi....
>
> Subhanallah, walau kita harus bersabar dengan bencana yang dikirimkan
> oleh Allah SWT kepada kita. Namun, Allah SWT pun insya Allah tidak ridha
> bila bangsa ini tidak pernah belajar memetik hikmah untuk belajar
> bagaimana cara bersiap diri sebaik mungkin jasmani dan rohani dlm
> menghadapi semua ini.
>
> Salam,
> Kun
>
> -----Original Message-----
> From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Monday, May 29, 2006 3:27 PM
> To: [email protected]; HAGI-Net; [EMAIL PROTECTED]
> Subject: RE: [iagi-net-l] Mengapa pengamatan kita terlepas ?
>
> Setiap gempa habis menewaskan ribuan saudara-saudara kita sebangsa dan
> setanah air, sedih sekali rasanya... Ini bencana geologi, dan kita
> menyebut diri kita ahli geologi ?!
>
> Apa yang bisa kita perbuat dengan prediksi/precaution/forecasting
> bencana yang satu ini ? Ingat selalu, ini tanggung jawab kita sebagai
> geologist yang telah memutuskan hidupnya untuk membaca alam. Sekalipun
> alam itu lembaran bukunya sudah hilang di sana-sini, sudah sobek, yang
> ada pun tintanya sudah kabur. Tetap saja, tak ada orang lain yang
> menekuni gempa selain geologist dan geophysicist. Jadi, harapan besar
> ditaruh kepada kita.
>
> Berminggu-minggu saudara2 kita menatapkan mukanya ke Merapi, kita semua
> juga mau tak mau melihat Merapi karena pemberitaannya yang sangat luas.
> Hm...tak disangka-sangka, dari balik punggung kita justru serangan
> datang saat saudara2 kita tak bersiap sedikitpun, saat masih menggeliat
> dari tidur yang lelap, dan dalam 57 detik saja 26.000 rumah diratakan
> Bumi. Miris melihat mayat2 kaku diangkut keluar dari puing-puing
> bangunan.
>
> Tak ada yang menduganya, tak ada geologist satu pun yang menduganya.
> Kita hanya tahu jalur selatan Jawa rawan gempa. Dan, penelitian
> kegempaan Jawa minimal sekali, kalah jauh dengan barat Sumatra. Berapa
> banyak survey geomarin dari berbagai negara pernah melintas di barat
> Sumatra, dan berapa banyak di selatan Jawa ? Perbandingannya jomplang.
>
> Setiap sehabis gempa kita belajar. Banyak paper ditulis sehabis tsunami
> Aceh. Para ahli geologi tersulut sesaat, tapi tak lama kemudian
> memudar...ini sudah karakter kitakah ?!
>
> Di mana di selatan Jawa tempat2 interplate coupling, seismic gap area,
> wilayah2 yang siap rupture dan menyemburkan malapetaka ke darat ? Tidak
> diketahui. Di barat Sumatra, hal ini diketahui di beberapa tempat. Di
> mana di selatan Jawa sesar-sesar yang bisa jadi "death line" saat
> terjadi estafet front rupture dari titik gempa ke daratan ? Ada, tetapi
> belum dipetakan dan diwaspadai. Sesar Opak salah satunya, Sesar
> Girindulu mungkin. Di mana di selatan Jawa yang bisa meredam gempa,
> tetapi di mana juga yang malah bisa memperkuat gempa ? Ini berhubungan
> dengan litologi penyusun. Bisa dibuat, tetapi belum dilakukan.
>
> Saat ini, gempa Yogya paling tidak memberikan pelajaran kepada kita :
> jangan lengah, selalu waspada, jangan terlepas lagi pengamatan kita, dan
> jangan hanya gaung di muka ke belakangnya memudar.
>
> Dan, ini, semua wilayah indentasi di selatan Jawa secara seismik bisa
> berbahaya; kalau ada sesar2 model Sesar Opak bisa berbahaya lagi.
> Wilayah2 seperti Kutowinangun-Kutoarjo-Purwodadi menjadi berbahaya sebab
> ia ada di sedimen lunak yang diapit dua masif karbonat (Sentolo dan
> Karangbolong). Pacitan boleh jadi berbahaya, tapi ia sempit dan
> didominasi batuan keras. Di Jawa Timur, yang berbahaya dari pelajaran
> Yogya ini adalah indentasi antara Lumajang-jember-Puger. Walaupun ada
> Nusa Barung sebagai barriernya, kalau episentrum terjadi di dekat Puger
> bagaimana, dan jelas indentasi di wilayah ini dibentuk sesar2 tegak
> utara-selatan. Tinggal dicari wilayah2 inter-plate coupling di depan
> daerah2 ini. Kalau ada, kapan kira2 pecah sebab laju kompresi dan slip
> vectornya saya pikir bisa diukur dengan GPS.
>
> Betul kata Pak Rovicky, masih banyak PR-nya, sementara kemampuan kita
> terbatas...
>
> Salam,
> awang
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Monday, May 29, 2006 1:42 PM
> To: [email protected]; HAGI-Net; [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [iagi-net-l] Mengapa pengamatan kita terlepas ?
>
> Gempa Yogyakarta menelan korban lebih dari 4000 nyawa manusia.
> Peristiwa ini sangat mengagetkan dan menggegerkan siapa saja.
> Bagaimana tidak, ketika semua mata tertuju pada Gunung Merapi yag sedang
> bergejolak tiba-tiba sebuah daerah patahan (fault/rupture zone) bergetar
> dengan kekuatan 6.3 Skala Richter dengan kedalaman 10 Km
> (USGS) dengan daya rusak 6 hingga 7 skala MMI.
>
>  Zona patahan penyebab gempa.
>
>  Zona patahan (fault zone) ini sebenarnya sudah lama diketahui dan
> dipetakan oleh ahli-ahli geologi. Lembar peta yogyakarta yang
> diperbaharui dari peta-peta sebelumnya oleh Wartono (1995) juga sudah
> memetakan zona patahan ini. Hampir semua mahasiswa geologi di Yogyakarta
> mengenali patahan ini. Patahan ini memisahkan dataran tinggi Wonosari yg
> bagian teratasnya terdiri atas singkapan Batugamping Wonosari dengan
> dataran landai Yogyakarta yg merupakan kaki Gunung Merapi.
>
>  Mengapa pengamatan kita terlepas ?
>
>  Daerah ini sebelumnya dikenal daerah dikenal "aman" terhadap gempa
> bumi. Bahkan peta geologi teknik yg terbitkan oleh DGTL juga tidak
> menyebutkan bahya gempa ini.
> http://www.dgtl.esdm.go.id/peta_web/GT_YOGYA.html Bahaya-bahaya yg
> disebutkan dalam peta itu adalah bahaya kebencanaan geologi yang
> meliputi: bahaya letusan dan aliran lahar gunung Merapi, potensi lempung
> mengembang, dan kerentanan terhadap kejadian longsoran.
> Bencana bencana lain seolah terlewat dalam pemikiran.
>
>  Selama ini belum ada catatan sejarah dari gempa tektonik yang merusak
> di Yogyakarta. Sehingga bencana yg berhubungan dengan aktifitas Gunung
> Merapi lebih menyita perhatian dibandingkan bencana gempa. Gunung Merapi
> sangat sering menunjukkan aktifitasnya, bahkan menjadi sebuah Gunung Api
> teraktif di dunia. Ketiadaan catatan khusus mengenai gempa ini mungkin
> beberapa gempa yg terjadi dimasa lalu selalu dikaitkan dengan kegiatan
> Merapi, sehingga kebencanaan gempa di Yogyakarta tertutupi (overlooked).
>
>  Banyak bangunan-bangunan tua (lebih dari 300 tahun) yg berada di
> KotaGede serta Surakarta yang ikut roboh. Disini ada dua hal yg perlu
> diketahui, yaitu : bangunan tersebut barangkali memang sudah tua dan
> rapuh, dan yang kedua selama 350 tahun terakhir memang tidak tercatat
> adanya gempa merusak. Dan barangkali inilah pertanda mengapa kewaspadaan
> bahaya gempa tidak tercatat di daerah ini.
>
>  Ada pelajaran baru buat kita semua, tentusaja.
>  *    Sebuah patahan yg diperkirakan pasif (nonaktif) sangat mungkin
> menjadi aktif karena trigger-triger tertentu, mungkin saja Patahan Opak
> ini terpicu oleh aktifitas Gunung Merapi, atau juga saling mempengaruhi.
> Bahaya bencana alam dapat terjadi dimana-mana dan tidak disangka-sangka.
>  *    Perlu perubahan carapandang suatu daerah dengan memperhatikan
> potential desaster tidak hanya berdasarkan catatan sejarah (tertulis).
> Banyak rekaman-rekaman geologi yg harus dipelajari seperti rekaman gempa
> yg ada di batugamping terumbu yg usianya dalam jangka ribuan tahun.
>  *    Adanya beberapa patahan-patahan pasif yang paralel dan
> berpasangan dengan Patahan Opak ini yg perlu diperhatikan, misal Patahan
> Grindulu yg membentang sejajar dengan Patahan Opak dari daerah Pacitan
> kearah Timur-laut. Kajian sejarah kegempaan yang terekam dalam tanah
> berusia ribuan tahun sepangang sungai grindulu barangkali dapat membantu
> memerikan periodisasi kegempaan di daerah ini.
>
>  Masih banyak PeeR yang harus kita lakukan bersama.
>
> ---------------------------------------------------------------------
> -----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
> -----  Call For Papers until 26 May 2006
> -----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI
> Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara
> Mulia No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
> --
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.7.3/350 - Release Date: 5/28/2006
>
>
> --
> No virus found in this outgoing message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.7.3/350 - Release Date: 5/28/2006
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> -----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
> -----  Call For Papers until 26 May 2006
> -----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> -----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
> -----  Call For Papers until 26 May 2006
> -----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>



---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke