Tentu saja masyarakat Yogya dan sekitarnya akan menganggap bahwa gempa Yogya kemarin itu berhubungan dengan Merapi sebab telah berminggu2 ini mereka melihat Merapi bergiat. Dan, itulah yang kasat mata sehari-hari.
Tidak ada yang kasat mata terlihat di selatan Yogya bahwa 300 km dari Parangtritis di kedalaman 5000-7000 meter dua kerak batuan sesungguhnya sedang saling tindih-menindih, tekan-menekan. Dan, retakan akibat tekan-menekan itulah yang membangkitkan guncangan ke seantero Yogya dan sekitarnya Sabtu pagi lalu. Gawir Kali Opak sudah ada dari dulu, apa masyarakat Bambanglipuro, Jetis, dan wilayah2 Bantul lainnya yang sebelah-menyebelah dengan gawir itu tahu bahwa itu gawir sesar, gawir dua batas litologi yang sangat kontras, dan yang kemudian telah menjadi "garis kematian" menebar malapetaka ke sekitarnya ? Dari tahun 1970-an sampai sekarang, bahkan mungkin sejak zaman Bothe tahun 20-30an, para ahli geologi sudah tahu itu sesar, tetapi sekarang pun masyarakat di sekitarnya tak tahu itu sesar pembunuh. Tak ada yang memberitahukannya kepada mereka. Memang ada seminar geotechnical hazard di Yogya tepat sebulan sebelum bumi Yogyakarta dan sekitarnya diguncang gempa, tetapi itu terkunci di ruang seminar, atau dibawa yang hadir, dilihat-lihat lagi materinya sebentar dan...dilupakan ! Atau ada sosialisasi hasil seminar ke Pemda karena geotechnical hazard menyangkut hajat hidup orang banyak ? Bagus kalau ada, tetapi tak akan menjamin info sampai ke pelosok2. Dan...lagi-lagi kita lalu tertikam dari belakang oleh gempa ini. Perlu dipikirkan bagaimana caranya kita meneruskan info2 geotechnical hazard ini ke masyarakat sampai pelosok. Setiap mahasiswa atau ahli geologi yang melakukan pemetaan di pelosok2 yang mereka tahu rawan bencana geologi, mestinya menyosialisasikan penemuannya ke masyarakat di balai2 pertemuan dusun. Dan, mereka juga harus diperlengkapi dengan pengetahuan bagaimana tindakan tanggap darurat menghadapi bencana geologi dan bagaimana membangun di daerah rawan dengan mengikuti earthquake code of building. Geologist adalah ilmuwan pengabdi kemanusiaan, kita tak ingin hanya diskusi2 ilmiah di ruang seminar atau tumpukan tebal paper2. Salam, awang -----Original Message----- From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, May 30, 2006 7:15 AM To: Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI); [email protected] Subject: [iagi-net-l] Re: Mengapa pengamatan kita terlepas ? Wah trims infonya. Dan seperti yang saya duga bahwa hampir setiap gejala gempa di Jogja dan sekitarnya lebih diasosiasikan akibat aktifitas G Merapi. Tidak (belum) terpikirkan bahwa itu aktifitas tektonik aktif. Dan mungkin yang lebih menarik adalah bahwa adanya hubungan antara gempa tektonik dengan aktifitas G Merapi. Catatan yg dikemukakan Danny ini datingnya bisa jadi mirip dengan aktifitas G Merapi. Ini yg menjadi pelajaran dan barangkali "alert" buat G Merapi dalam dua minggu ini. Status Awas merapi mungkin masih perlu diteruskan. Dan bukan hal yang aneh kalau Gempa Jogja selama ini tidak dipikirkan akibat tektonik. Coba bayangkan 50 tahun yang lalu kalau ada gempa, siapa sih yg berpikir akibat aktifitas plate tectonik ? Lah wong teori plate tektonik saja belum lama kita kenal, kok. Mungkin saja kalau kejadian gempa ini terjadi 50 tahun yang lalu orang masih berpikiran adanya pertempuran penjaga Merapi dengan Penjaga Laut kidul ..... bahkan sekarang masih ada yg berpikir begitu. Btw, info Danny ini perlu ditindak lanjuti untuk melihat hubungan antara Merapi dengan kegempaan tektonik di Jawa (khususnya Merapi). Salam RDP > > -----Original Message----- > From: Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) > [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Hery Harjono > Sent: Monday, May 29, 2006 9:04 PM > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: Re: [HAGI-Network] Mengapa pengamatan kita terlepas ? > > Info u/ mas Rovicky, > Jogja pernah dilanda gempa hebat tahun 1867. Bisa jadi sebelum itu juga > ada.=20 > danny Hilman pada tanggal 25 April di Jogjakarta kebetulan > mempresentasikan gempa 1867 ini pada International Symposium on > Geothechnical Hazard:=20 > Prevention, Mitigation and Engineering Response yang diselenggarakan > oleh LIPI, IAGI, CODATA dan Int. En. Geology Assoc. Terimakasih semoga > bermanfaat. > Salam, > Hery Harjono > > > ----- Original Message ----- > From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Monday, May 29, 2006 1:41 PM > Subject: [HAGI-Network] Mengapa pengamatan kita terlepas ? > > > Gempa Yogyakarta menelan korban lebih dari 4000 nyawa manusia. > Peristiwa ini sangat mengagetkan dan menggegerkan siapa saja. > Bagaimana tidak, ketika semua mata tertuju pada Gunung Merapi yag > sedang bergejolak tiba-tiba sebuah daerah patahan (fault/rupture zone) > bergetar dengan kekuatan 6.3 Skala Richter dengan kedalaman 10 Km > (USGS) dengan daya rusak 6 hingga 7 skala MMI. > > Zona patahan penyebab gempa. > > Zona patahan (fault zone) ini sebenarnya sudah lama diketahui dan > dipetakan oleh ahli-ahli geologi. Lembar peta yogyakarta yang > diperbaharui dari peta-peta sebelumnya oleh Wartono (1995) juga sudah > memetakan zona patahan ini. Hampir semua mahasiswa geologi di > Yogyakarta mengenali patahan ini. Patahan ini memisahkan dataran > tinggi Wonosari yg bagian teratasnya terdiri atas singkapan > Batugamping Wonosari dengan dataran landai Yogyakarta yg merupakan > kaki Gunung Merapi. > > Mengapa pengamatan kita terlepas ? > > Daerah ini sebelumnya dikenal daerah dikenal "aman" terhadap gempa > bumi. Bahkan peta geologi teknik yg terbitkan oleh DGTL juga tidak > menyebutkan bahya gempa ini. > http://www.dgtl.esdm.go.id/peta_web/GT_YOGYA.html Bahaya-bahaya yg > disebutkan dalam peta itu adalah bahaya kebencanaan geologi yang > meliputi: bahaya letusan dan aliran lahar gunung Merapi, potensi > lempung mengembang, dan kerentanan terhadap kejadian longsoran. > Bencana bencana lain seolah terlewat dalam pemikiran. > > Selama ini belum ada catatan sejarah dari gempa tektonik yang merusak > di Yogyakarta. Sehingga bencana yg berhubungan dengan aktifitas Gunung > Merapi lebih menyita perhatian dibandingkan bencana gempa. Gunung > Merapi sangat sering menunjukkan aktifitasnya, bahkan menjadi sebuah > Gunung Api teraktif di dunia. Ketiadaan catatan khusus mengenai gempa > ini mungkin beberapa gempa yg terjadi dimasa lalu selalu dikaitkan > dengan kegiatan Merapi, sehingga kebencanaan gempa di Yogyakarta > tertutupi (overlooked). > > Banyak bangunan-bangunan tua (lebih dari 300 tahun) yg berada di > KotaGede serta Surakarta yang ikut roboh. Disini ada dua hal yg perlu > diketahui, yaitu : bangunan tersebut barangkali memang sudah tua dan > rapuh, dan yang kedua selama 350 tahun terakhir memang tidak tercatat > adanya gempa merusak. Dan barangkali inilah pertanda mengapa > kewaspadaan bahaya gempa tidak tercatat di daerah ini. > > Ada pelajaran baru buat kita semua, tentusaja. > * Sebuah patahan yg diperkirakan pasif (nonaktif) sangat mungkin > menjadi aktif karena trigger-triger tertentu, mungkin saja Patahan > Opak ini terpicu oleh aktifitas Gunung Merapi, atau juga saling > mempengaruhi. Bahaya bencana alam dapat terjadi dimana-mana dan tidak > disangka-sangka. > * Perlu perubahan carapandang suatu daerah dengan memperhatikan > potential desaster tidak hanya berdasarkan catatan sejarah (tertulis). > Banyak rekaman-rekaman geologi yg harus dipelajari seperti rekaman > gempa yg ada di batugamping terumbu yg usianya dalam jangka ribuan > tahun. > * Adanya beberapa patahan-patahan pasif yang paralel dan > berpasangan dengan Patahan Opak ini yg perlu diperhatikan, misal > Patahan Grindulu yg membentang sejajar dengan Patahan Opak dari daerah > Pacitan kearah Timur-laut. Kajian sejarah kegempaan yang terekam dalam > tanah berusia ribuan tahun sepangang sungai grindulu barangkali dapat > membantu memerikan periodisasi kegempaan di daerah ini. > > Masih banyak PeeR yang harus kita lakukan bersama. > > ------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------ > > ------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------ > > ------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------ > -- How to win the game without breaking the rule --> make the new one ! -- No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.7.3/350 - Release Date: 5/28/2006 -- No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.7.4/351 - Release Date: 5/29/2006 --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

