Berkaitan dengan penjelasan atau sosialisasi tentang
bencana geologi kepada masyarakat, pengalaman yang
saya alami mengajarkan bahwa ada masalah yang sangat
sulit dipahami oleh masyarakat umum tentang Waktu
Geologi dan Proses Geologi. Keduanya sangat abstrak,
dan sulit dipahami. Kedua hal tersebut menyebabkan
masyarakat menjadi tidak peduli dengan bencana geologi
yang belum pernah mereka alami sendiri.

Masalah seruan mengungsi dari bahaya dari erupsi gunug
Merapi bisa menjadi contoh. Bagi masyarakat Turgo yang
pernah mengalami dilanda awan panas, seruan untuk
mengungsi akan serta merta ditaati (karena mereka
pernah mengalami hal itu sebelumnya); sementara bagi
masyarakat daerah lain, mereka masih berpikir bahwa
awan panas belum pernah mereka alami melanda daerah
mereka sehingga sulit sekali meminta mereka mengungsi.

Pemerintah pun demikian. Sebelum tsunami di aceh,
berbicara masalah bahaya tsunami rasanya seperti
membicarakan suatu dongeng. tetapi sekarang, setelah
bencana tsunami itu benar-benar terjadi, persoalannya
menjadi lain.

Masalah gempa di yogya juga demikian. Di tahun 1970-an
akhir, ketika saya melihat saudara yang membangun
rumah tanpa tulang besi dan mempertanyakannya, hal itu
dikatakan "ngak apa". tetapi barang kali sekarang,
setelah melihat banyak bangunan tanpa tulang roboh
karena gempa, mungkin akan lebih mudah berbicara
masalah itu.

Apakah karakter masyarakat kita memang demikian? Harus
mengalami dahulu baru percaya?
Atau kita (yang paham geologi) tidak memiliki bahasa
yang mudah dipahami masyarakat?

Salam,
WBS

--- Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Tentu saja masyarakat Yogya dan sekitarnya akan
> menganggap bahwa gempa Yogya kemarin itu berhubungan
> dengan Merapi sebab telah berminggu2 ini mereka
> melihat Merapi bergiat. Dan, itulah yang kasat mata
> sehari-hari. 
> 
> Tidak ada yang kasat mata terlihat di selatan Yogya
> bahwa 300 km dari Parangtritis di kedalaman
> 5000-7000 meter dua kerak batuan sesungguhnya sedang
> saling tindih-menindih, tekan-menekan. Dan, retakan
> akibat tekan-menekan itulah yang membangkitkan
> guncangan ke seantero Yogya dan sekitarnya Sabtu
> pagi lalu. 
> 
> Gawir Kali Opak sudah ada dari dulu, apa masyarakat
> Bambanglipuro, Jetis, dan wilayah2 Bantul lainnya
> yang sebelah-menyebelah dengan gawir itu tahu bahwa
> itu gawir sesar, gawir dua batas litologi yang
> sangat kontras, dan yang kemudian telah menjadi
> "garis kematian" menebar malapetaka ke sekitarnya ?
> Dari tahun 1970-an sampai sekarang, bahkan mungkin
> sejak zaman Bothe tahun 20-30an, para ahli geologi
> sudah tahu itu sesar, tetapi sekarang pun masyarakat
> di sekitarnya tak tahu itu sesar pembunuh. Tak ada
> yang memberitahukannya kepada mereka.
> 
> Memang ada seminar geotechnical hazard di Yogya
> tepat sebulan sebelum bumi Yogyakarta dan sekitarnya
> diguncang gempa, tetapi itu terkunci di ruang
> seminar, atau dibawa yang hadir, dilihat-lihat lagi
> materinya sebentar dan...dilupakan ! Atau ada
> sosialisasi hasil seminar ke Pemda karena
> geotechnical hazard menyangkut hajat hidup orang
> banyak ? Bagus kalau ada, tetapi tak akan menjamin
> info sampai ke pelosok2. Dan...lagi-lagi kita lalu
> tertikam dari belakang oleh gempa ini.
> 
> Perlu dipikirkan bagaimana caranya kita meneruskan
> info2 geotechnical hazard ini ke masyarakat sampai
> pelosok. Setiap mahasiswa atau ahli geologi yang
> melakukan pemetaan di pelosok2 yang mereka tahu
> rawan bencana geologi, mestinya menyosialisasikan
> penemuannya ke masyarakat di balai2 pertemuan dusun.
> Dan, mereka juga harus diperlengkapi dengan
> pengetahuan bagaimana tindakan tanggap darurat
> menghadapi bencana geologi dan bagaimana membangun
> di daerah rawan dengan mengikuti earthquake code of
> building.
> 
> Geologist adalah ilmuwan pengabdi kemanusiaan, kita
> tak ingin hanya diskusi2 ilmiah di ruang seminar
> atau tumpukan tebal paper2.
> 
> Salam,
> awang
> -----Original Message-----
> From: Rovicky Dwi Putrohari
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Tuesday, May 30, 2006 7:15 AM
> To: Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI);
> [email protected]
> Subject: [iagi-net-l] Re: Mengapa pengamatan kita
> terlepas ?
> 
> Wah trims infonya.
> Dan seperti yang saya duga bahwa hampir setiap
> gejala gempa di Jogja dan
> sekitarnya lebih diasosiasikan akibat aktifitas G
> Merapi. Tidak (belum)
> terpikirkan bahwa itu aktifitas tektonik aktif. Dan
> mungkin yang lebih
> menarik adalah bahwa adanya hubungan antara gempa
> tektonik dengan aktifitas
> G Merapi. Catatan yg dikemukakan Danny ini datingnya
> bisa jadi mirip dengan
> aktifitas G Merapi. Ini yg menjadi pelajaran dan
> barangkali "alert" buat G
> Merapi dalam dua minggu ini. Status Awas merapi
> mungkin masih perlu
> diteruskan.
> 
> Dan bukan hal yang aneh kalau Gempa Jogja selama ini
> tidak dipikirkan akibat
> tektonik. Coba bayangkan 50 tahun yang lalu kalau
> ada gempa, siapa sih yg
> berpikir akibat aktifitas plate tectonik ? Lah wong
> teori plate tektonik
> saja belum lama kita kenal, kok. Mungkin saja kalau
> kejadian gempa ini
> terjadi 50 tahun yang lalu orang masih berpikiran
> adanya pertempuran penjaga
> Merapi dengan Penjaga Laut kidul ..... bahkan
> sekarang masih ada yg berpikir
> begitu.
> 
> Btw, info Danny ini perlu ditindak lanjuti untuk
> melihat hubungan antara
> Merapi dengan kegempaan tektonik di Jawa (khususnya
> Merapi).
> 
> Salam
> 
> RDP
> 
> 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke